BREAKING NEWS
Kamis, 22 Oktober 2026

IHSG Menghijau Jelang Pengumuman BI Rate, Saham MBMA, DEWA dan ISAT Melesat!

Adelia Syafitri - Rabu, 21 Oktober 2026 10:05 WIB
IHSG Menghijau Jelang Pengumuman BI Rate, Saham MBMA, DEWA dan ISAT Melesat!
Ilustrasi. (foto: AI/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat pada perdagangan Rabu, 21 Oktober 2026.

Penguatan terjadi ketika pelaku pasar menantikan keputusan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) yang diperkirakan akan memengaruhi pergerakan pasar saham dan nilai tukar rupiah.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan pagi, IHSG naik 0,67 persen ke level 5.314,50.

Baca Juga:

Kenaikan tersebut didukung penguatan sejumlah saham berkapitalisasi besar, termasuk PT Merdeka Battery Materials Tbk. (MBMA), PT Darma Henwa Tbk. (DEWA), dan PT Indosat Tbk. (ISAT).

Dari keseluruhan saham yang diperdagangkan, sebanyak 396 saham tercatat menguat, 147 saham melemah, sementara 420 saham tidak mengalami perubahan harga.

Pergerakan tersebut menunjukkan jumlah saham yang mengalami kenaikan lebih banyak dibandingkan saham yang melemah.

Meski demikian, pelaku pasar masih mencermati perkembangan ekonomi, terutama arah kebijakan suku bunga Bank Indonesia dan stabilitas nilai tukar rupiah.

Sejumlah saham dalam kelompok indeks LQ45 mencatat kenaikan pada perdagangan pagi.

Saham PT Merdeka Battery Materials Tbk. (MBMA) menjadi salah satu yang mengalami penguatan terbesar dengan kenaikan 4,65 persen ke level Rp360 per saham.

Penguatan juga terjadi pada saham PT Darma Henwa Tbk. (DEWA) yang naik 3,91 persen menjadi Rp266 per saham.

Sementara itu, saham PT Indosat Tbk. (ISAT) menguat 3,50 persen ke posisi Rp1.775 per saham.

Kenaikan turut terjadi pada saham PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk. (CPIN) sebesar 3,03 persen menjadi Rp2.720 per saham.

Saham PT Trimegah Bangun Persada Tbk. (NCKL) juga meningkat 2,61 persen ke level Rp785 per saham.

Adapun saham PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. (ICBP) mencatat kenaikan 2,60 persen menjadi Rp5.925 per saham.

Penguatan sejumlah saham tersebut membantu menopang pergerakan IHSG pada awal perdagangan setelah pasar saham Indonesia menghadapi tekanan dalam beberapa waktu terakhir.

Namun, kenaikan harga saham pada pagi hari belum dapat dijadikan kepastian bahwa penguatan akan bertahan hingga penutupan perdagangan.

Di tengah penguatan IHSG, sejumlah saham perusahaan besar justru mengalami penurunan harga.

Saham PT Mitra Adiperkasa Tbk. (MAPI) turun 3,40 persen menjadi Rp1.280 per saham.

Penurunan juga terjadi pada saham PT Solusi Sinergi Digital Tbk. (WIFI) sebesar 3,27 persen ke posisi Rp1.185 per saham.

Sementara itu, saham PT United Tractors Tbk. (UNTR) melemah 2,05 persen menjadi Rp23.875 per saham.

Saham PT Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC) tercatat turun 1,43 persen ke level Rp1.380 per saham.

PT Astra International Tbk. (ASII) juga mengalami penurunan 1,33 persen menjadi Rp4.440 per saham.

Adapun saham PT Hartadinata Abadi Tbk. (HRTA) melemah 1,25 persen ke posisi Rp1.575 per saham.

Perbedaan pergerakan harga saham tersebut menunjukkan bahwa tidak seluruh perusahaan mengalami kenaikan meskipun indeks utama bursa bergerak di zona positif.

Bagi investor, kondisi ini menjadi pengingat bahwa perubahan IHSG tidak selalu menggambarkan pergerakan seluruh saham secara merata.

Salah satu perhatian utama pasar keuangan pada Rabu ini adalah hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia periode Oktober 2026.

Keputusan tersebut akan menentukan arah suku bunga acuan atau BI Rate di tengah tekanan terhadap rupiah dan meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global.

Berdasarkan konsensus Bloomberg terhadap 34 ekonom, Bank Indonesia diperkirakan mempertahankan suku bunga acuan sebesar 5,75 persen.

Namun, sebagian analis memperkirakan BI dapat menaikkan suku bunga menjadi 6 persen hingga 6,25 persen untuk membantu menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Perbedaan perkiraan tersebut menunjukkan bahwa arah kebijakan moneter masih menjadi perhatian investor.

Sebelumnya, Bank Indonesia mempertahankan BI Rate sebesar 5,75 persen dalam RDG September 2026.

Keputusan Oktober dinantikan karena rupiah berada di sekitar Rp18.000 per dolar Amerika Serikat.

Kenaikan suku bunga dapat meningkatkan daya tarik aset keuangan berdenominasi rupiah.

Namun, kebijakan tersebut juga berpotensi meningkatkan biaya pinjaman dan memengaruhi aktivitas ekonomi.

Sebaliknya, mempertahankan suku bunga dapat memberikan ruang bagi kegiatan usaha, tetapi tetap perlu mempertimbangkan tekanan terhadap nilai tukar dan arus modal asing.

Technical Analyst BRI Danareksa Sekuritas, Reza Diofanda, menilai keputusan Bank Indonesia akan menjadi salah satu faktor penting yang memengaruhi arah IHSG dan rupiah.

Menurut Reza, pasar saat ini tidak hanya menghadapi persoalan suku bunga, tetapi juga tekanan arus modal asing dan ketidakpastian terkait kebijakan Morgan Stanley Capital International (MSCI).

MSCI merupakan penyedia indeks saham global yang menjadi salah satu acuan investor internasional dalam menempatkan dana di berbagai pasar keuangan.

Perubahan kebijakan atau klasifikasi indeks MSCI dapat memengaruhi keputusan investasi, terutama dari pengelola dana yang mengikuti indeks tersebut.

Ketidakpastian mengenai kemungkinan perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia menjadi salah satu faktor yang meningkatkan kehati-hatian investor.

Di sisi lain, inflasi Indonesia pada September 2026 tercatat sebesar 3,28 persen secara tahunan atau year-on-year (YoY).

Angka tersebut masih berada dalam sasaran inflasi Bank Indonesia sebesar 2,5 persen dengan toleransi satu persen, atau pada rentang 1,5 hingga 3,5 persen.

Kondisi ini menjadi salah satu pertimbangan dalam menentukan apakah suku bunga perlu dipertahankan atau dinaikkan.

Dari sisi analisis teknikal, Reza melihat IHSG mulai menunjukkan tanda pemulihan setelah sebelumnya mengalami tekanan cukup dalam.

IHSG tercatat memantul dari area penopang harga atau support Fibonacci di sekitar level 4.942.

Menurut analisisnya, target pemulihan teknikal terdekat berada pada kisaran 5.318 hingga 5.400.

Artinya, apabila penguatan berlanjut dan mampu melewati area hambatan harga, IHSG memiliki peluang bergerak menuju kisaran tersebut.

Meski demikian, Reza mengingatkan bahwa arah pemulihan belum sepenuhnya mendapatkan konfirmasi.

Salah satu indikator yang digunakan, yakni Moving Average Convergence Divergence (MACD), masih berada di wilayah negatif dan menunjukkan tekanan penurunan atau bearish.

Dalam analisis teknikal, kondisi tersebut menggambarkan bahwa tekanan jual belum sepenuhnya berakhir.

Sementara itu, level 5.185 menjadi salah satu area support yang perlu diperhatikan.

Apabila IHSG kembali turun hingga menembus level tersebut, risiko pelemahan lanjutan dapat meningkat.

Sebaliknya, apabila indeks mampu melewati area resistance, peluang penguatan dapat menjadi lebih besar.

Namun, perkiraan tersebut merupakan analisis berdasarkan pergerakan harga dan bukan jaminan bahwa indeks akan mencapai level tertentu.

Pergerakan IHSG tidak hanya dipengaruhi oleh kondisi ekonomi dalam negeri, tetapi juga perkembangan pasar keuangan internasional.

Perubahan suku bunga global, arus investasi asing, nilai tukar mata uang, serta kebijakan ekonomi negara-negara besar menjadi beberapa faktor yang dapat memengaruhi keputusan investor.

Ketika ketidakpastian meningkat, sebagian investor cenderung lebih berhati-hati dalam menempatkan dananya pada instrumen saham.

Kondisi tersebut dapat menimbulkan perubahan harga yang cukup tajam dalam waktu singkat.

Selain itu, investor juga memperhatikan perkembangan kinerja perusahaan yang tercatat di Bursa Efek Indonesia.

Laporan keuangan, prospek pertumbuhan usaha, serta kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan tetap menjadi faktor penting dalam menentukan nilai suatu saham.

Karena itu, penguatan IHSG pada pagi hari perlu dilihat bersama perkembangan pasar secara keseluruhan.

Penguatan IHSG sebesar 0,67 persen ke posisi 5.314,50 pada perdagangan pagi Rabu, 21 Oktober 2026, memberikan sinyal pemulihan awal setelah tekanan yang melanda pasar saham.

Saham MBMA, DEWA, dan ISAT menjadi beberapa penggerak kenaikan, sementara MAPI, WIFI, serta UNTR mengalami pelemahan.

Meski jumlah saham yang menguat lebih banyak, arah perdagangan sepanjang hari masih dapat berubah mengikuti perkembangan sentimen pasar.

Perhatian investor terutama tertuju pada keputusan Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia yang dijadwalkan diumumkan pada Rabu siang.

Keputusan tersebut berpotensi memengaruhi pandangan pelaku pasar terhadap prospek rupiah, arus modal asing, dan kondisi pasar saham Indonesia dalam waktu dekat.

Dengan kondisi tersebut, investor perlu memperhatikan pergerakan harga dan perkembangan informasi ekonomi sebelum mengambil keputusan.

Disclaimer: Artikel ini bertujuan memberikan informasi mengenai perkembangan pasar modal dan bukan merupakan ajakan atau rekomendasi untuk membeli maupun menjual saham.

Setiap keputusan investasi memiliki risiko dan menjadi tanggung jawab masing-masing investor.* (bi/ad)

Editor
: Mass Arie
0 komentar
Tags
beritaTerkait
INALUM Perkuat Posisi Industri Aluminium Indonesia di Forum Mineral dan Logam Internasional 2026
Bupati Batu Bara Baharuddin Siagian Raih Achievement Person Award, Pemkab Sabet Predikat Informatif KI Sumut 2026
IHSG ditutup menguat 282,28 poin ke level 5.278 didorong 694 saham hijau
Diselamatkan dari India, Orangutan Hira Dipulangkan ke Sumut Sebelum Dilepas ke Gunung Leuser
Pegadaian Sosialisasikan Investasi Emas di Binjai, Masyarakat Bisa Menabung Mulai Rp 10 Ribu!
Khofifah Indar Parawansa Lantik Pengurus IKA UNAIR Aceh, Taqwaddin Dorong Kerja Sama Aceh–Jatim demi Kesejahteraan Masyarakat
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru