BREAKING NEWS
Selasa, 17 Maret 2026

Kondisi Sungai Batangtoru Memburuk, Tradisi Marpangir dan Mamasu Dahanon Terancam Hilang

Indra Saputra - Minggu, 15 Maret 2026 14:04 WIB
Kondisi Sungai Batangtoru Memburuk, Tradisi Marpangir dan Mamasu Dahanon Terancam Hilang
Kerusakan tutupan hutan di kawasan Ekosistem Batangtoru dinilai berdampak langsung terhadap perubahan kondisi aliran Sungai Batangtoru. (Foto: ist/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

TAPANULI SELATAN – Kerusakan tutupan hutan di kawasan Ekosistem Batangtoru dinilai berdampak langsung terhadap perubahan kondisi aliran Sungai Batangtoru.

Selain menyebabkan kualitas air menurun, kondisi tersebut juga disebut mengancam keberlangsungan tradisi kearifan lokal masyarakat setempat.

Ketua DPW Sarekat Hijau Indonesia Sumatera Utara, Hendra Hasibuan, mengatakan hilangnya tutupan hutan di wilayah hulu menjadi salah satu penyebab utama memburuknya kondisi sungai di kawasan tersebut.

Baca Juga:

"Jika tutupan hutan hilang, tentu akan mempengaruhi aliran sungai sehingga terlihat kumuh, khususnya di daerah Ekosistem Batangtoru. Salah satu dampaknya adalah hilangnya tradisi kearifan lokal seperti Marpangir dan Mamasu Dahanon," kata Hendra, Sabtu, 15 Maret 2026.

Menurutnya, aktivitas di kawasan hulu seperti pembukaan lahan, pertambangan, hingga perkebunan skala besar berkontribusi terhadap deforestasi yang kemudian berdampak pada kualitas air sungai.

Sungai Batangtoru Pernah Dikenal Jernih

Beberapa tahun lalu, kualitas air Sungai Batangtoru bahkan sempat diuji secara simbolis oleh sejumlah pejabat daerah.

Saat itu, mantan Pelaksana Tugas Gubernur Sumatera Utara Gatot Pujo Nugroho dan Bupati Tapanuli Selatan Syahrul M. Pasaribu pernah meminum langsung air sungai tersebut sebagai bentuk keyakinan terhadap kebersihannya.

Pada masa itu, Sungai Batangtoru dikenal memiliki banyak jenis ikan air tawar. Aktivitas memancing dan menjala ikan kerap dilakukan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan konsumsi sehari-hari.

Selain sebagai sumber pangan, sungai juga menjadi ruang sosial dan budaya masyarakat. Tradisi Marpangir dan Mamasu Dahanon—ritual adat yang memanfaatkan air sungai—pernah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat di sepanjang kawasan ekosistem Batangtoru.

Namun kini, aktivitas tersebut hampir tidak lagi dilakukan.

Kekhawatiran Pencemaran

Sejumlah warga menyebut perubahan kondisi sungai membuat mereka tidak lagi berani menggunakan airnya untuk konsumsi.

Salah seorang warga bermarga Pardede mengatakan, pada masa lalu air Sungai Batangtoru kerap dimanfaatkan sebagai sumber air minum setelah dimasak. Saat ini, masyarakat lebih memilih membeli air minum kemasan karena khawatir air sungai telah tercemar.

"Kini sudah tidak ada lagi yang berani minum air sungai. Warga lebih memilih membeli air minum kemasan," katanya.

Warga lainnya juga mengaku khawatir menggunakan air sungai untuk mandi karena takut menimbulkan penyakit kulit seperti gatal-gatal.

Bentang Alam Batangtoru Dinilai Kritis

Hendra Hasibuan menilai kondisi bentang alam Batangtoru saat ini semakin mengkhawatirkan. Selain kerusakan hutan dan pencemaran sungai, sejumlah infrastruktur di kawasan tersebut juga menghadapi ancaman, termasuk Jembatan Trikora yang disebut rawan terdampak erosi.

Menurut dia, aktivitas ekstraktif seperti pertambangan emas, pembangunan pembangkit listrik tenaga air, serta ekspansi perkebunan sawit turut mempercepat degradasi kawasan hutan Batangtoru.

Pantauan dari udara menunjukkan adanya penurunan signifikan tutupan vegetasi di wilayah penyangga hutan.

Berkurangnya vegetasi menyebabkan kemampuan tanah menyerap air hujan menurun. Akibatnya, pada musim hujan debit air sungai meningkat drastis dan membawa sedimen lumpur, sementara pada musim kemarau air sungai menjadi dangkal dan keruh.

"Batangtoru dulu dikenal sebagai kawasan hutan yang lestari dan sungainya dijuluki cermin alam. Sekarang kondisinya banyak berubah. Hutannya berkurang, sungainya kumuh, dan ancaman bencana ekologis semakin sering menghantui masyarakat," ujar Hendra.

Rumah Satwa Langka

Kawasan Ekosistem Batangtoru selama ini dikenal sebagai habitat sejumlah satwa langka, termasuk Orangutan Tapanuli dan Harimau Sumatera.

Selain menjadi rumah bagi keanekaragaman hayati, kawasan ini juga menjadi sumber kehidupan bagi ribuan masyarakat yang tinggal di sepanjang aliran sungai dari hulu hingga hilir.

Namun perubahan lanskap yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir dinilai mulai mengancam keberlanjutan ekosistem tersebut.*

(dh)

Editor
: Nurul
0 komentar
Tags
beritaTerkait
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru