BREAKING NEWS
Sabtu, 03 Oktober 2026

Dijanjikan Kerja Gaji Puluhan Juta, 13 Warga Sumut Diduga Dijebak ke Madagaskar Jadi Operator Judol dan Scamming

Dharma - Jumat, 02 Oktober 2026 20:24 WIB
Dijanjikan Kerja Gaji Puluhan Juta, 13 Warga Sumut Diduga Dijebak ke Madagaskar Jadi Operator Judol dan Scamming
Salah satu pekerja migran asal Sumut yang disebut terjebak di Madagaskar adalah Wulamsari (27), warga Kota Medan. (foto: Ist/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

MEDAN – Sebanyak 13 pekerja migran irregular atau ilegal asal Sumatera Utara diduga menjadi korban Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) di Madagaskar.

Mereka disebut berangkat setelah mendapat tawaran pekerjaan dengan gaji puluhan juta rupiah, tetapi justru dibawa ke Madagaskar dan dipekerjakan sebagai operator scamming serta judi online.

Ketua Tim Perlindungan BP3MI Wilayah Sumut, Enceng Supiyanto, mengatakan pihaknya menerima laporan dari keluarga para korban sejak September 2026.

Baca Juga:

"Benar ada 13 keluarga yang membuat laporan," kata Enceng, Jumat (2/10/2026).

Menurut Enceng, para korban rata-rata mendapatkan tawaran pekerjaan melalui media sosial. Mereka kemudian dijanjikan pekerjaan di luar negeri dengan penghasilan yang dinilai cukup besar.

"Ada yang diajak kerja di Australia menjadi pemetik buah. Ada yang diajak menjadi pekerja rumah tangga di Taiwan. Terus ada yang dijanjikan kerja di restoran Madagaskar. Gajinya bisa puluhan juta," ujar Enceng.

Enceng mengatakan para korban kemudian diarahkan untuk mengikuti penerbangan yang telah ditentukan. Biaya perjalanan disebut ditanggung oleh perusahaan.

Namun, para korban berangkat dengan status pekerja migran irregular karena tidak mengurus dokumen sesuai dengan ketentuan.

"Nah, ternyata ujungnya mereka ini dibawa ke Madagaskar dan dijadikan operator judi online dan scamming," sebutnya.

Menurut Enceng, para korban juga mengalami kekerasan selama bekerja di Madagaskar.

Kondisi tersebut terungkap setelah perusahaan tempat mereka bekerja dirazia dan para pekerja ditangkap petugas keamanan.

""Saat ini posisi mereka masih dipenjara," ujarnya.

BP3MI Sumut kemudian berkoordinasi dengan Kementerian Luar Negeri dan KBRI di Madagaskar untuk mengupayakan pemulangan para korban.

"Ya kami masih berkoordinasi dengan KBRI. Kabar terbaru tentu nanti akan kami sampaikan ke keluarga," tuturnya.

Salah satu pekerja migran asal Sumut yang disebut terjebak di Madagaskar adalah Wulamsari (27), warga Kota Medan.

Wulamsari diduga menjadi korban TPPO setelah menerima tawaran pekerjaan dengan gaji tinggi.

Keluarga menyebut perempuan itu awalnya mendapat tawaran bekerja di Malaysia, tetapi justru dibawa ke Madagaskar.

Kakak kandung Wulamsari, Julianto (40), mengatakan adiknya berkenalan dengan seorang pria melalui Facebook. Pria tersebut menawarkan pekerjaan di Malaysia dengan penghasilan tinggi.

Wulamsari kemudian meninggalkan rumahnya di Jalan Young Panah Hijau, Kelurahan Labuhan Deli, Kecamatan Medan Marelan, pada April 2026.

Menurut Julianto, adiknya berangkat melalui Bandara Kualanamu dengan tujuan Malaysia. Namun, setelah tiba di Malaysia, perjalanan Wulamsari disebut berlanjut ke Madagaskar tanpa sepengetahuan korban.

"Awalnya pergi ke Malaysia dari Bandara Kualanamu diiming-imingi gaji besar. Tapi dari Malaysia langsung transit ke Madagaskar tanpa sepengetahuan dia. Habis itu hilang kontak," ujar Julianto, Selasa (29/9/2026).

Setelah keberangkatan tersebut, keluarga kehilangan komunikasi dengan Wulamsari selama berbulan-bulan.

Julianto mengatakan komunikasi dengan adiknya baru kembali terjalin sekitar dua pekan sebelum ia memberikan keterangan.

Saat berkomunikasi dengan keluarga, Wulamsari disebut menangis dan meminta pertolongan.

Julianto mengatakan adiknya mengaku dijebak untuk bekerja sebagai operator judi online di Madagaskar.

Kepada keluarga, Wulamsari juga disebut menceritakan adanya kekerasan yang dialami para pekerja di lokasi tersebut.

"Dua minggu lalu baru komunikasi lagi terakhir dia minta tolong, menangis. Bahwasanya dia di sana dianiaya, perempuan dilecehkan dan laki-laki dianiaya," tutur Julianto.

Keterangan mengenai dugaan penganiayaan dan pelecehan tersebut berasal dari penuturan keluarga berdasarkan komunikasi dengan korban.

Hingga informasi ini disampaikan, belum ada keterangan dalam sumber mengenai hasil verifikasi pemerintah atau aparat penegak hukum terkait kondisi Wulamsari di Madagaskar.

Julianto mengatakan keluarga telah berupaya mencari bantuan untuk memulangkan Wulamsari.

Mereka melaporkan kondisi tersebut kepada kelurahan setempat dan meminta pendampingan dari anggota DPD RI asal Aceh H. Sudirman atau Haji Uma serta anggota DPRK Aceh Tamiang Jamil Hasan.

Keluarga berharap pemerintah pusat segera mengambil langkah untuk memastikan keselamatan Wulamsari.

Mereka secara khusus meminta Kementerian Luar Negeri dan perwakilan Indonesia membantu proses evakuasi dan pemulangan Wulamsari dari Madagaskar.

"Harapan saya kepada pemerintah, tolonglah dibantu dan pulangkan dengan secepatnya. Kepada pihak Menteri Luar Negeri atau KBRI, tolonglah dipermudah dibantu supaya adik saya cepat pulang," kata Julianto.

Kasus ini juga menjadi perhatian karena para korban disebut mendapatkan tawaran pekerjaan melalui media sosial dengan iming-iming penghasilan tinggi.

Keluarga dan BP3MI Sumut kini masih menunggu perkembangan koordinasi dengan KBRI di Madagaskar terkait proses penanganan dan pemulangan para pekerja migran tersebut.* (km/ad)

Editor
: Mass Arie
0 komentar
Tags
beritaTerkait
1,69 Juta Warga Sumut Masuk Kategori Sangat Miskin
Asahan Usulkan Desa Hessa Perlompongan Jadi Kampung Kreatif Sumut Berkah 2026, Ini Potensinya
244 Kg Sabu Digagalkan Polda Sumut dalam Sebulan, 9 Tersangka Diamankan
13.702 Keluarga di Sumut Terima Bantuan Pascabencana, Tapanuli Tengah Terbesar
Persiapan Haji 2027, Pemprov Sumut dan Komisi VIII DPR RI Perkuat Sinergi Pelayanan Jemaah
Polda Sumut Bongkar Judol di Medan-Tebing Tinggi, 2 Tersangka Pernah Bekerja di Kamboja
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru