BREAKING NEWS
Sabtu, 29 Agustus 2026

Etos Kerja dalam Islam: Jangan Hanya Kejar Gaji dan Jabatan

T.Jamaluddin - Sabtu, 29 Agustus 2026 07:40 WIB
Etos Kerja dalam Islam: Jangan Hanya Kejar Gaji dan Jabatan
Ust. H. Abrar Zym, S.Ag., MH. (foto: Ist/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

BANDA ACEH – Ust. H. Abrar Zym, S.Ag., MH membahas pentingnya etos kerja dalam Islam dalam pengkajian rutin Sabtu Subuh di Masjid Tgk Jakfar Hanafiah, Kampus Universitas Muhammadiyah Aceh (UNMUHA) Banda Aceh, 28 Agustus 2026.

Dalam kajiannya, Abrar menjelaskan bahwa Islam tidak hanya mengatur persoalan ibadah ritual seperti salat, puasa, dan zakat.

Islam juga mengatur bagaimana manusia bekerja, mencari nafkah, mengelola amanah, menggunakan waktu, menjalankan tanggung jawab, serta memberikan manfaat kepada orang lain.

Baca Juga:

"Karena itu, bekerja dalam Islam tidak boleh dipandang semata-mata sebagai aktivitas untuk memperoleh penghasilan, tetapi harus menjadi bagian dari pengabdian kepada Allah SWT."

Menurut dia, etos kerja secara sederhana merupakan nilai, sikap mental, kebiasaan, dan karakter yang mendorong seseorang bekerja dengan sungguh-sungguh, bertanggung jawab, disiplin, jujur, serta memberikan hasil terbaik.

"Maka, etos kerja dalam Islam adalah sikap seorang Muslim dalam bekerja yang dilandasi iman, keikhlasan, tanggung jawab, kejujuran, profesionalitas, dan kesadaran bahwa pekerjaannya akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT."

Abrar mengatakan tujuan hidup manusia adalah beribadah kepada Allah.

Ia mengutip Surah Az-Zariyat ayat 56 yang menjelaskan bahwa manusia dan jin diciptakan untuk beribadah kepada Allah.

Menurut dia, makna ibadah dalam Islam tidak terbatas pada ibadah ritual. Ketaatan kepada Allah juga harus tercermin dalam seluruh kehidupan, termasuk dalam pekerjaan.

"Karena itu, bekerja mencari nafkah yang halal, apabila dilakukan dengan niat yang benar dan cara yang benar, dapat menjadi bagian dari ibadah."

Ia menjelaskan nilai sebuah pekerjaan tidak hanya ditentukan jenis pekerjaan tersebut. Niat, cara, dan tujuan di balik pekerjaan juga menjadi bagian penting.

"Seorang petani yang bekerja dengan jujur, pedagang yang tidak menipu, dosen yang mengajar dengan sungguh-sungguh, pegawai yang menjalankan tugas dengan amanah, dokter yang melayani pasien dengan baik, maupun pekerja yang mencari nafkah dengan tangannya sendiri, semuanya dapat bernilai ibadah apabila dilakukan karena Allah dan tidak melanggar syariat."

Abrar mengatakan Islam mengajarkan umatnya untuk mencari rezeki yang halal dan baik.

Ia merujuk Surah Al-Baqarah ayat 168 yang memerintahkan manusia memakan apa yang ada di bumi yang halal dan baik serta tidak mengikuti langkah-langkah setan.

"Halal dan baik bukan hanya berkaitan dengan apa yang kita peroleh, tetapi juga bagaimana cara kita memperolehnya."

Menurut dia, penghasilan yang besar tidak otomatis membawa keberkahan apabila diperoleh melalui penipuan, korupsi, suap, manipulasi, mengambil hak orang lain, atau penyalahgunaan jabatan.

"Karena itu, seorang Muslim harus memperhatikan setidaknya tiga hal: apa yang diperoleh, bagaimana cara memperolehnya, dan untuk apa digunakan."

"Jangan sampai kita membawa pulang uang yang banyak, tetapi ternyata di dalamnya terdapat hak orang lain. Jangan sampai keluarga kita kenyang karena makanan yang sumbernya tidak halal. Sebab yang kita cari bukan sekadar banyaknya rezeki, tetapi rezeki yang halal, baik, dan penuh keberkahan."

Ia juga mengutip Surah Al-Jumu'ah ayat 10 yang memerintahkan manusia untuk bertebaran di muka bumi dan mencari karunia Allah setelah selesai melaksanakan salat, sembari tetap banyak mengingat Allah.

Menurut Abrar, ayat tersebut menunjukkan bahwa ibadah dan aktivitas mencari nafkah tidak harus dipertentangkan.

"Maka, jangan jadikan kesibukan bekerja sebagai alasan meninggalkan Allah, dan jangan pula menjadikan ibadah sebagai alasan untuk malas bekerja. Islam mengajarkan keseimbangan: hati tetap bergantung kepada Allah, sementara tangan tetap bekerja dan berusaha."

Abrar juga menyinggung ungkapan yang sering dinisbatkan kepada Ali bin Abi Thalib bahwa rezeki itu ada dua, yakni rezeki yang dicari dan rezeki yang datang kepada manusia.

Ia mengingatkan ungkapan tersebut tidak perlu dijadikan hadis atau dalil syariat.

"Yang jelas, Islam mengajarkan manusia untuk berusaha. Tawakal bukan berarti pasif menunggu rezeki, melainkan berusaha dengan sungguh-sungguh, kemudian menyerahkan hasilnya kepada Allah."

Menurut Abrar, etos kerja berikutnya yang penting adalah amanah. Setiap pekerjaan mengandung tanggung jawab yang akan dimintai pertanggungjawaban.

"Ketika seseorang menerima jabatan, tanggung jawab, gaji, fasilitas, atau kepercayaan, sesungguhnya ia sedang menerima amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban."

Ia mengutip hadis Rasulullah SAW bahwa setiap orang adalah pemimpin dan setiap orang akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya.

Karena itu, amanah dalam pekerjaan bukan hanya berarti tidak mencuri.

Amanah juga berarti datang ketika harus datang, bekerja ketika harus bekerja, menyelesaikan tugas yang menjadi tanggung jawabnya, menggunakan fasilitas sesuai peruntukannya, menjaga rahasia, tidak menyalahgunakan jabatan, dan tidak mengambil hak yang bukan miliknya.

"Seseorang yang menerima gaji tetapi sengaja bermalas-malasan, sering meninggalkan pekerjaan tanpa alasan yang benar, menggunakan fasilitas kantor untuk kepentingan pribadi, atau menerima tanggung jawab tetapi tidak melaksanakannya dengan baik, sesungguhnya sedang menghadapi persoalan amanah."

Ia mengatakan gaji bukan hanya pembayaran atas kehadiran, melainkan kompensasi atas tanggung jawab dan pekerjaan yang dipercayakan.

"Karena itu, setiap rupiah yang kita terima harus sebanding dengan amanah yang kita tunaikan."

Abrar mengatakan amanah juga merupakan bentuk syukur kepada Allah. Pekerjaan, jabatan, keahlian, kesehatan, kesempatan, dan penghasilan merupakan nikmat yang harus dijaga.

Ia mengutip Surah Ibrahim ayat 7 bahwa jika manusia bersyukur, Allah akan menambah nikmatnya, sedangkan jika manusia mengingkari nikmat, azab Allah sangat berat.

"Maka, salah satu bentuk syukur seorang pegawai adalah bekerja dengan baik. Salah satu bentuk syukur seorang pemimpin adalah memimpin dengan adil. Salah satu bentuk syukur seorang pedagang adalah berdagang dengan jujur. Salah satu bentuk syukur seorang guru adalah mengajar dengan sungguh-sungguh."

Ia mengingatkan seseorang tidak semestinya hanya menginginkan kenaikan gaji atau jabatan, tetapi tidak meningkatkan kualitas kerja dan tanggung jawab.

"Jangan sampai kita meminta kenaikan gaji, tetapi kualitas kerja tidak meningkat. Jangan sampai kita menginginkan jabatan yang lebih tinggi, tetapi amanah yang sekarang saja belum kita tunaikan dengan baik."

Menurut Abrar, dunia kerja penuh dengan ujian. Seseorang bisa bekerja dengan baik ketika diawasi, tetapi berubah ketika tidak ada pengawasan.

"Ada orang yang mampu bekerja dengan baik ketika diawasi, tetapi berubah ketika tidak diawasi. Ada yang jujur ketika tidak memiliki kesempatan berbuat curang, tetapi ketika memiliki kekuasaan justru menyalahgunakan kekuasaannya."

Ia mengatakan kualitas etos kerja seseorang justru terlihat ketika tidak ada manusia yang mengawasinya.

"Ketika atasan tidak berada di tempat, apakah kita tetap bekerja? Ketika tidak ada kamera, apakah kita tetap jujur? Ketika ada kesempatan mengambil sesuatu yang bukan hak kita, apakah kita mampu menahan diri?"

Menurut Abrar, iman menjadi pengawas paling kuat bagi seorang Muslim.

"Di sinilah iman menjadi pengawas yang paling kuat. Orang yang memiliki kesadaran bahwa Allah selalu melihatnya akan berusaha menjaga amanah meskipun tidak ada manusia yang mengawasinya."

Ia juga mengingatkan hadis Rasulullah SAW mengenai amanah yang disia-siakan ketika suatu urusan diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya.

"Karena itu, dalam kehidupan organisasi, lembaga, pemerintahan, perusahaan, maupun institusi pendidikan, jabatan harus diberikan kepada orang yang memiliki kemampuan dan amanah, bukan semata-mata kepada orang yang dekat dengan kita."

Etos kerja berikutnya adalah profesionalitas. Abrar mengatakan pekerjaan harus dilakukan dengan ilmu, kemampuan, ketelitian, dan kesungguhan.

"Islam tidak mengajarkan kita menjadi orang yang asal bekerja. Islam mendorong seorang Muslim menjadi orang yang kuat, produktif, dan memberikan manfaat."

Ia mengutip hadis Rasulullah SAW dalam Sahih Muslim 2664 mengenai mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, meskipun pada keduanya terdapat kebaikan.

Menurut Abrar, kekuatan tidak hanya berarti kuat secara fisik, tetapi juga kuat iman, mental, ilmu, keterampilan, disiplin, serta kemampuan menghadapi tantangan.

"Kekuatan dalam konteks ini tidak hanya berarti kuat secara fisik, tetapi juga kuat iman, kuat mental, kuat ilmu, kuat keterampilan, kuat disiplin, dan kuat menghadapi tantangan."

Ia mengatakan seorang Muslim tidak boleh merasa cukup dengan kemampuan yang dimilikinya saat ini.

Perubahan teknologi dan kebutuhan masyarakat membuat manusia perlu terus belajar.

"Karena itu, etos kerja Islami juga berarti terus belajar, meningkatkan kompetensi, memperbaiki kualitas, dan tidak berhenti melakukan inovasi."

Abrar juga mengambil pelajaran dari peristiwa hijrah Rasulullah SAW yang menurutnya menunjukkan pentingnya perencanaan dan pembagian tugas.

"Artinya, kerja yang baik adalah menempatkan orang pada posisi yang sesuai dengan kemampuan dan amanahnya. Orang yang ahli di bidangnya diberi ruang untuk bekerja, sementara orang yang belum memiliki kompetensi perlu diberi kesempatan untuk belajar dan berkembang."

Abrar mengingatkan agar umat Islam tidak merendahkan pekerjaan yang halal.

"Apa pun pekerjaan yang halal, jangan pernah merendahkannya. Yang membuat sebuah pekerjaan mulia bukan semata-mata tinggi rendahnya jabatan, tetapi halal tidaknya pekerjaan, manfaatnya, kejujuran pelakunya, dan kualitas tanggung jawabnya."

Menurut dia, setiap pekerjaan memiliki nilai selama dilakukan dengan benar dan memberikan manfaat.

"Seorang petani yang menghasilkan pangan, nelayan yang menyediakan kebutuhan masyarakat, pedagang yang jujur, petugas kebersihan yang menjaga lingkungan, guru yang mendidik generasi, tenaga kesehatan yang melayani pasien, dosen yang mengembangkan ilmu, pegawai yang melayani masyarakat, semuanya memiliki kehormatan apabila menjalankan pekerjaannya dengan benar."

Ia mengajak umat melihat pekerjaan bukan semata sebagai beban, melainkan sebagai kepercayaan dan kesempatan untuk berbuat baik.

"Bekerja dengan baik berarti memberikan manfaat. Semakin besar manfaat yang diberikan, semakin besar pula nilai sosial dari pekerjaan tersebut."

Selain amanah dan profesionalitas, disiplin waktu menjadi bagian penting dalam etos kerja. Abrar menyebut waktu sebagai modal yang tidak dapat dikembalikan.

"Uang yang hilang masih mungkin dicari kembali, tetapi waktu yang telah berlalu tidak akan pernah kembali."

Menurut dia, orang yang menghargai waktu akan menghargai pekerjaannya.

Datang tepat waktu, menyelesaikan pekerjaan sesuai jadwal, tidak menunda tugas, menggunakan jam kerja sebagaimana mestinya, serta menghormati waktu orang lain merupakan bagian dari akhlak seorang Muslim.

"Kedisiplinan adalah bentuk nyata dari penghargaan terhadap amanah."


Abrar menegaskan etos kerja dalam Islam bukan hanya mengenai kerja keras.

Kejujuran, amanah, profesionalitas, disiplin, dan manfaat juga harus menjadi bagian dari pekerjaan.

"Kerja keras tanpa kejujuran bisa menghasilkan kerusakan. Kecerdasan tanpa amanah bisa menjadi alat untuk menipu. Jabatan tanpa integritas bisa menjadi sumber kezaliman. Kekuasaan tanpa tanggung jawab bisa merugikan banyak orang."

Karena itu, menurut dia, etos kerja Islami harus menyatukan sejumlah nilai utama, yakni niat yang ikhlas, rezeki yang halal dan baik, amanah, kejujuran, profesionalitas, disiplin, kerja keras, pantang menyerah, terus belajar, dan memberikan manfaat.

Ia kemudian mengajak setiap orang melakukan introspeksi terhadap pekerjaan yang dijalani.

"Maka, marilah kita bertanya kepada diri kita masing-masing: Sudahkah pekerjaan kita menjadi bagian dari ibadah? Sudahkah penghasilan kita benar-benar halal? Sudahkah kita amanah dengan jabatan yang diberikan? Sudahkah kita memberikan hasil terbaik dari waktu yang dibayar oleh lembaga atau orang lain? Dan apakah keberadaan kita di tempat kerja benar-benar memberikan manfaat?"

Abrar mengingatkan agar umat tidak hanya mengejar penghasilan dan jabatan, tetapi juga menjaga keberkahan dan amanah.

"Jangan sampai kita hanya mengejar gaji, tetapi kehilangan berkah. Jangan hanya mengejar jabatan, tetapi kehilangan amanah. Jangan hanya mengejar karier, tetapi kehilangan kejujuran. Jangan hanya mengejar kesuksesan dunia, tetapi melupakan pertanggungjawaban di akhirat."

Ia menutup kajiannya dengan mengajak umat bekerja dengan niat karena Allah, berusaha dengan sungguh-sungguh, mencari rezeki dengan cara yang halal, menunaikan amanah, meningkatkan profesionalitas, menghargai waktu, dan bertawakal setelah seluruh ikhtiar dilakukan.

"Sebab etos kerja seorang Muslim bukan sekadar bagaimana mendapatkan penghasilan, tetapi bagaimana mendapatkan keberkahan. Bukan sekadar bagaimana menjadi orang sukses, tetapi bagaimana menjadi orang yang bermanfaat. Dan bukan sekadar bagaimana mendapatkan kehidupan yang baik di dunia, tetapi bagaimana mempertanggungjawabkan seluruh usaha itu di hadapan Allah SWT."

"Semoga Allah menjadikan kita orang-orang yang kuat imannya, halal rezekinya, amanah pekerjaannya, profesional dalam menjalankan tugasnya, disiplin dalam menggunakan waktunya, dan luas manfaatnya bagi keluarga, masyarakat, bangsa, agama, dan kemanusiaan."

"Semoga setiap langkah kita dalam bekerja menjadi amal saleh, setiap lelah menjadi pahala, setiap rezeki menjadi keberkahan, dan setiap amanah dapat kita pertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT."

"Aamiin ya Rabbal 'alamin."* (ad)

Editor
: Adelia Syafitri
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Musim Kemarau Panjang? Ini Niat dan Tata Cara Salat Istisqa untuk Memohon Hujan
Prakiraan Cuaca Aceh Hari Ini, Sabtu 29 Agustus 2026: Sebagian Besar Wilayah Berawan
Bawa Dua Koper Besar, KPK Geruduk Kantor Disdik Kabupaten Bogor Terkait Korupsi Pengadaan
2,4 Juta Lapangan Kerja Dijanjikan Tercipta, Purbaya Akui Belum Cukup Atasi 7,2 Juta Pengangguran
Terkikisnya Akhlak dan Adab Jadi Keprihatinan, Umat Islam Diminta Bijak Bermedia Sosial
4 Terdakwa Kasus Korupsi Divonis Bebas di PN Medan Sepanjang Agustus 2026, Ini Respons Kejati Sumut
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru