Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, menyebut kenaikan ini berkaitan dengan meningkatnya permintaan akibat program makan bergizi gratis (MBG) yang memasukkan telur sebagai salah satu lauk utama.
"Telur ayam ras menarik karena kenaikan harga dipengaruhi oleh permintaan meningkat sebagai komponen menu MBG," kata Amalia dalam rapat koordinasi pengendalian inflasi daerah 2025 yang disiarkan melalui YouTube Kemendagri, Senin (17/11/2025).
Secara rata-rata nasional, harga telur ayam ras naik 0,32% dari Oktober 2025, mencapai Rp31.646 per kilogram.
Angka ini berada di atas Harga Acuan Penjualan (HAP) yang ditetapkan sebesar Rp30.000 per kilogram.
Selain permintaan MBG, Amalia menambahkan, kenaikan harga juga dipengaruhi faktor distribusi dan stok yang tidak stabil.
Hambatan pasokan dari wilayah penghasil ke wilayah non-sentra produksi turut menimbulkan fluktuasi harga.
Di beberapa daerah, harga telur ayam ras bahkan menembus level tertinggi.
Kabupaten Mamberamo Tengah mencatat harga Rp100.000 per kilogram, diikuti Kabupaten Puncak Jaya dan Kabupaten Intan Jaya di level Rp90.000 per kilogram. S
ementara harga terendah tercatat Rp23.320 per kilogram.
Meski demikian, Amalia menekankan, situasi ini menjadi peluang bagi pelaku usaha untuk memenuhi permintaan yang meningkat, terutama bagi kebutuhan MBG.
"Peningkatan harga telur ayam ras harus diimbangi ketersediaan stok agar kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi," ujarnya.
Kenaikan harga ini menjadi perhatian penting bagi pengendalian inflasi dan stabilitas harga pangan nasional.*
(bi/ad)
Editor
: Adam
BPS Catat Harga Telur Ayam Ras Tembus Rp31.646 per Kg, Dipicu Program MBG