BREAKING NEWS
Minggu, 19 Juli 2026

B50 Jalan, RI Pangkas Impor Solar dan Dorong Sawit Lokal Jadi Kekuatan Energi Nasional

Adelia Syafitri - Sabtu, 18 Juli 2026 19:09 WIB
B50 Jalan, RI Pangkas Impor Solar dan Dorong Sawit Lokal Jadi Kekuatan Energi Nasional
Ilustrasi - Sampel uji produk bahan bakar nabati berbasis kelapa sawit 50 persen atau B50. (Foto: ANTARA/HO-BPDP/pri.)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

JAKARTA - Pemerintah terus mendorong penguatan ketahanan energi nasional melalui penerapan program biodiesel B50. Kebijakan ini dinilai mampu mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor solar sekaligus meningkatkan peran sektor kelapa sawit dalam mendukung swasembada energi.

Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono mengatakan, penerapan B50 menjadi langkah penting karena sebagian kebutuhan bahan bakar diesel nasional kini dapat dipenuhi dari sumber daya dalam negeri, khususnya minyak sawit yang diproduksi para petani Indonesia.

"Dengan B50, Indonesia tidak lagi mengimpor bahan bakar diesel atau solar. Lima puluh persen berasal dari minyak bumi dalam negeri dan lima puluh persen berasal dari minyak sawit yang dihasilkan petani Indonesia," ujar Sudaryono, Jumat (17/7/2026).

Baca Juga:

Menurutnya, kebijakan tersebut menunjukkan bahwa Indonesia sebagai negara agraris mampu memanfaatkan kekayaan alam dan hasil produksi dalam negeri untuk memperkuat kemandirian energi.

Sudaryono menjelaskan, upaya mencapai swasembada energi tidak terlepas dari pengalaman Indonesia dalam memperkuat ketahanan pangan. Pandemi COVID-19 menjadi pelajaran bahwa setiap negara akan lebih mengutamakan kebutuhan dalam negeri ketika menghadapi situasi krisis.

"Dari pengalaman itulah kita bekerja keras hingga akhirnya Indonesia mencapai swasembada pangan. Sekarang kita melangkah lebih jauh dengan memperkuat swasembada energi," katanya.

Ia menambahkan, pemerintah juga mengedepankan konsep percepatan program agar berbagai kebijakan strategis dapat segera memberikan manfaat bagi masyarakat. Menurutnya, program besar harus mampu dijalankan secara cepat, terukur, dan menghasilkan dampak nyata.

Sementara itu, Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi Hashim S. Djojohadikusumo menilai penguatan ketahanan energi menjadi kebutuhan penting di tengah kondisi geopolitik global yang penuh ketidakpastian serta perubahan harga energi dunia.

Menurut Hashim, pembangunan sektor energi nasional harus diarahkan pada pengurangan ketergantungan impor, pengembangan industri dalam negeri, serta percepatan penggunaan energi yang lebih berkelanjutan.

Senada dengan hal tersebut, Direktur Utama PT PLN (Persero) Darmawan Prasodjo mengatakan Indonesia perlu bergerak menuju sistem energi berbasis sumber daya domestik.

Menurutnya, pemanfaatan energi dalam negeri akan memperkuat ketahanan nasional, menjaga keterjangkauan harga energi, membuka lapangan kerja, serta mendukung pertumbuhan ekonomi.

"Kita sedang bergerak dari sistem energi yang berbasis impor menuju energi berbasis sumber daya domestik. Dengan begitu, ketahanan energi semakin kuat dan pertumbuhan ekonomi dapat dipercepat," ujar Darmawan.

Editor
: Dharma
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Kopdes Merah Putih Diduga Berdiri di Lahan Sawah, Begini Respons Wamentan Sudaryono
KAI Sumut Resmi Gunakan BioSolar B50, Operasional Kereta Tetap Lancar dan Emisi Lebih Rendah
Solar Bersubsidi Langka di Jalinsum, Perjalanan Bus Medan-Jakarta Molor hingga 4 Hari 4 Malam
Program B50 Digeber, Ini Alasan Pemerintah Yakin Impor Solar Bisa Berakhir
Pemko Tanjungbalai Terima Bantuan 25 Lampu PJU Tenaga Surya dari Kemenhub, Dipasang di Jalan Sudirman
Kabar Baik! Bahlil Pastikan Harga BBM B50 untuk Nelayan dan Petani Tetap Rp6.800 per Liter, Disubsidi Dana BPDP
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru