Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung
MEDAN - Pencurian tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di sejumlah perkebunan disebut tidak hanya menimbulkan kerugian bagi perusahaan dan petani, tetapi juga mengancam keselamatan pekerja yang melakukan pengamanan di lapangan.
Ketua Serikat Pekerja Perkebunan (SP BUN) PTPN IV, Virman Yuswardi Manik, mengatakan petugas keamanan dan pekerja perkebunan menghadapi risiko kekerasan ketika berhadapan dengan pelaku pencurian.
"Kondisi lapangan mengharuskan petugas security dan pekerja lainnya pertaruhkan nyawa, dalam menghadapi pelaku pencurian yang akan melakukan tindakan kekerasan fisik," ujar Virman, Kamis (24/9/2026).
Baca Juga:
Menurut Virman, dalam sejumlah penindakan ditemukan TBS yang dibawa pelaku mencapai sekitar 160 kilogram dalam sekali angkut. Jumlah tersebut membuat nilai buah sawit yang dicuri dapat mencapai ratusan ribu rupiah dalam satu kali aksi.
Ia menilai aksi pencurian TBS menunjukkan indikasi dilakukan secara terorganisir. Berdasarkan perhitungannya, pelaku disebut dapat memperoleh hasil hingga Rp21 juta dalam sebulan.
Virman menilai besarnya nilai keuntungan tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat pencurian TBS terus terjadi di sejumlah kawasan perkebunan.
Sementara itu, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Eddy Martono mengatakan terdapat pola terstruktur dalam aksi pencurian TBS yang melibatkan sejumlah kelompok.
Menurut Eddy, penanganan perkara seharusnya tidak berhenti pada pelaku yang berada di lapangan. Pihak yang menerima atau menampung hasil curian juga dinilai perlu ditelusuri.
"Tentu para pelaku harus segera ditindak, upaya hukum jangan berhenti pada pelaku lapangan, namun semua harus diusut mulai dari penampung buah sawit dan pihak lain yang menikmati aliran dana ilegal," ucap Eddy.
Ancaman pencurian juga dirasakan petani kelapa sawit swadaya. Salah seorang perwakilan petani, Sularno, mengaku khawatir kebunnya menjadi sasaran pencurian karena kondisi lahan yang sempit dan terbuka.
"Tentu kami merasa khawatir juga, terlebih kebun yang kami miliki lahannya sempit dan terbuka bebas, maka para pelaku pencurian pun dapat dengan mudah menjarah buah sawit yang dimiliki," katanya.
Menurut Sularno, persoalan pencurian TBS perlu mendapat penanganan serius karena dampaknya tidak hanya berkaitan dengan hasil perkebunan. Kondisi tersebut juga menimbulkan risiko keamanan bagi pekerja dan petani yang berada di lapangan.
Pencurian TBS dengan nilai ekonomi yang cukup besar serta potensi keterlibatan pihak lain membuat pengawasan di kawasan perkebunan menjadi tantangan bagi perusahaan, petani dan aparat penegak hukum.* (mi/dh)
Tags
beritaTerkait
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.