BREAKING NEWS
Rabu, 30 September 2026

Rupiah Tembus Rp 18.000 per Dolar AS, Mengapa Intervensi BI Belum Mampu Redam Badai Global?

Nurul - Rabu, 30 September 2026 08:34 WIB
Rupiah Tembus Rp 18.000 per Dolar AS, Mengapa Intervensi BI Belum Mampu Redam Badai Global?
ilustrasi- Nilai tukar rupiah kembali menyentuh level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (29/9/2026). (Foto: MI/Susanto)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

Lukman menambahkan tekanan dari dalam negeri juga datang dari arus keluar dana asing atau foreign outflow di pasar saham dan obligasi serta meningkatnya permintaan dolar dari importir, khususnya untuk kebutuhan energi.

Menghadapi kondisi tersebut, BI memastikan tetap melakukan stabilisasi di pasar valuta asing. Intervensi dilakukan melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.

BI juga memperkuat strategi operasi moneter dan menjaga kecukupan likuiditas untuk mendukung stabilitas nilai tukar.

Erwin mengatakan pergerakan rupiah secara umum masih sejalan dengan mata uang negara-negara kawasan. Secara quarter-to-date, rupiah tercatat melemah secara terbatas sebesar 0,67 persen.

Di tengah tekanan tersebut, posisi cadangan devisa Indonesia juga masih tercatat sebesar US$146,5 miliar pada akhir Agustus 2026.

Sementara itu, pengurangan porsi intervensi BI melalui pasar spot menjadi sekitar 30 persen dari total intervensi turut menjadi perhatian. Instrumen spot dinilai relatif lebih mahal dan dapat menggerus cadangan devisa.

Namun, Lukman menilai pengurangan intervensi spot bukan menjadi penyebab utama pelemahan rupiah. BI masih memiliki instrumen DNDF dan NDF untuk membantu menjaga stabilitas nilai tukar.

Menurut Lukman, rupiah dalam jangka pendek masih berpotensi bergerak di kisaran Rp17.800 hingga Rp18.200 per dolar AS. Level Rp18.000 dinilai menjadi salah satu level psikologis penting bagi pergerakan mata uang tersebut.

"Jika dollar AS, yield AS dan harga minyak tetap tinggi, rupiah berisiko bertahan di atas 18.000 dan sebaliknya," ujarnya.

Meski sempat menyentuh Rp18.020 per dolar AS pada perdagangan pagi, rupiah akhirnya ditutup menguat tipis. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah berakhir di level Rp17.981 per dolar AS atau menguat 3 poin dari penutupan sebelumnya Rp17.978 per dolar AS.

Penguatan tipis tersebut belum menghilangkan tekanan terhadap rupiah. Harga minyak Brent masih berada di atas US$106 per barel, sementara yield UST 10 tahun meningkat hingga sekitar 5,24 persen pada perdagangan yang sama.

Dari dalam negeri, perhatian juga tertuju pada prospek inflasi September yang diperkirakan sekitar 3,3 persen secara tahunan. Selain itu, potensi meningkatnya tagihan impor energi ketika pertumbuhan ekspor melambat turut menjadi perhatian terhadap kondisi eksternal Indonesia.* (k/dh)

Editor
: Adelia Syafitri
0 komentar
Tags
beritaTerkait
BI Buka-bukaan Penyebab Dolar AS Tembus Rp18.000
Tak Ada Wilayah Berkategori Baik, Kualitas Udara Sumut Kompak Sedang Selasa Ini
Pedas Bikin Menjerit! Harga Cabai Rawit Merah Nyaris Tembus Rp 100 Ribu/Kg, Cek Rincian Sembako Hari Ini
Usut Fasilitas Mewah Lapas Cibinong, Komisi II DPR Panggil Ombudsman Siang Ini
Harga Emas Antam Anjlok Hari Ini: Cek Rincian Lengkap & Buyback yang Terjun Bebas
IHSG Merah Membara di Pagi Hari Ambruk ke Level 6.112, Seluruh Sektor Tumbang
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru