Ia menegaskan, saat banyak negara mengalami gangguan distribusi, Indonesia justru berada dalam kondisi relatif aman berkat kesiapan dan pengelolaan industri pupuk nasional.
"Di saat banyak negara menghadapi gangguan pasokan, Indonesia justru berada dalam posisi relatif aman," kata Hashim dalam keterangan tertulis, Sabtu (2/5/2026).
Hashim juga menyebut sejumlah negara mulai melirik Indonesia sebagai pemasok pupuk, khususnya jenis urea. Bahkan, beberapa negara tetangga telah mengajukan permintaan impor dalam jumlah besar.
"Kita beruntung karena kerja keras dan persiapan dari jajaran Pupuk Indonesia. Banyak negara tetangga kita yang meminta," ujarnya.
Menurut Hashim, Australia disebut berencana mengimpor 250 ribu ton urea dari Indonesia. Sementara India membutuhkan hingga 500 ribu ton, disusul beberapa negara lain yang turut menyampaikan permintaan serupa.
"Ini menunjukkan bahwa Indonesia dalam hal urea kita cukup beruntung," tambahnya.
Sementara itu, Direktur Utama PT Pupuk IndonesiaRahmad Pribadi menegaskan peran Indonesia sebagai stabilisator pasokan pupuk di kawasan tidak terlepas dari dukungan kebijakan pemerintah.
Ia menyebut pupuk merupakan critical agro-input yang sangat menentukan produktivitas sektor pertanian.
"Tanpa pupuk, tentu kita tidak bisa berbicara produktivitas pertanian," kata Rahmad.
Ia menjelaskan, pemerintah telah memperkuat tata kelola pupuk melalui Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 6 Tahun 2025 yang kemudian diperbarui menjadi Perpres Nomor 113 Tahun 2025, termasuk penjaminan ketersediaan dan keterjangkauan pupuk bagi petani.
Rahmad menegaskan bahwa ketahanan pangan sangat bergantung pada dua hal utama, yakni ketersediaan dan distribusi pupuk yang tepat sasaran.