BREAKING NEWS
Kamis, 16 April 2026

Kemenimipas Sosialisasikan Pedoman Pasopati, Tingkatkan Komunikasi Krisis Lapas di Era Digital

gusWedha - Sabtu, 01 November 2025 17:30 WIB
Kemenimipas Sosialisasikan Pedoman Pasopati, Tingkatkan Komunikasi Krisis Lapas di Era Digital
Zarman Syah (kanan), dari Sekolah Jurnalis Indonesia (SJI) PWI Pusat. Kemenimipas RI menggelar sosialisasi Pasopati di Aula Lapas Kelas I Cipinang, Jakarta Timur, Jumat (31/10/2025). (foto: Dok PWI Pusat)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

JAKARTA – Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan Republik Indonesia (Kemenimipas RI) menggelar sosialisasi Pedoman Manajemen Komunikasi Krisis Pemasyarakatan Terintegrasi (Pasopati) di Aula Lapas Kelas I Cipinang, Jakarta Timur, Jumat (31/10/2025).

Kegiatan ini diikuti oleh kepala Lapas, kepala Kanwil Imigrasi dan Pemasyarakatan (Imipas), baik secara daring maupun luring.

Acara dibuka oleh Direktur Jenderal Pemasyarakatan Kemenimipas RI, didampingi Kepala Lapas Cipinang, Wachid Wibowo, serta pejabat struktural dari Direktorat Jenderal Pemasyarakatan dan Biro Humas Kemenimipas.

Baca Juga:

Dalam sambutannya, pimpinan Kemenimipas menekankan pentingnya Pasopati sebagai langkah strategis membangun sistem komunikasi publik yang terpadu, tangguh, dan kredibel di seluruh unit pemasyarakatan.

"Krisis informasi bukan sekadar soal peristiwa, tetapi juga persepsi publik. Komunikasi yang cepat, akurat, dan terkoordinasi sangat menentukan reputasi lembaga," ujar perwakilan pimpinan Kemenimipas.

Sementara itu, Kepala Lapas Cipinang, Wachid Wibowo, menegaskan bahwa pedoman ini menjadi panduan penting dalam menghadapi situasi darurat informasi.

"Krisis tidak bisa dihindari, tapi bisa dikelola. Kuncinya ada pada komunikasi publik yang cepat dan terkoordinasi. Satu suara, jaga reputasi, itu semangat yang dibangun lewat pedoman ini," kata Wachid.

Pedoman Pasopati memuat klasifikasi krisis, mekanisme pelaporan, serta pembentukan Tim Komunikasi Krisis (TKK) di tiap Lapas dan Kanwil, termasuk sistem penunjukan juru bicara resmi agar tidak terjadi tumpang tindih informasi.

Acara sosialisasi menghadirkan narasumber dari organisasi pers dan akademisi komunikasi, termasuk dari Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat, untuk memperkaya perspektif mengenai komunikasi krisis publik.

Ketua Umum PWI Pusat, Akhmad Munir, mendelegasikan kehadirannya kepada Zarman Syah (Sekolah Jurnalis Indonesia) dan Achmad Rizal (Humas PWI).

Zarman Syah menyoroti pentingnya jurnalisme data dan transformasi komunikasi publik di era digital.

Ia menekankan bahwa tantangan komunikasi publik saat ini bukan hanya kecepatan, tetapi juga keakuratan dan kejujuran data di tengah derasnya arus informasi.

"AI dan jurnalisme data membantu memilah fakta dari hoaks. Dengan data yang benar, komunikasi publik bukan menimbulkan kepanikan, tetapi menumbuhkan kepercayaan," ujarnya.

Sementara itu, Achmad Rizal menekankan pentingnya literasi media bagi petugas Lapas, agar mampu menghadapi pemberitaan dan opini publik secara proporsional.

"Petugas Lapas sering menjadi garda depan menghadapi opini publik. Literasi media bukan sekadar pelengkap, tapi kebutuhan," kata Rizal.

Selain dari PWI, hadir pula akademisi komunikasi dari berbagai perguruan tinggi, yang menekankan perlunya kolaborasi lintas sektor dalam membangun sistem komunikasi publik yang tangguh.

Pasopati dianggap sebagai tonggak reformasi komunikasi publik pemerintah di Indonesia, bukan hanya protokol krisis, tetapi juga model kerja sama pemerintah dan media.

Zarman Syah menilai pedoman Pasopati menjadi "angin segar" dalam reformasi komunikasi publik, karena memberi ruang bagi keterlibatan multiunsur dalam satu visi bersama.

"Kini pemerintah tak lagi menutup diri. Mereka belajar dari jurnalis dan kampus tentang bagaimana membangun kepercayaan publik lewat komunikasi yang terbuka," katanya.

Acara yang berlangsung sehari penuh ini diharapkan menjadi momentum bagi jajaran Kemenimipas dan seluruh UPT Pemasyarakatan untuk memperkuat sinergi lintas lembaga.

Pedoman Pasopati diharapkan menjadi pondasi komunikasi publik yang humanis, profesional, dan terpercaya.

"Krisis adalah ujian reputasi, dan reputasi hanya bisa dijaga dengan komunikasi yang jujur," tutup Zarman Syah.*


(a008)

Editor
: Adelia Syafitri
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Polda Aceh Ajak Wartawan Hadirkan Berita Mencerahkan di Peringatan Maulid Nabi
Bukan Main! 1.500 Polisi Amankan Konser BLACKPINK di GBK, Ini Alasannya
Update Harga BBM 1 November: Pertamina Dex dan Dexlite Alami Kenaikan
Roy Suryo Tak Khawatir Jika Ditetapkan Tersangka Kasus Dugaan Ijazah Palsu Jokowi
Terdakwa Penganiayaan Anak Bebas Tanpa Penahanan, Publik Pertanyakan Sikap Penegak Hukum
Imigrasi Ngurah Rai Luncurkan Mayaswari, Edukasi Keimigrasian Mendekat ke Masyarakat
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru