JAKARTA – Pemerintah Amerika Serikat dikabarkan menawarkan insentif hingga USD 100 ribu atau setara Rp 1,6 miliar per warga Greenland untuk mendorong mereka bergabung dengan AS.
Rencana ini diungkapkan oleh beberapa sumber yang mengetahui pembahasan internal Gedung Putih, sebagaimana dilaporkan Reuters, Jumat (9/1/2026).
Meskipun rincian pembayaran belum pasti, termasuk mekanisme dan waktu penyaluran, beberapa pejabat AS disebut telah membahas kisaran angka mulai dari USD 10 ribu hingga USD 100 ribu per orang.
Dengan total sekitar 57.000 penduduk Greenland, skema ini diperkirakan menelan anggaran hampir USD 6 miliar atau setara Rp 101 triliun.
"Cukup sudah… Tidak ada lagi fantasi tentang aneksasi," tegas Perdana Menteri Greenland, Jens-Frederik Nielsen, menanggapi wacana pembelian pulau Arktik tersebut.
Greenland merupakan wilayah otonomi Kerajaan Denmark, dan pemerintah Denmark serta Greenland menegaskan pulau tersebut tidak untuk dijual.
Menurut laporan, rencana ini merupakan bagian dari strategi AS untuk mengamankan kawasan strategis Arktik, termasuk kepentingan mineral dan potensi militer.
Namun, upaya tersebut berisiko dianggap transaksional dan merendahkan aspirasi kemerdekaan warga Greenland.
Langkah AS mendapat sorotan internasional. Enam negara anggota NATO, Prancis, Jerman, Italia, Polandia, Spanyol, dan Inggris, bersama Denmark menyerukan penghormatan terhadap kedaulatan Greenland.
Pernyataan bersama menegaskan, "Greenland adalah milik rakyatnya. Hanya Denmark dan Greenland yang berhak memutuskan hal-hal yang menyangkut Greenland."
Selain itu, Menteri Luar Negeri negara-negara Nordik, Denmark, Finlandia, Islandia, Norwegia, dan Swedia, menegaskan komitmen menjaga keamanan dan stabilitas kawasan Arktik.
Mereka menekankan kerja sama kolektif dengan sekutu NATO, termasuk AS, sesuai Piagam PBB dan perjanjian pertahanan 1951 antara AS dan Denmark.