Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung
Koordinasi dengan Bank Indonesia dan otoritas sektor keuangan juga dinilai penting untuk menjaga kredibilitas fiskal dan memberikan kepastian mengenai arah kebijakan APBN serta pembiayaan pemerintah. Kondisi tersebut berpotensi membuka peluang masuknya modal asing dan mendorong penguatan aset domestik.
Namun, arah IHSG tetap tidak hanya ditentukan oleh pergantian Menteri Keuangan. Pasar juga akan dipengaruhi oleh suku bunga Amerika Serikat, pergerakan rupiah, arus dana asing, kinerja emiten, serta perkembangan geopolitik.
Nafan juga menyoroti rencana demutualisasi Bursa Efek Indonesia (BEI). Menurutnya, proses tersebut perlu dilakukan secara transparan dan tetap menjaga independensi serta tata kelola bursa.
Demutualisasi dinilai dapat menjadi momentum untuk memperkuat tata kelola, meningkatkan daya saing BEI, memperdalam pasar modal, memperkuat perlindungan investor, dan meningkatkan daya tarik Indonesia bagi investor domestik maupun asing.
Dari sisi global, pasar masih menghadapi tekanan akibat meningkatnya harga minyak, ketidakpastian geopolitik, serta perubahan ekspektasi suku bunga global.
Harga minyak Brent disebut berada di kisaran US$107 per barel setelah naik hampir 9% pada pekan sebelumnya. Sementara harga minyak West Texas Intermediate (WTI) ditutup naik 1,84% menjadi US$101,89 per barel.
Kenaikan harga minyak berpotensi meningkatkan inflasi global dan mempersempit ruang bank sentral untuk melonggarkan kebijakan moneter. Pasar juga memperkirakan probabilitas kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin pada pertemuan 17 September 2026 mencapai 92,4%.
Selain itu, yield US Treasury 10 tahun naik 0,46% menjadi 4,998%. Kenaikan imbal hasil tersebut dapat menekan valuasi saham karena tingkat diskonto meningkat, terutama untuk saham dengan valuasi tinggi.
Tekanan terhadap saham teknologi dan sektor kecerdasan buatan juga menjadi perhatian di tengah kekhawatiran perlambatan pengembangan AI. Meski demikian, kondisi tersebut dinilai belum otomatis mengubah struktur pasar menjadi bearish.
Menurut Nafan, tekanan saat ini lebih mencerminkan repricing risiko makro. Arah pasar selanjutnya akan sangat ditentukan oleh seberapa lama harga minyak bertahan tinggi, perkembangan inflasi, serta keberlanjutan kenaikan yield obligasi.* (k/dh)
Tags
beritaTerkait
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.