BREAKING NEWS
Selasa, 26 Mei 2026

Prabowo: Indonesia Tak Boleh Jadi Bangsa yang Takut Dolar dan Krisis BBM

Raman Krisna - Rabu, 20 Mei 2026 12:29 WIB
Prabowo: Indonesia Tak Boleh Jadi Bangsa yang Takut Dolar dan Krisis BBM
Presiden RI Prabowo Subianto saat memaparkan KEM-PPKF RAPBN 2027 dalam rapat paripurna DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu, 20 Mei 2026. (foto: Setpres/yt)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

JAKARTA - Presiden RI Prabowo Subianto menegaskan Indonesia tidak boleh menjadi bangsa yang terus dihantui ketakutan terhadap gejolak ekonomi global, mulai dari fluktuasi kurs dolar Amerika Serikat hingga ancaman krisis bahan bakar minyak (BBM).

Pernyataan itu disampaikan Prabowo saat memaparkan Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) RAPBN 2027 dalam rapat paripurna DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu, 20 Mei 2026.

Dalam pidatonya, Prabowo menyoroti kondisi ekonomi Indonesia yang dinilai paradoksal.

Baca Juga:

Selama tujuh tahun terakhir, ekonomi nasional disebut tumbuh stabil di kisaran 5 persen per tahun.

Namun di sisi lain, angka kemiskinan justru meningkat dan jumlah kelas menengah mengalami penyusutan.

Menurut Prabowo, kondisi tersebut menunjukkan ada persoalan mendasar dalam arah pembangunan ekonomi nasional yang selama ini dijalankan.

"Kalau sistem ini diteruskan, kemungkinan besar kita akan menjadi bangsa yang lemah, bangsa yang selalu takut. Takut kurs dolar, takut BBM enggak cukup, takut ini, takut itu," kata Prabowo dalam pidatonya.

Presiden menilai Indonesia seharusnya memiliki fondasi ekonomi yang kuat karena didukung sumber daya alam melimpah dan neraca perdagangan yang selama ini cenderung surplus.

Ia menegaskan Indonesia sebenarnya tidak pernah kalah dalam perdagangan internasional karena nilai ekspor lebih besar dibandingkan impor.

"Kalau ilmu dagang, berarti yang kita jual lebih banyak dari yang kita beli. Harusnya negara ini tidak pernah mengalami krisis ekonomi," ujarnya.

Prabowo juga menyinggung rendahnya rasio penerimaan negara terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia yang masih berada di kisaran 11 persen pada 2024.

Angka itu dinilai tertinggal dibanding sejumlah negara lain seperti Meksiko, Filipina, India, hingga Kamboja.

Karena itu, pemerintah disebut tengah menyiapkan berbagai kebijakan strategis untuk memperkuat kedaulatan ekonomi nasional, termasuk penguatan tata kelola perdagangan dan pengawasan arus devisa hasil ekspor.

Menurut Prabowo, kekayaan alam Indonesia seharusnya mampu menjadi modal utama untuk menciptakan kesejahteraan rakyat secara merata, bukan justru membuat bangsa terus bergantung dan rentan terhadap tekanan global.

Ia pun mengajak seluruh elemen bangsa untuk berani melakukan evaluasi terhadap arah pembangunan ekonomi nasional agar pertumbuhan ekonomi benar-benar berdampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat.*


(bi/ad)

Editor
: Abyadi Siregar
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Prabowo Beberkan Cetak Biru APBN 2027, Ekonomi Ditargetkan Tumbuh hingga 6,5 Persen
Prabowo Kaget Ekonomi RI Tumbuh 35 Persen, Tapi Kemiskinan Justru Naik: Saya Seperti Dipukul di Ulu Hati
Prabowo Wajibkan Ekspor Minyak Sawit dan Batu Bara Lewat BUMN, Devisa Rp1.100 Triliun Jadi Sorotan
Prabowo: APBN Bukan Sekadar Dokumen, Melainkan Alat Melindungi Rakyat
Prabowo Target Bangun 5.000 Desa Nelayan dalam Tiga Tahun, Janjikan Cold Storage dan SPBU Khusus
Polda Aceh Peringati Harkitnas ke-118, Tekankan Penguatan Generasi Muda di Era Digital
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru