JAKARTA - Nilai tukar rupiah pada perdagangan Rabu (11/3/2026) pagi menguat tipis ke posisi Rp16.852 per dolar AS, terdorong sentimen eksternal dari turunnya harga minyak dan pelemahan indeks dolar AS.
Pada pembukaan pasar, rupiah sempat bergerak di level Rp16.860/US$ dan menutup sesi pagi dengan penguatan sebesar 0,05%.
Sementara itu, indeks dolar AS melemah ke 98,82 setelah sempat dibuka di posisi 98,93, menandakan tekanan terhadap mata uang Amerika mulai berkurang.
"Pergerakan rupiah hari ini menunjukkan pasar masih berhati-hati. Penguatan tipis mencerminkan investor belum sepenuhnya keluar dari mode defensif," ujar pengamat pasar keuangan.
Sentimen positif datang dari turunnya harga minyak Brent yang berada di US$87,97 per barel, turun dari US$90,40 pagi tadi.
Penurunan harga minyak ini dipicu oleh kabar potensi pelepasan cadangan minyak oleh negara-negara anggota International Energy Agency (IEA).
Kondisi ini memberi ruang bagi penguatan mata uang Asia, termasuk rupiah, yang menempati posisi ketiga setelah dolar Taiwan dan yuan offshore China.
Meski demikian, pasar masih diwarnai ketidakpastian akibat isu konflikIran dan laporan yang simpang siur dari Menteri Energi AS terkait pengawalan kapal tanker minyak melewati Selat Hormuz.
"Investor masih menunggu kejelasan arah konflik dan respons negara produsen minyak serta lembaga internasional untuk menjaga stabilitas pasokan energi global," tambahnya.
Penguatan rupiah yang relatif tipis ini menunjukkan bahwa pasar domestik masih sensitif terhadap harga minyak dan situasi geopolitik.
Jika harga minyak bertahan di bawah US$90 per barel, tekanan terhadap rupiah diprediksi mereda.
Namun, jika konflik memicu kenaikan harga minyak, volatilitas pasar keuangan domestik berpotensi meningkat.*