JAKARTA – Indonesia Corruption Watch (ICW) mengungkapkan mayoritas guru di Indonesia menilai pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) berdampak langsung terhadap proses belajar mengajar di sekolah.
Temuan itu didasarkan pada laporan Posko Pengaduan Konstitusional Guru yang dibuka Koalisi Selamatkan Pendidikan Indonesia.
Anggota Divisi Advokasi ICW sekaligus perwakilan koalisi, Yassar Aulia, mengatakan sebanyak 151 dari 173 guru pelapor atau sekitar 88 persen menyatakan program MBG mengganggu kegiatan belajar mengajar (KBM).
"Setidaknya 88 persen guru merasa pelaksanaan proyek MBG mempengaruhi kegiatan belajar mengajar," kata Yassar dalam konferensi pers di Jakarta Selatan, Jumat, 17 April 2026.
Ia menjelaskan gangguan paling banyak terjadi pada perubahan jadwal belajar di kelas.
Sebanyak 90 guru melaporkan jam pelajaran terganggu karena distribusi dan konsumsi makanan harus dilakukan di tengah kegiatan sekolah.
"Jam pelajaran berhenti untuk mengambil atau mengonsumsi MBG," ujarnya.
Selain itu, 54 guru menyebut program tersebut menambah beban kerja tenaga pendidik.
Guru disebut harus membagikan makanan, menghitung wadah makanan, hingga membersihkan kelas setelah kegiatan selesai.
"Guru harus membagikan makanan, menghitung ompreng, mengawasi siswa, dan bersih-bersih," kata Yassar.
ICW juga mencatat 41 guru menilai MBG membuat siswa kurang fokus belajar, sementara 30 guru melaporkan distribusi makanan tidak tepat waktu.
Sebanyak 25 guru lainnya mengeluhkan kualitas makanan, termasuk kebersihan dan ketertiban kelas akibat sisa makanan.