Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung
JAKARTA - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 142 orang meninggal dunia akibat gempa bumi magnitudo 7,7 yang mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada 15 Agustus 2026. Dari jumlah tersebut, 48 orang meninggal akibat dampak langsung gempa, sedangkan 94 lainnya meninggal saat berada di lokasi pengungsian.
Data tersebut kembali menjadi sorotan setelah pegiat media sosial Jhon Sitorus mempertanyakan penanganan warga terdampak bencana di NTT. Dia menilai meninggalnya warga ketika berada di pengungsian perlu mendapat perhatian serius.
"Meninggal saat di pengungsian ini namanya pembiaran, biadab," ujar Jhon, dikutip Kamis (17/9/2026).
Baca Juga:
Jhon juga mempertanyakan apakah penanganan bencana di NTT mendapat perhatian yang sama dibandingkan daerah lain. Dia mengaitkan kondisi tersebut dengan lokasi NTT yang berada di luar Pulau Jawa.
"Apa karena NTT bukan pulau Jawa? Apa karena NTT tidak dianggap begitu penting untuk bonus politik? Siapapun kalian, tolong lihat sebentar NTT," katanya.
Selain korban meninggal, BNPB mencatat sebanyak 1.603 orang mengalami luka-luka akibat gempa. Hingga kini, masih ada 46.461 warga yang berada di pengungsian.
Jumlah pengungsi tersebut sebenarnya telah menurun dibandingkan kondisi sebelumnya. BNPB menyebut jumlah warga yang mengungsi sempat mencapai lebih dari 150 ribu orang.
"Saat ini pengungsi itu sudah jauh turun, yang kemarin-kemarin sampai 150 ribu lebih, sekarang hanya 46.461 jiwa," kata Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan, dikutip Antara.
Meski jumlah pengungsi telah berkurang, puluhan ribu warga masih harus bertahan di tempat pengungsian karena sejumlah rumah belum dapat ditempati kembali.
BNPB juga masih melakukan proses verifikasi dan validasi terhadap kerusakan rumah di tujuh kabupaten terdampak. Per 7 September 2026, sebanyak 51.591 rumah telah diverifikasi dari total 102.384 unit data awal.
Dampak gempa juga terlihat dari kerusakan fasilitas umum. Berdasarkan data yang menjadi dasar laporan tersebut, sebanyak 103.427 rumah mengalami kerusakan dengan tingkat berbeda.
Selain rumah, kerusakan dilaporkan terjadi pada 712 fasilitas pendidikan, 558 rumah ibadah, 157 fasilitas kesehatan dan 685 unit kantor. Sebanyak 1.175 titik jalan serta 50 fasilitas irigasi juga tercatat terdampak.
Tags
beritaTerkait
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.