Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung
JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan bergerak variatif pada perdagangan Selasa (15/9/2026) dengan peluang mengalami technical rebound setelah terkoreksi pada awal pekan. Investor kini mencermati sejumlah sentimen, termasuk pergantian Menteri Keuangan dari Purbaya Yudhi Sadewa kepada Suahasil Nazara.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mengatakan secara teknikal IHSG masih berada dalam struktur bullish meski mengalami koreksi. Menurutnya, indeks mulai menunjukkan peluang penguatan setelah membentuk pola dragonfly doji candle.
"Secara teknikal, meskipun mengalami koreksi wajar, pergerakan IHSG sebenarnya masih membentuk struktur bullish setelah berhasil rebound dari wave (iv) dengan membentuk pola dragonfly doji candle," kata Nafan, Selasa pagi.
Baca Juga:
Indikator moving average (MA) 20 dan MA 60 juga masih berada dalam kondisi bullish crossover. Namun, indikator Stochastics K_D dan Relative Strength Index (RSI) masih menunjukkan sinyal negatif.
Di sisi lain, volume perdagangan mulai meningkat sehingga membuka peluang IHSG kembali menguat. Meski demikian, penguatan diperkirakan masih terbatas dan indeks tetap berpotensi bergerak fluktuatif.
Nafan memperkirakan level support IHSG berada di 6.453 dan 6.353. Sementara area resistance berada pada 6.552 dan 6.695.
Untuk sentimen pasar domestik, investor dinilai perlu mencermati harga minyak mentah dunia, pergerakan yield US Treasury dan dolar AS, serta respons kebijakan pemerintah dan Bank Indonesia.
Apabila ketegangan geopolitik mereda sehingga harga minyak dan yield global kembali stabil, ditambah fundamental domestik tetap kuat, tekanan terhadap IHSG dinilai berpeluang berkurang.
Pergantian Menteri Keuangan juga menjadi perhatian pelaku pasar. Respons awal pasar terhadap pengangkatan Suahasil Nazara cenderung positif meski dampaknya masih bersifat jangka pendek.
Suahasil yang sebelumnya menjabat Wakil Menteri Keuangan dinilai memiliki pengalaman panjang di Kementerian Keuangan. Pasar selanjutnya akan melihat kemampuannya menjaga kredibilitas APBN, disiplin fiskal, stabilitas rupiah, serta konsistensi komunikasi kebijakan pemerintah.
"Dengan demikian, respons positif hari kemarin dapat dibaca sebagai sinyal awal meredanya ketidakpastian, tetapi investor masih membutuhkan bukti melalui implementasi kebijakan ke depan," ujar Nafan.
Dalam jangka menengah, pergantian Menteri Keuangan berpotensi menjadi katalis positif bagi IHSG apabila mampu meningkatkan kepercayaan investor terhadap stabilitas dan kesinambungan kebijakan ekonomi Indonesia.
Koordinasi dengan Bank Indonesia dan otoritas sektor keuangan juga dinilai penting untuk menjaga kredibilitas fiskal dan memberikan kepastian mengenai arah kebijakan APBN serta pembiayaan pemerintah. Kondisi tersebut berpotensi membuka peluang masuknya modal asing dan mendorong penguatan aset domestik.
Namun, arah IHSG tetap tidak hanya ditentukan oleh pergantian Menteri Keuangan. Pasar juga akan dipengaruhi oleh suku bunga Amerika Serikat, pergerakan rupiah, arus dana asing, kinerja emiten, serta perkembangan geopolitik.
Nafan juga menyoroti rencana demutualisasi Bursa Efek Indonesia (BEI). Menurutnya, proses tersebut perlu dilakukan secara transparan dan tetap menjaga independensi serta tata kelola bursa.
Demutualisasi dinilai dapat menjadi momentum untuk memperkuat tata kelola, meningkatkan daya saing BEI, memperdalam pasar modal, memperkuat perlindungan investor, dan meningkatkan daya tarik Indonesia bagi investor domestik maupun asing.
Dari sisi global, pasar masih menghadapi tekanan akibat meningkatnya harga minyak, ketidakpastian geopolitik, serta perubahan ekspektasi suku bunga global.
Harga minyak Brent disebut berada di kisaran US$107 per barel setelah naik hampir 9% pada pekan sebelumnya. Sementara harga minyak West Texas Intermediate (WTI) ditutup naik 1,84% menjadi US$101,89 per barel.
Kenaikan harga minyak berpotensi meningkatkan inflasi global dan mempersempit ruang bank sentral untuk melonggarkan kebijakan moneter. Pasar juga memperkirakan probabilitas kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin pada pertemuan 17 September 2026 mencapai 92,4%.
Selain itu, yield US Treasury 10 tahun naik 0,46% menjadi 4,998%. Kenaikan imbal hasil tersebut dapat menekan valuasi saham karena tingkat diskonto meningkat, terutama untuk saham dengan valuasi tinggi.
Tekanan terhadap saham teknologi dan sektor kecerdasan buatan juga menjadi perhatian di tengah kekhawatiran perlambatan pengembangan AI. Meski demikian, kondisi tersebut dinilai belum otomatis mengubah struktur pasar menjadi bearish.
Menurut Nafan, tekanan saat ini lebih mencerminkan repricing risiko makro. Arah pasar selanjutnya akan sangat ditentukan oleh seberapa lama harga minyak bertahan tinggi, perkembangan inflasi, serta keberlanjutan kenaikan yield obligasi.* (k/dh)
Tags
beritaTerkait
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.