Tambahan produksi ini melampaui target Work Program & Budget (WP&B) 2026 yang dipatok hanya 400 barel per hari.
Kenaikan produksi berasal dari optimalisasi dua sumur dengan karakteristik High Pour Point Oil (HPPO), jenis minyak yang mudah memadat ketika suhu pipa turun di bawah titik tuangnya.
Karakteristik ini selama ini menjadi tantangan utama dalam pengelolaan lapangan migas tua di wilayah kerja Mahakam.
Untuk mengatasi hambatan aliran, PHM menerapkan inovasi chemical treatment berupa Pour Point Depressant (PPD).
Teknologi ini mampu menurunkan titik tuang minyak hingga 21 derajat Celsius, sehingga aliran minyak tetap terjaga dan distribusi melalui pipa produksi berlangsung optimal.
Senior Manager Production PHM, Robert Roy Antoni, mengatakan keberhasilan tersebut menunjukkan konsistensi perusahaan dalam menghadapi tantangan teknis lapangan.
"Kompleksitas sumur yang meningkat tidak mengurangi komitmen kami untuk menjaga kinerja produksi," ujarnya dalam keterangan tertulis.
Hal senada disampaikan General Manager PHM, Setyo Sapto Edi.
Ia menilai capaian ini menjadi bukti kompetensi teknis tim dalam mengelola lapangan migas mature dengan pendekatan inovatif.
Dengan tambahan produksi dari sumur HPPO dan sejumlah sumur beremulsi lainnya, rata-rata produksi minyak PHM kini mencapai sekitar 25 ribu barel per hari.
Angka tersebut sekitar 20 persen lebih tinggi dari target pemerintah.