Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung
JAKARTA - Nilai tukar rupiah menguat cukup signifikan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (9/9/2026). Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup di level Rp17.511 per dolar AS, menguat 121 poin atau 0,69% dibandingkan penutupan hari sebelumnya di Rp17.632 per dolar AS.
Penguatan rupiah terjadi di tengah pelemahan indeks dolar AS (DXY). Hingga pukul 14.39 WIB, DXY tercatat turun 0,11% ke level 98,689.
Analis mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi memperkirakan rupiah masih berpeluang melanjutkan penguatan pada perdagangan Kamis (10/9/2026).
Baca Juga:
"Rupiah ditutup menguat cukup tajam, 125 poin di Rp17.507 per dolar AS. Kemungkinan besar dalam perdagangan besok masih akan menguat," ujar Ibrahim dalam keterangannya, Rabu (9/9/2026).
Ibrahim memperkirakan rupiah dapat menguat sekitar 50 poin hingga berada di kisaran Rp17.480 per dolar AS pada perdagangan berikutnya.
Salah satu sentimen yang menopang rupiah berasal dari membaiknya sejumlah indikator ekonomi domestik. Data penjualan ritel dan indeks keyakinan konsumen (IKK) menunjukkan perkembangan positif.
IKK tercatat lebih tinggi dibandingkan posisi Juli 2026 yang berada di level 118,5. Menurut Ibrahim, kenaikan tersebut menjadi salah satu level terbaik sejak Januari 2026.
"Yang menyebabkan rupiah menguat dalam perdagangan hari ini adalah data penjualan ritel kemudian dengan indeks keyakinan konsumen yang cukup bagus. Di luar ekspektasi, indeks keyakinan konsumen itu lebih tinggi dibandingkan di bulan Juli yaitu di 118,5," jelasnya.
Penjualan ritel Indonesia juga meningkat pada Agustus 2026. Pertumbuhannya tercatat 7,7% dengan volume penjualan sekitar 83.422 unit.
Ibrahim menilai peningkatan tersebut menunjukkan kinerja positif sektor perdagangan, terutama industri otomotif. Penjualan kendaraan disebut mengalami peningkatan signifikan dan menjadi sentimen positif bagi pelaku usaha.
"Artinya, di bulan Agustus ini menjadi bulan yang paling menguntungkan bagi pengusaha-pengusaha otomotif karena penjualannya lebih tinggi," katanya.
Di sisi eksternal, pasar juga mencermati perkembangan geopolitik di Timur Tengah dan Eropa Timur. Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah adanya pertukaran serangan antara Iran dan Amerika Serikat.
Serangan kelompok Houthi terhadap sejumlah pangkalan di Arab Saudi juga turut menjadi perhatian karena berpotensi memengaruhi kondisi di kawasan Laut Merah.
Sementara itu, konflik Rusia-Ukraina masih berlangsung. Ukraina kembali menghadapi serangan Rusia yang menyebabkan kebakaran di sejumlah wilayah.
Ketegangan geopolitik tersebut turut mendorong kenaikan harga minyak mentah. Harga minyak mentah Brent disebut telah menembus level di atas US$100 per barel.
Meski demikian, Ibrahim menilai pasar saat ini masih memberikan respons positif terhadap membaiknya sejumlah data ekonomi Indonesia. Kondisi tersebut dinilai membuka peluang bagi kembali masuknya arus modal asing ke pasar domestik.* (k/dh)
Tags
beritaTerkait
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.