BREAKING NEWS
Selasa, 01 September 2026

Meski Wilayahnya Lebih Kecil dari Rusia, Intensitas Emisi Karhutla RI Justru 7 Kali Lebih Parah

Dharma - Selasa, 01 September 2026 11:36 WIB
Meski Wilayahnya Lebih Kecil dari Rusia, Intensitas Emisi Karhutla RI Justru 7 Kali Lebih Parah
Api membakar lahan di Desa Tumbang Nusa, Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah, Minggu (30/08). (Foto: ANTARA FOTO/Auliya Rahman)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menjelaskan kepada Reuters bahwa suhu udara yang lebih tinggi dan kondisi kering ekstrem membuat api dapat menyebar lebih cepat.

Pihak berwenang Indonesia juga mencatat indeks El Nino tahun ini telah melampaui level yang terjadi pada 2015. Ahli iklim Columbia University James Hansen bahkan menggambarkan kondisi El Nino tahun ini berada di luar rentang normal.

Sementara itu, layanan pemantau iklim Uni Eropa, Copernicus, melaporkan suhu permukaan laut global turut mencatat rekor baru. Suhu permukaan laut global mencapai sekitar 21,1 derajat Celsius pada 22 Agustus.

Lonjakan kebakaran hutan juga terjadi di sejumlah negara lain. Kekeringan global memicu peningkatan kebakaran di Belahan Bumi Utara yang berdampak terhadap polusi udara dan emisi gas rumah kaca di Amerika Utara, Eurasia hingga kawasan Arktik.

Di Amerika Serikat, kebakaran melanda kawasan permukiman di Nevada dan Washington. Kanada juga sempat mengeluarkan perintah evakuasi massal akibat meningkatnya titik api pada Juli.

Sementara di Eropa, Belgia dan Spanyol mencatat kebakaran besar, sedangkan wilayah barat daya Prancis juga kehilangan ratusan rumah. Data Uni Eropa mencatat lebih dari 680.000 hektare lahan terbakar di Eropa sepanjang tahun ini.

Meski kebakaran menjadi fenomena global, Indonesia memiliki tantangan tersendiri karena sebagian wilayah rawan berada di lahan gambut. Ketika mengalami kekeringan, gambut menjadi lebih sulit dipadamkan.

Praktik pembukaan lahan dengan metode pembakaran juga masih menjadi salah satu faktor risiko karhutla di Indonesia. Selain itu, deforestasi dapat meningkatkan kerawanan karena menurunkan muka air tanah dan mengurangi kelembapan lahan.

Kebakaran di lahan gambut juga sulit ditangani karena api dapat bertahan di bawah permukaan tanah dalam waktu lama. Bara yang tersimpan di dalam gambut dapat membuat api sulit dideteksi dan dipadamkan secara menyeluruh.

Sejak bencana besar 2015, pemerintah berupaya menggeser penanganan karhutla dari sekadar pemadaman menuju pencegahan. Penegakan hukum terhadap pelanggaran, restorasi lahan gambut, serta pemulihan tinggi muka air tanah terus dilakukan.

Berbagai upaya tersebut dinilai membantu mengendalikan penyebaran api. Namun, meningkatnya jumlah titik panas, luas lahan terbakar, serta tingginya emisi menunjukkan ancaman karhutla masih menjadi persoalan serius yang membutuhkan penanganan berkelanjutan.* (k/dh)

Editor
: Dharma
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Janji Gaji Tinggi hingga Kewarganegaraan Instan, Modus Rusia Diduga Rekrut 8 WNI Jadi Tentara Terbongkar
Bukan Cuma Buat Atasi Karhutla, DPR Ungkap Alasan Suku Dayak Dapat 'Privilege' Khusus Masuk TNI
Delapan Nama WNI Muncul di Data Intelijen Ukraina sebagai Tentara Rusia, Menhan RI Justru Mengaku Belum Tahu
Menhut Raja Juli Tegaskan Hukum Karhutla Tak Boleh Tajam ke Bawah, Tumpul ke Atas
Menhan Sjafrie: Penanganan Karhutla Tak Bisa Hanya Andalkan Pemerintah
Survei Poltracking: 51,2 Persen Publik Nilai Komunikasi Pemerintah Baik, Tapi Kepuasan terhadap Kinerja Prabowo-Gibran Anjlok
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru