Prabowo Disebut Tunjuk Pengusaha Haji Isam Tangani Karhutla, Mensesneg Bantah: Tidak Benar
JAKARTA Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi membantah kabar yang menyebut pengusaha Andi Syamsuddin Arsyad alias Haji Is
NASIONAL
JAKARTA – Di tengah situasi masyarakat yang tengah merasakan berbagai tantangan sosial dan ekonomi, perilaku sebagian oknum pejabat yang kerap memamerkan kekayaan secara berlebihan di ruang publik maupun media sosial menuai perhatian dan kritik.
Fenomena yang dikenal dengan istilah flexing tersebut dinilai kurang sensitif terhadap kondisi masyarakat.
Psikolog dari Universitas Gadjah Mada, Novi Poespita Candra, menilai bahwa kebiasaan pejabat yang gemar menunjukkan harta secara berlebihan dapat berdampak negatif pada kepekaan sosial mereka.
"Perilaku tersebut berpotensi menimbulkan kecanduan dan membuat individu lupa terhadap kepekaan sosial," ujar Novi.
Novi menambahkan, orientasi pejabat terhadap makna jabatan yang sebenarnya kerap mengalami pergeseran.
Ia menegaskan bahwa pencapaian tertinggi seorang pejabat seharusnya tidak semata-mata diukur dari materi, melainkan dari nilai spiritualitas berupa pengabdian tulus kepada masyarakat, khususnya kelompok yang masih membutuhkan.
Fenomena flexing juga bisa dipandang sebagai bentuk pencarian eksistensi diri.
"Penelitian menunjukkan bahwa bagi sebagian orang, menunjukkan kekayaan adalah cara untuk mendapatkan rasa senang dan kepuasan," ujarnya.
Dalam perspektif psikologi, kebahagiaan seseorang biasanya berkaitan dengan empat hormon utama, yakni dopamin (pengakuan dan pencapaian), oksitosin (rasa cinta dan penerimaan), serotonin (kebermaknaan), dan endorfin (kegembiraan).
Novi mengamati bahwa pejabat yang kerap pamer materi lebih banyak terfokus pada pencarian dopamin semata.
"Mereka merasa capaian materi adalah sesuatu yang patut dibanggakan," tambahnya.
Menurut Novi, seorang pemimpin idealnya memiliki kecerdasan intelektual dan etika yang matang, sehingga setiap tindakan yang diambil bukan semata didasari emosi atau nafsu, melainkan pertimbangan rasional yang memberikan manfaat bagi masyarakat luas.
"Untuk membangun nalar etika diperlukan kompetensi belajar berkelanjutan dan kemampuan berpikir tingkat tinggi, sehingga sebelum bertindak, mereka mempertimbangkan dampaknya bagi masyarakat," jelas Novi.
Sebelumnya, Menteri Dalam Negeri Jenderal Polisi (purn) Tito Karnavian juga mengingatkan para pejabat daerah untuk mengedepankan pola hidup sederhana dan menghindari perilaku flexing.
Hal ini penting guna menjaga kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah.*
(vo/a008)
JAKARTA Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi membantah kabar yang menyebut pengusaha Andi Syamsuddin Arsyad alias Haji Is
NASIONAL
JAKARTA Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian menginstruksikan seluruh kepala daerah melarang pembukaan lahan dengan cara dibak
NASIONAL
BANDA ACEH Presiden Prabowo Subianto dikabarkan memberhentikan M. Nasir dari jabatan Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Aceh. Pemberhent
PEMERINTAHAN
JAKARTA Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Perempuan, Remaja, dan Keluarga (PRK) Siti Ma&039rifah meminta Universitas Pertahan
PENDIDIKAN
JAKARTA Pengamat politik dari Citra Institute, Efriza, menilai PDI Perjuangan (PDIP) berpeluang membangun poros alternatif jika Prabowo
POLITIK
JAKARTA Pengaduan seorang aparatur sipil negara (ASN) yang selama enam bulan tak kunjung selesai akhirnya tuntas dalam waktu sekitar dua
NASIONAL
MOJOKERTO Kebakaran melanda bangunan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) di Desa Dlanggu, Kecamatan Dlanggu, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timu
PERISTIWA
MANGGARAI TIMUR Relawan kemanusiaan sekaligus Founder Yayasan Gerak Bareng, Ahmad Zaki Ali, meninggal dunia saat menjalankan misi kemanu
ENTERTAINMENT
JAKARTA Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menilai praktik korupsi di sektor pendidikan bukan sekadar pelanggaran hukum. Lembaga antiras
HUKUM DAN KRIMINAL
JAKARTA Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG menguat 1,93 persen sepanjang perdagangan sepekan. IHSG ditutup pada level 6.525,690, naik
EKONOMI