Menkeu Purbaya Pastikan Tidak Akan Naikkan Harga BBM Hingga Akhir 2026
JAKARTA Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa pemerintah tidak akan menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) hingga akh
EKONOMI
TAPANULI SELATAN – Kerusakan tutupan hutan di kawasan Ekosistem Batangtoru dinilai berdampak langsung terhadap perubahan kondisi aliran Sungai Batangtoru.
Selain menyebabkan kualitas air menurun, kondisi tersebut juga disebut mengancam keberlangsungan tradisi kearifan lokal masyarakat setempat.
Ketua DPW Sarekat Hijau Indonesia Sumatera Utara, Hendra Hasibuan, mengatakan hilangnya tutupan hutan di wilayah hulu menjadi salah satu penyebab utama memburuknya kondisi sungai di kawasan tersebut.Baca Juga:
"Jika tutupan hutan hilang, tentu akan mempengaruhi aliran sungai sehingga terlihat kumuh, khususnya di daerah Ekosistem Batangtoru. Salah satu dampaknya adalah hilangnya tradisi kearifan lokal seperti Marpangir dan Mamasu Dahanon," kata Hendra, Sabtu, 15 Maret 2026.
Menurutnya, aktivitas di kawasan hulu seperti pembukaan lahan, pertambangan, hingga perkebunan skala besar berkontribusi terhadap deforestasi yang kemudian berdampak pada kualitas air sungai.
Sungai Batangtoru Pernah Dikenal Jernih
Beberapa tahun lalu, kualitas air Sungai Batangtoru bahkan sempat diuji secara simbolis oleh sejumlah pejabat daerah.
Saat itu, mantan Pelaksana Tugas Gubernur Sumatera Utara Gatot Pujo Nugroho dan Bupati Tapanuli Selatan Syahrul M. Pasaribu pernah meminum langsung air sungai tersebut sebagai bentuk keyakinan terhadap kebersihannya.
Pada masa itu, Sungai Batangtoru dikenal memiliki banyak jenis ikan air tawar. Aktivitas memancing dan menjala ikan kerap dilakukan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan konsumsi sehari-hari.
Selain sebagai sumber pangan, sungai juga menjadi ruang sosial dan budaya masyarakat. Tradisi Marpangir dan Mamasu Dahanon—ritual adat yang memanfaatkan air sungai—pernah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat di sepanjang kawasan ekosistem Batangtoru.
Namun kini, aktivitas tersebut hampir tidak lagi dilakukan.
Kekhawatiran Pencemaran
Sejumlah warga menyebut perubahan kondisi sungai membuat mereka tidak lagi berani menggunakan airnya untuk konsumsi.
Salah seorang warga bermarga Pardede mengatakan, pada masa lalu air Sungai Batangtoru kerap dimanfaatkan sebagai sumber air minum setelah dimasak. Saat ini, masyarakat lebih memilih membeli air minum kemasan karena khawatir air sungai telah tercemar.
"Kini sudah tidak ada lagi yang berani minum air sungai. Warga lebih memilih membeli air minum kemasan," katanya.
Warga lainnya juga mengaku khawatir menggunakan air sungai untuk mandi karena takut menimbulkan penyakit kulit seperti gatal-gatal.
Bentang Alam Batangtoru Dinilai Kritis
Hendra Hasibuan menilai kondisi bentang alam Batangtoru saat ini semakin mengkhawatirkan. Selain kerusakan hutan dan pencemaran sungai, sejumlah infrastruktur di kawasan tersebut juga menghadapi ancaman, termasuk Jembatan Trikora yang disebut rawan terdampak erosi.
Menurut dia, aktivitas ekstraktif seperti pertambangan emas, pembangunan pembangkit listrik tenaga air, serta ekspansi perkebunan sawit turut mempercepat degradasi kawasan hutan Batangtoru.
Pantauan dari udara menunjukkan adanya penurunan signifikan tutupan vegetasi di wilayah penyangga hutan.
Berkurangnya vegetasi menyebabkan kemampuan tanah menyerap air hujan menurun. Akibatnya, pada musim hujan debit air sungai meningkat drastis dan membawa sedimen lumpur, sementara pada musim kemarau air sungai menjadi dangkal dan keruh.
"Batangtoru dulu dikenal sebagai kawasan hutan yang lestari dan sungainya dijuluki cermin alam. Sekarang kondisinya banyak berubah. Hutannya berkurang, sungainya kumuh, dan ancaman bencana ekologis semakin sering menghantui masyarakat," ujar Hendra.
Rumah Satwa Langka
Kawasan Ekosistem Batangtoru selama ini dikenal sebagai habitat sejumlah satwa langka, termasuk Orangutan Tapanuli dan Harimau Sumatera.
Selain menjadi rumah bagi keanekaragaman hayati, kawasan ini juga menjadi sumber kehidupan bagi ribuan masyarakat yang tinggal di sepanjang aliran sungai dari hulu hingga hilir.
Namun perubahan lanskap yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir dinilai mulai mengancam keberlanjutan ekosistem tersebut.*
(dh)
JAKARTA Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa pemerintah tidak akan menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) hingga akh
EKONOMI
JAKARTA Presiden Prabowo Subianto memerintahkan jajarannya untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap desain dan postur kepegawaian na
PEMERINTAHAN
JAKARTA Kuasa hukum selebritas Inara Rusli, Daru Quthny, mengungkapkan bahwa proses olah tempat kejadian perkara (TKP) yang berkaitan de
ENTERTAINMENT
JAKARTA Wakil Ketua Komisi II DPR Zulfikar Arse Sadikin mengusulkan pembentukan Panitia Khusus (Pansus) untuk membahas revisi UndangUnd
NASIONAL
JAKARTA Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan bahwa anggaran untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada tahun 2026 tidak aka
EKONOMI
TAPSEL Masyarakat Aek Garoga, Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan, menyambut gembira dan penuh harapan kedatangan bantuan
PEMERINTAHAN
BADUNG Kantor Imigrasi Ngurah Rai, Bali, berhasil menggagalkan keberangkatan dua Warga Negara Asing (WNA) yang diduga terlibat dalam vid
HUKUM DAN KRIMINAL
JAKARTA Pemerintah tengah mempertimbangkan pemotongan gaji bagi pejabat negara, termasuk menteri dan anggota DPR, sebagai langkah untuk
EKONOMI
JAKARTA Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia, mengungkapkan keprihatinannya terkait besaran uang saku untuk pemudik gratis yang be
POLITIK
MEDAN Penyelenggaraan Piala AFF U19 2026 yang akan digelar di Indonesia semakin dekat. Salah satu stadion yang terpilih menjadi venue pe
OLAHRAGA