Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung
JAKARTA – Sidang Pleno XII Federation of Asian Bishops' Conferences (FABC) 2026 di Jakarta berlangsung aman, tertib, dan tanpa gangguan.
Keberhasilan penyelenggaraan forum para uskup se-Asia ini tidak hanya dinilai dari kelancaran seluruh agenda, tetapi juga dari terciptanya suasana yang nyaman, aman, dan penuh semangat persaudaraan.
Di balik kelancaran kegiatan tersebut, strategi pengamanan yang mengedepankan pendekatan profesional sekaligus humanis menjadi salah satu faktor yang mendapat perhatian.
Baca Juga:
Tim pengamanan dipimpin oleh Brigjen TNI (Purn.) P. Gunung Sarasmoro, S.E., M.E. dan Irjen Pol (Purn.) Herry Dahana, S.H., M.Si., yang merupakan bagian dari Ordinariatus Castrensis Indonesia (OCI) atau Keuskupan Umat Katolik di lingkungan TNI-Polri.
Gunung Sarasmoro mengatakan konsep pengamanan yang diterapkan tidak berorientasi pada unjuk kekuatan, melainkan menciptakan rasa aman tanpa mengurangi kenyamanan para peserta.
"Bagi kami, ukuran keberhasilan pengamanan bukanlah banyaknya personel yang terlihat, melainkan ketika para peserta dapat berdoa, berdialog, dan menjalankan seluruh agenda dengan tenang tanpa pernah merasa sedang dijaga secara berlebihan. Filosofi yang kami pegang adalah security that is present, but not intrusive. Keamanan harus hadir, namun tidak mengganggu," ujar Gunung Sarasmoro, Minggu (26/7/2026).
Menurutnya, pendekatan tersebut diwujudkan melalui sistem pengamanan yang adaptif, berbasis pencegahan, serta didukung pelayanan yang ramah sehingga mampu mencerminkan Indonesia sebagai tuan rumah yang terbuka dan bersahabat.
Irjen Pol (Purn.) Herry Dahana menilai keamanan dalam penyelenggaraan kegiatan internasional tidak dapat dipisahkan dari aspek pelayanan atau hospitality.
Menurut dia, setiap petugas tidak hanya menjalankan fungsi pengamanan, tetapi juga menjadi representasi Indonesia di mata tamu dari berbagai negara.
"Keamanan dan hospitality bukan dua hal yang bertentangan. Justru keduanya harus berjalan seiring. Setiap petugas kami memahami bahwa mereka bukan hanya menjalankan fungsi pengamanan, tetapi juga menjadi wajah pertama Indonesia yang dilihat para tamu internasional saat para delegasi dari berbagai negara tiba di Bandara Soekarno-Hatta," ujarnya.
Karena itu, sikap sopan, komunikasi yang baik, serta penghormatan terhadap keberagaman menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pelaksanaan tugas pengamanan.
Menghadapi tantangan keamanan global yang semakin kompleks, Herry menjelaskan bahwa ancaman saat ini tidak hanya berasal dari gangguan fisik, tetapi juga potensi gangguan di ruang digital.
Untuk mengantisipasi berbagai risiko tersebut, tim pengamanan menerapkan strategi deteksi dini, koordinasi lintas instansi, pertukaran informasi secara cepat, serta kesiapsiagaan yang terukur.
"Kami mengedepankan deteksi dini, koordinasi lintas instansi, pertukaran informasi secara cepat, serta kesiapsiagaan yang terukur agar setiap potensi gangguan dapat diantisipasi sebelum berkembang menjadi masalah," jelasnya.
Selain itu, pengamanan diawali dengan pemetaan risiko secara menyeluruh, mulai dari identifikasi potensi kerawanan, penyusunan langkah mitigasi, hingga penyiapan rencana kontinjensi bagi seluruh agenda maupun tamu VIP.
Gunung Sarasmoro menilai keberhasilan pengamanan Sidang Pleno XII FABC merupakan hasil kerja sama berbagai pihak, mulai dari TNI, Polri, pemerintah, pengelola kawasan bandara, panitia FABC, OCI, hingga unsur pendukung lainnya.
"Tidak ada satu institusi pun yang dapat bekerja sendiri. Masing-masing menjalankan fungsi sesuai kewenangannya, tetapi memiliki tujuan yang sama, yakni memberikan rasa aman kepada seluruh peserta. Kolaborasi inilah yang menjadi wajah nyata semangat gotong royong Indonesia," katanya.
Menurutnya, keberhasilan forum internasional tersebut juga menunjukkan kemampuan Indonesia menjadi ruang dialog lintas bangsa dan lintas agama.
"Kehadiran para uskup dari berbagai negara yang dapat menjalankan seluruh kegiatan dengan aman dan nyaman menunjukkan Indonesia memiliki modal sosial yang kuat berupa toleransi, persaudaraan, dan semangat hidup berdampingan dalam keberagaman," ujarnya.
Bagi Herry Dahana, keamanan bukan sekadar menjaga ketertiban, tetapi juga melindungi martabat manusia dan membangun kepercayaan.
"Hakikat keamanan adalah melindungi martabat manusia. Ketika seseorang merasa aman, ia dapat beribadah dengan khusyuk, bekerja dengan tenang, berdialog secara terbuka, dan membangun persaudaraan tanpa rasa takut. Karena itu, keamanan adalah bentuk pelayanan kepada sesama," tutur Herry.
Senada dengan itu, Gunung Sarasmoro menegaskan bahwa keberhasilan pengamanan tidak hanya ditentukan oleh jumlah personel maupun perlengkapan, tetapi juga oleh kepercayaan dan komunikasi yang baik antarpemangku kepentingan.
Menurutnya, penghargaan terbesar bagi tim pengamanan bukan sekadar nihilnya insiden selama penyelenggaraan FABC, melainkan ketika seluruh delegasi kembali ke negara masing-masing dengan membawa kesan positif tentang Indonesia.
"Momen yang paling membanggakan adalah ketika para peserta meninggalkan Indonesia dengan membawa kesan bahwa mereka merasa aman, dihormati, dan diterima sebagai saudara. Itulah penghargaan terbesar bagi setiap insan yang bertugas di bidang keamanan," pungkas Gunung Sarasmoro.* (ad)
Tags
beritaTerkait
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.