Eddy menjelaskan, Indonesia hanya mengambil sekitar 20 persen kebutuhan migas dari Timur Tengah, sementara sisanya dipasok dari Nigeria, Angola, Brasil, dan Australia.
"Sekarang Indonesia akan mengambil dari Amerika Serikat untuk menutupi kekurangan akibat penutupan Selat Hormuz. Opsi ini lazim dan patut dilakukan, apalagi sudah ada perjanjian perdagangan baru dengan Amerika Serikat," ujar Eddy, Kamis (5/3/2026).
Meski pasokan aman, Eddy menyoroti cadangan strategis migas nasional yang hanya cukup untuk 20 hari, sehingga negara rentan jika pasokan BBM terhenti sepenuhnya. Dia mendorong pemerintah untuk meningkatkan kapasitas cadangan migas.
"PR utama ke depannya adalah meningkatkan cadangan strategis migas dari 20 hari menjadi 30 hari atau lebih. Tidak hanya membeli tambahan BBM, tetapi juga membangun infrastruktur storage capacity di berbagai daerah," kata Eddy.
Pernyataan ini menjadi relevan menyusul meningkatnya ketegangan di Teluk dan potensi gangguan pasokan global yang berdampak pada keamanan energi nasional.*
(d/dh)
Editor
: Adelia Syafitri
Selat Hormuz Ditutup, Waka MPR: RI Punya Alternatif Pasokan Migas