Diduga Rem Blong, Tabrakan Beruntun di Dairi Tewaskan 2 Orang dan Lukai 7 Warga
DAIRI Kecelakaan beruntun melibatkan empat kendaraan terjadi di Jalan Nasional SidikalangMedan, tepatnya di Dusun Invaliden, Desa Peg
PERISTIWA
JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkap masih tingginya jumlah rumah tidak layak huni (RTLH) di Indonesia. Berdasarkan hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2025, tercatat sebanyak 18,77 juta rumah tangga masih menempati rumah milik sendiri yang kondisinya belum layak huni.
Data tersebut menunjukkan persoalan kualitas hunian masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi pemerintah, terutama di wilayah Pulau Jawa yang mendominasi jumlah temuan rumah tidak layak huni secara nasional.
Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan Jawa Barat menjadi provinsi dengan jumlah rumah tidak layak huni tertinggi di Indonesia. Disusul Jawa Timur, Jawa Tengah, Banten, dan DKI Jakarta.Baca Juga:
"Berdasarkan Survei Sosial Ekonomi Nasional 2025, di Indonesia terdapat sekitar 18,8 juta rumah tangga yang rumahnya milik sendiri tetapi tidak layak huni," ujarnya,dikutip Minggu (21/6/2026).
Berikut 10 provinsi dengan jumlah rumah tidak layak huni tertinggi berdasarkan data Susenas 2025:
1. Jawa Barat: 4.685.000 rumah tangga
2. Jawa Timur: 2.291.400 rumah tangga
3. Jawa Tengah: 2.180.300 rumah tangga
4. Banten: 836.400 rumah tangga
5. DKI Jakarta: 823.800 rumah tangga
6. Lampung: 647.300 rumah tangga
7. Sumatera Selatan: 635.700 rumah tangga
8. Sumatera Utara: 614.700 rumah tangga
9. Nusa Tenggara Timur (NTT): 455.300 rumah tangga
10. Nusa Tenggara Barat (NTB): 397.200 rumah tangga
Temuan tersebut masuk dalam kategori backlog perumahan, yakni kebutuhan rumah yang belum terpenuhi. Dalam hal ini, backlog mencakup rumah tangga yang belum memiliki rumah sendiri maupun rumah milik sendiri yang kondisinya tidak layak untuk ditempati.
Untuk mengurangi jumlah rumah tidak layak huni, pemerintah melalui Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) terus menggulirkan Program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS). Program ini menyasar masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) yang membutuhkan bantuan renovasi rumah.
Pada tahun 2026, pemerintah menyiapkan kuota sebanyak 400 ribu unit rumah untuk program bedah rumah. Khusus DKI Jakarta, jumlah kuota bantuan ditingkatkan menjadi 10 ribu unit.
Menteri PKP Maruarar Sirait menegaskan data yang disiapkan BPS akan menjadi dasar penyaluran bantuan agar lebih tepat sasaran. Menurutnya, bantuan pemerintah harus benar-benar diterima oleh masyarakat yang membutuhkan dan tidak jatuh ke tangan pihak yang sudah mampu secara ekonomi.
Pemerintah berharap langkah tersebut dapat mempercepat penanganan rumah tidak layak huni sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat di berbagai daerah.*
(d/dh)
DAIRI Kecelakaan beruntun melibatkan empat kendaraan terjadi di Jalan Nasional SidikalangMedan, tepatnya di Dusun Invaliden, Desa Peg
PERISTIWA
JAKARTA Polemik posisi partai penyeimbang yang disematkan kepada PDI Perjuangan kembali memanas di ruang politik nasional. Sejumlah el
POLITIK
BANDA ACEH Satu korban insiden ledakan di Kapal Aceh Hebat (AH) 2, Fakhri Herdieco, meninggal dunia saat menjalani perawatan intensif di
PERISTIWA
MEDAN Kebakaran pabrik plastik dan mainan di kawasan Medan Johor, Kota Medan, hingga Minggu (21/6/2026) siang masih belum sepenuhnya pad
PERISTIWA
JAKARTA Tiga negara dipastikan sudah lebih dulu mengamankan tiket ke babak 32 besar Piala Dunia 2026 setelah menyelesaikan matchday kedu
OLAHRAGA
JAKARTA Polemik penanganan perkara dugaan pelanggaran ekspor elemenit yang menyeret PT Putra Prima Mineral Mandiri (PT PMM) kembali menj
NASIONAL
JAKARTA Harga minyak dunia tercatat mengalami tekanan signifikan di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik setelah Iran kembali mengumu
EKONOMI
AMBON Duta Besar Kerajaan Belanda untuk Indonesia Marc Gerritsen menilai sepak bola memiliki peran penting dalam mempererat hubungan antar
INTERNASIONAL
Oleh M. Jehansyah Siregar, Ph.DKISRUH eksekusi lahan Hotel Sultan di kawasan Gelora Bung Karno (GBK) Senayan, kemarin di Jakarta, sungguh m
OPINI
JAKARTA Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkap masih tingginya jumlah rumah tidak layak huni (RTLH) di Indonesia. Berdasarkan hasil Survei
NASIONAL