BREAKING NEWS
Jumat, 24 April 2026

Asap di Tor Sihite: Brimob Bakar Sepuluh Hektar Ladang Ganja di Mandailing Natal

Raman Krisna - Kamis, 13 November 2025 12:54 WIB
Asap di Tor Sihite: Brimob Bakar Sepuluh Hektar Ladang Ganja di Mandailing Natal
10 hektar ladang ganja tersembunyi di Madina Sumut dimusnahkan. (Foto : TikTok/ Humas Brimob Sumut)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

PADANG SIDEMPUAN- Kabut tipis masih menggantung di lereng Tor Sihite saat tiga puluh personel Brimob Batalyon C Pelopor Polda Sumatera Utara memulai langkahnya, Rabu (12/11/2025) dini hari.

Di bawah komando Kompol Zaenal Muhlisin, mereka menapaki jalur curam menuju satu misi: memusnahkan sepuluh hektare ladang ganja yang bersembunyi di rimba Mandailing Natal.

Namun, di balik operasi bersenjata itu, tersimpan kisah lama tentang wilayah subur yang terus jadi ruang abu-abu antara hukum dan kemiskinan.

Baca Juga:

Operasi dimulai pukul 04.00 WIB dari Mako Brimob di Panyabungan.

Setelah apel singkat, pasukan bergerak menuju Desa Rau Rau Dolok, Kecamatan Tambangan.

Jalan berbatu dan tanjakan terjal memaksa mereka berjalan kaki berjam-jam.

Menjelang tengah hari, daun ganja pertama terlihat di balik semak basah. Di puncak Tor Sihite, terbentang hamparan hijau yang seolah kebun biasa namun ternyata ladang ganja siap panen, tersembunyi di antara kabut dan pepohonan lebat.

"Ini bukan sekadar operasi pemusnahan, tapi pernyataan perang terhadap perusak masa depan bangsa," kata Kompol Zaenal Muhlisin, tegas.

Brimob membentuk perimeter, menandai area pemusnahan.

Ribuan batang ganja dicabut, ditumpuk, dan dibakar.

Asap tebal menggulung bukit, meninggalkan tanah hitam berbau getir.

Operasi berlangsung tertib tanpa perlawanan.

Namun, seperti banyak operasi serupa sebelumnya, pertanyaan lama kembali muncul: mengapa di tanah seindah Mandailing Natal, ganja masih tumbuh subur?

Warga di sekitar Rau Rau Dolok hidup di medan sulit, jauh dari akses ekonomi.

Lahan pertanian terbatas, hasil kebun tak menentu.

Di kondisi itu, ganja sering kali diperlakukan sebagai "tanaman penyambung hidup" cepat panen, harga tinggi, dan mudah dijual ke jaringan lintas provinsi.

Pihak kepolisian menyebut, jaringan pengedar memanfaatkan kondisi sosial ini untuk merekrut warga lokal menjadi penanam bayaran.

"Kami memahami medan dan kondisi masyarakat, tapi hukum tetap harus ditegakkan," ujar Kompol Zaenal. "Kami tidak akan memberi ruang bagi siapa pun yang merusak generasi muda."

Menjelang senja, operasi berakhir.

Api padam, tanah kembali gelap.

Tapi di banyak titik lain Mandailing Natal, asap serupa mungkin akan muncul lagi tanda bahwa siklus ganja di wilayah ini belum benar-benar berhenti.

Bagi aparat, setiap operasi adalah pernyataan tegas.

Bagi sebagian warga, setiap pembakaran adalah kehilangan sumber hidup.
Dan di antara keduanya, negara dihadapkan pada dilema lama: bagaimana memutus ekonomi gelap tanpa mematikan harapan hidup penduduknya.

Ketika asap perlahan lenyap di langit Mandailing Natal, pesan itu masih tertinggal bahwa perang melawan narkotika bukan hanya soal menyalakan api, tetapi juga menyalakan harapan di wilayah yang lama terabaikan.*


(tm/ um)

Editor
: Adelia Syafitri
0 komentar
Tags
beritaTerkait
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru