Selain itu, unit usaha koperasi juga berkembang dari yang semula hanya pangkalan gas bersubsidi menjadi usaha penjualan sembako, pupuk bersubsidi, hingga layanan transaksi perbankan melalui BRILink.
"Koperasi ini masih mandiri. Modal utama berasal dari simpanan pokok anggota sebesar Rp300 ribu per orang dan simpanan wajib Rp25 ribu per bulan. Saat ini omzet kami berkisar Rp1 hingga Rp3 juta per hari," ujar Ummi.
Ia mengatakan salah satu tantangan yang dihadapi pengurus adalah sistem pencatatan laporan keuangan yang masih dilakukan secara manual.
Ke depan, pihaknya berharap pengelolaan koperasi dapat menggunakan sistem digital agar anggota dapat memantau transaksi dan sisa hasil usaha (SHU) secara lebih transparan.
Sementara itu, Kepala Desa Medan Krio, Raja Chairul Azmi, mengatakan desa tersebut memiliki luas sekitar 8.000 hektare dengan sekitar 300 hektare di antaranya merupakan lahan pertanian.
Kondisi tersebut dinilai mendukung pengembangan usaha koperasi, terutama dalam penyaluran pupuk bersubsidi.
Ia menambahkan pembangunan fisik koperasi saat ini masih berlangsung. Lahan koperasi seluas sekitar 1.400 meter persegi merupakan milik desa, dan proses pembangunan telah mencapai sekitar 80 persen.
"Ditargetkan sebelum Idulfitri 2026 pembangunan sudah selesai," kata Raja.
Salah satu anggota koperasi, Sri Wahyuni, mengaku merasakan manfaat langsung setelah bergabung sebagai anggota.
Ia mengatakan harga sejumlah kebutuhan pokok di koperasi relatif lebih murah dibandingkan di pasaran.
"Gas 3 kilogram di luar biasanya Rp17-18 ribu, di sini Rp16 ribu. Beras SPHP juga lebih murah. Pelayanannya juga baik, bahkan kalau beli gas langsung dibantu diantar ke sepeda motor," ujarnya.*