"Ngga ada kita impor ayam maupun beras. Beras kita sudah surplus 4,2 juta ton tahun 2025. Tahun ini produksinya diperkirakan akan jauh lebih tinggi," ujar Zulhas saat menghadiri buka bersama Fraksi PAN di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (26/2/2026).
Zulhas menambahkan, surplus beras Indonesia akan dimanfaatkan untuk ekspor perdana ke Arab Saudi pada 28 Februari 2026 dengan volume 2.280 ton. Ia meyakini tren surplus ini akan terus berlanjut di tahun-tahun mendatang.
"Sehingga untuk sementara, bahkan ke depan, kita akan terus surplus. Produksi beras dan jagung meningkat, dan tahun ini akan dibangun secara besar-besaran swasembada protein seperti ikan, ayam, dan telur," tambah Ketua Umum PAN tersebut.
Peningkatan Produksi Protein Nasional
Selain beras, pemerintah menargetkan pembangunan pabrik pakan ternak dan fasilitas pembibitan DOC (day old chick) di enam daerah, termasuk Lampung dan Malang, untuk meningkatkan produksi protein nasional.
Zulhas menegaskan pembangunan ini bertujuan memenuhi kebutuhan protein masyarakat tanpa mengandalkan impor.
"Kita akan membangun 2.000 kampung nelayan dan 20.000 hektar tambak tahun ini untuk mendukung ketahanan protein. Semua harus berjalan dengan baik, baik ayam maupun ikan," katanya.
Impor dari AS Tidak Mengganggu Produksi Lokal
Sebelumnya, pemerintah menekankan bahwa perjanjian dagang Indonesia dengan AS tidak akan memengaruhi produksi pertanian dalam negeri.
Tenaga Ahli Utama Bakom RI, Fithra Faisal Hastiadi, menegaskan produk impor dari AS bersifat terbatas dan tidak bersinggungan langsung dengan produksi lokal.
"Jumlah beras yang dibeli dari AS sangat terbatas dan tidak mengganggu pemasaran beras petani lokal. Komitmen ini aman untuk produksi nasional," jelasnya.
Dengan langkah ini, pemerintah menegaskan posisi Indonesia sebagai negara swasembada beras sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional di tengah dinamika perdagangan internasional.*