BREAKING NEWS
Selasa, 01 September 2026

Meski Wilayahnya Lebih Kecil dari Rusia, Intensitas Emisi Karhutla RI Justru 7 Kali Lebih Parah

Dharma - Selasa, 01 September 2026 11:36 WIB
Meski Wilayahnya Lebih Kecil dari Rusia, Intensitas Emisi Karhutla RI Justru 7 Kali Lebih Parah
Api membakar lahan di Desa Tumbang Nusa, Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah, Minggu (30/08). (Foto: ANTARA FOTO/Auliya Rahman)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

JAKARTA - Emisi karbon akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia sepanjang tahun ini mencapai 17,1 juta ton metrik. Angka tersebut menempatkan Indonesia sebagai negara dengan emisi kebakaran hutan terbesar kedua di dunia setelah Rusia.

Data Fire Emissions Watch milik Copernicus menunjukkan emisi karhutla Indonesia tahun ini mencapai 429% di atas rata-rata musiman. Namun, jika dibandingkan berdasarkan luas wilayah, intensitas emisi Indonesia justru jauh lebih tinggi.

Intensitas emisi kebakaran di Indonesia tercatat mencapai 1.302 kilogram per kilometer persegi. Angka itu sekitar tujuh kali lebih tinggi dibandingkan Rusia yang berada di level 185 kilogram per kilometer persegi.

Baca Juga:

Kondisi tersebut terjadi saat Indonesia memasuki periode dengan risiko karhutla yang tinggi. Pemerintah pun meningkatkan kesiapsiagaan untuk mencegah kebakaran meluas dan menghindari terulangnya bencana kabut asap seperti yang terjadi pada 2015.

Penanganan karhutla kini dipusatkan di lima provinsi di Kalimantan yang memiliki hamparan lahan gambut luas dan rawan terbakar. Sejumlah pesawat pemadam kebakaran juga telah disiagakan untuk mengantisipasi meluasnya api.

Selain pemadaman langsung, pemerintah mengerahkan teknologi modifikasi cuaca atau penyemaian awan. Langkah tersebut dilakukan untuk membantu meningkatkan potensi hujan di sekitar wilayah yang memiliki titik panas dan mengurangi risiko penyebaran api maupun asap.

Peningkatan ancaman karhutla juga terlihat dari jumlah titik panas. Sistem pemantauan kebakaran Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Sipongi, mencatat lebih dari 9.000 titik panas sepanjang Agustus.

Jumlah tersebut lebih tinggi dibandingkan 5.077 titik panas yang tercatat pada Agustus 2015. Meski demikian, angka tersebut masih di bawah rekor tertinggi bulanan yang tercatat pada Oktober 2015 dengan 17.302 titik panas.

Selain lonjakan titik panas, hampir 95.000 hektare lahan di Indonesia terbakar pada Juli lalu. Luas tersebut hampir dua kali lipat dibandingkan total luas lahan yang terbakar selama enam bulan sebelumnya.

Kebakaran tersebut terjadi bersamaan dengan catatan suhu bulanan tertinggi dalam 35 tahun terakhir. Meski skalanya belum menyamai bencana karhutla 2015, pemerintah tetap mewaspadai peningkatan kebakaran tahun ini.

Pada 2015, karhutla Indonesia pernah menghasilkan emisi karbon dioksida harian dalam jumlah sangat besar. Sejumlah studi juga memperkirakan paparan polusi kabut asap akibat bencana tersebut berkontribusi terhadap lebih dari 100.000 kematian dini di Indonesia, Malaysia, dan Singapura.

Peningkatan risiko karhutla tahun ini juga berkaitan dengan kondisi iklim yang ekstrem. Fenomena El Nino tidak secara langsung menciptakan titik api, tetapi dapat mempercepat penyebaran kebakaran karena meningkatkan suhu dan menyebabkan kekeringan.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menjelaskan kepada Reuters bahwa suhu udara yang lebih tinggi dan kondisi kering ekstrem membuat api dapat menyebar lebih cepat.

Pihak berwenang Indonesia juga mencatat indeks El Nino tahun ini telah melampaui level yang terjadi pada 2015. Ahli iklim Columbia University James Hansen bahkan menggambarkan kondisi El Nino tahun ini berada di luar rentang normal.

Sementara itu, layanan pemantau iklim Uni Eropa, Copernicus, melaporkan suhu permukaan laut global turut mencatat rekor baru. Suhu permukaan laut global mencapai sekitar 21,1 derajat Celsius pada 22 Agustus.

Lonjakan kebakaran hutan juga terjadi di sejumlah negara lain. Kekeringan global memicu peningkatan kebakaran di Belahan Bumi Utara yang berdampak terhadap polusi udara dan emisi gas rumah kaca di Amerika Utara, Eurasia hingga kawasan Arktik.

Di Amerika Serikat, kebakaran melanda kawasan permukiman di Nevada dan Washington. Kanada juga sempat mengeluarkan perintah evakuasi massal akibat meningkatnya titik api pada Juli.

Sementara di Eropa, Belgia dan Spanyol mencatat kebakaran besar, sedangkan wilayah barat daya Prancis juga kehilangan ratusan rumah. Data Uni Eropa mencatat lebih dari 680.000 hektare lahan terbakar di Eropa sepanjang tahun ini.

Meski kebakaran menjadi fenomena global, Indonesia memiliki tantangan tersendiri karena sebagian wilayah rawan berada di lahan gambut. Ketika mengalami kekeringan, gambut menjadi lebih sulit dipadamkan.

Praktik pembukaan lahan dengan metode pembakaran juga masih menjadi salah satu faktor risiko karhutla di Indonesia. Selain itu, deforestasi dapat meningkatkan kerawanan karena menurunkan muka air tanah dan mengurangi kelembapan lahan.

Kebakaran di lahan gambut juga sulit ditangani karena api dapat bertahan di bawah permukaan tanah dalam waktu lama. Bara yang tersimpan di dalam gambut dapat membuat api sulit dideteksi dan dipadamkan secara menyeluruh.

Sejak bencana besar 2015, pemerintah berupaya menggeser penanganan karhutla dari sekadar pemadaman menuju pencegahan. Penegakan hukum terhadap pelanggaran, restorasi lahan gambut, serta pemulihan tinggi muka air tanah terus dilakukan.

Berbagai upaya tersebut dinilai membantu mengendalikan penyebaran api. Namun, meningkatnya jumlah titik panas, luas lahan terbakar, serta tingginya emisi menunjukkan ancaman karhutla masih menjadi persoalan serius yang membutuhkan penanganan berkelanjutan.* (k/dh)

Editor
: Dharma
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Janji Gaji Tinggi hingga Kewarganegaraan Instan, Modus Rusia Diduga Rekrut 8 WNI Jadi Tentara Terbongkar
Bukan Cuma Buat Atasi Karhutla, DPR Ungkap Alasan Suku Dayak Dapat 'Privilege' Khusus Masuk TNI
Delapan Nama WNI Muncul di Data Intelijen Ukraina sebagai Tentara Rusia, Menhan RI Justru Mengaku Belum Tahu
Menhut Raja Juli Tegaskan Hukum Karhutla Tak Boleh Tajam ke Bawah, Tumpul ke Atas
Menhan Sjafrie: Penanganan Karhutla Tak Bisa Hanya Andalkan Pemerintah
Survei Poltracking: 51,2 Persen Publik Nilai Komunikasi Pemerintah Baik, Tapi Kepuasan terhadap Kinerja Prabowo-Gibran Anjlok
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru