Indonesia Bakal Produksi Bensin dari Sawit, Jagung, hingga Singkong dalam 3-4 Tahun
JAKARTA Presiden Prabowo Subianto menargetkan Indonesia mampu memproduksi bahan bakar minyak (BBM) jenis bensin berbasis tanaman dalam k
PERTANIAN AGRIBISNIS
JAKARTA – Rektor Universitas Paramadina, Prof. Didik J. Rachbini, menilai kepastian hukum merupakan salah satu faktor utama yang menentukan keberhasilan pembangunan ekonomi nasional.
Menurutnya, lemahnya tata kelola hukum dapat mengurangi kepercayaan investor sekaligus menghambat upaya pemerintah dalam mencapai target pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Pernyataan tersebut disampaikan Prof. Didik di Jakarta, Sabtu (11/7/2026), saat menanggapi dinamika yang berkembang terkait dugaan perkara yang menyeret Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Febrie Adriansyah serta hubungan antarlembaga penegak hukum.Baca Juga:
Menurut Prof. Didik, kualitas sistem hukum tidak hanya berpengaruh terhadap penegakan keadilan, tetapi juga menjadi fondasi penting bagi terciptanya iklim investasi dan dunia usaha yang sehat.
Ia menilai kepastian hukum memiliki peran yang sama pentingnya dengan modal, tenaga kerja, maupun teknologi dalam mendorong pertumbuhan ekonomi.
"Kasus yang berkembang dan dinamika antarlembaga penegak hukum menjadi cerminan penting bagi kondisi hukum kita. Jika kepastian hukum melemah, dampaknya bukan hanya terhadap kepercayaan masyarakat, tetapi juga terhadap dunia usaha dan investasi," ujar Prof. Didik.
Ia mengatakan target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8 persen akan sulit tercapai apabila dunia usaha masih dihadapkan pada ketidakpastian hukum.
Menurutnya, investor membutuhkan jaminan bahwa seluruh proses penegakan hukum berjalan secara profesional, independen, dan mampu memberikan kepastian bagi kegiatan usaha.
Dalam penjelasannya, Prof. Didik mengaitkan pandangannya dengan teori ekonomi kelembagaan yang dikemukakan peraih Nobel Ekonomi Ronald Coase melalui The Problem of Social Cost.
Ia menjelaskan bahwa sistem hukum yang kuat akan menekan biaya transaksi sehingga aktivitas ekonomi dapat berlangsung lebih efisien.
"Hukum yang baik sebagai institusi akan mengurangi biaya transaksi. Sebaliknya, hukum yang lemah meningkatkan biaya transaksi karena kepastian kontrak, perlindungan hak kepemilikan, hingga proses penyelesaian sengketa menjadi tidak efektif," jelasnya.
Menurutnya, meningkatnya biaya transaksi akibat lemahnya sistem hukum akan mengurangi daya tarik investasi dan memperlambat ekspansi dunia usaha.
JAKARTA Presiden Prabowo Subianto menargetkan Indonesia mampu memproduksi bahan bakar minyak (BBM) jenis bensin berbasis tanaman dalam k
PERTANIAN AGRIBISNIS
JAKARTA Pemerintah terus mendorong perluasan peran koperasi agar tidak hanya bergerak di sektor simpan pinjam dan perdagangan, tetapi ju
EKONOMI
JAKARTA Presiden Prabowo Subianto menegaskan keyakinannya bahwa Indonesia memiliki potensi besar untuk bangkit dan menjadi negara yang s
NASIONAL
JAKARTA Persaingan ponsel pintar di kelas harga Rp1 jutaan semakin ketat pada 2026. Jika sebelumnya pengguna harus berkompromi dengan sp
SAINS DAN TEKNOLOGI
JAKARTA Presiden Prabowo Subianto menetapkan kebijakan baru terkait penyaluran barang bersubsidi. Pemerintah mewajibkan seluruh barang s
EKONOMI
JAKARTA Presiden Prabowo Subianto melontarkan peringatan keras kepada pihakpihak yang melakukan praktik korupsi di lingkungan badan usa
NASIONAL
JAKARTA Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan Senin (13/7/2026) dengan pergerakan negatif. Indeks saham nasional dibu
EKONOMI
JAKARTA Direktorat Jenderal Imigrasi melakukan pencegahan ke luar negeri terhadap mantan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsu
HUKUM DAN KRIMINAL
BATU BARA Dimulainya tahun ajaran baru 2026 di seluruh Indonesia disambut gembira oleh para pelajar yang kembali mengikuti kegiatan bela
EKONOMI
MEDAN Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas mengajak masyarakat menjadikan semangat olahraga sebagai energi baru dalam membangun Kota
OLAHRAGA