BREAKING NEWS
Sabtu, 18 Juli 2026

Investasi RI Tembus Rp1.010 Triliun, Ekonom Ungkap Tantangan Baru Pemerintah di Semester II 2026

Adelia Syafitri - Sabtu, 18 Juli 2026 19:00 WIB
Investasi RI Tembus Rp1.010 Triliun, Ekonom Ungkap Tantangan Baru Pemerintah di Semester II 2026
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM sekaligus Kepala BPI Danantara Rosan Perkasa Roeslani, di Ruang Sidang Kabinet, Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, pada Kamis, 16 Juli 2026 usai diterima Presiden Prabowo Subianto. (Foto: BPMI Setpres)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

JAKARTA - Realisasi investasi Indonesia pada semester I 2026 dinilai menunjukkan bahwa daya tarik ekonomi nasional masih tetap terjaga di tengah ketidakpastian ekonomi global. Meski demikian, pemerintah kini menghadapi tantangan baru untuk memastikan investasi yang masuk dapat segera berubah menjadi proyek produktif yang memberikan dampak bagi pertumbuhan ekonomi.

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef) M Rizal Taufikurahman mengatakan, capaian investasi semester pertama menjadi sinyal positif bagi perekonomian Indonesia. Berdasarkan laporan Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, realisasi investasi periode tersebut mencapai Rp1.010,6 triliun atau sekitar 49,5 persen dari target investasi tahun 2026.

"Namun, tantangan pada semester II bukan lagi menarik komitmen investasi, melainkan memastikan investasi tersebut segera direalisasikan menjadi proyek yang produktif," ujar Rizal, Sabtu (18/7/2026).

Baca Juga:

Menurutnya, pemerintah perlu mempercepat pelaksanaan berbagai proyek investasi melalui penyederhanaan perizinan, kepastian regulasi, pembangunan infrastruktur, serta penyelesaian berbagai kendala yang masih terjadi di lapangan.

Rizal menilai investasi tidak cukup hanya dilihat dari besarnya nilai dana yang masuk, tetapi juga harus mampu meningkatkan kapasitas produksi nasional, menciptakan lapangan kerja berkualitas, serta memberikan nilai tambah bagi perekonomian.

Ia menyebut iklim investasi Indonesia masih memiliki daya tahan yang cukup baik karena didukung oleh besarnya pasar domestik, program hilirisasi, serta kondisi ekonomi makro yang relatif stabil.

Namun, memasuki semester II 2026, investor diperkirakan akan semakin selektif akibat meningkatnya ketidakpastian global, tekanan geopolitik, dan tingginya biaya pendanaan. Sektor yang memiliki peluang besar menarik investasi antara lain hilirisasi mineral, manufaktur, ekonomi digital, pusat data, energi, hingga logistik.

"Investasi tidak hanya tinggi secara nominal, tetapi juga harus mampu menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kapasitas produksi nasional," katanya.

Dari realisasi investasi semester I 2026, pemerintah mencatat sebanyak 1,44 juta tenaga kerja berhasil terserap. Angka tersebut meningkat sekitar 15 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Meski demikian, Rizal mengingatkan bahwa keberhasilan investasi tidak hanya diukur dari jumlah tenaga kerja yang terserap. Faktor lain seperti produktivitas, peningkatan keterampilan pekerja, tingkat upah, transfer teknologi, dan nilai tambah industri juga menjadi indikator penting.

Karena itu, ia mendorong pemerintah mengubah orientasi kebijakan investasi dari sekadar mengejar jumlah realisasi menjadi investasi yang lebih produktif, inklusif, dan berkelanjutan.

Dengan strategi tersebut, Indonesia diharapkan mampu memperkuat daya saing industri nasional sekaligus menjaga pertumbuhan ekonomi di tengah tantangan global yang semakin kompleks.* (an/dh)

Editor
: Dharma
0 komentar
Tags
beritaTerkait
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru