Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung
JAKARTA - Politikus senior Partai Golkar Rully Chairul Azwar membahas peluang pengembangan bisnis pengolahan sampah di Indonesia. Pembahasan tersebut mencakup pemanfaatan teknologi termal, pengolahan sampah menjadi energi listrik, hingga pengembangan Refuse-Derived Fuel (RDF) sebagai bahan bakar alternatif untuk industri semen.
Diskusi tersebut turut menghadirkan Kemal Pasya, pengusaha pengolahan sampah dari Serpong, Tangerang, yang menyampaikan kapasitas usahanya sekitar 20 ton per hari. Hadir pula Prof. Dr. Indira Santi Kertabudi dari Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) serta Panca Dwikora Aba Soekarno, Pimpinan Redaksi JurnalPatroliNews.
Pembahasan berfokus pada peluang penerapan teknologi pengolahan sampah di berbagai kota dan kabupaten di Indonesia. Selain aspek teknologi, diskusi juga menyoroti model bisnis, pembiayaan, kebutuhan operasional, serta potensi pemanfaatan hasil pengolahan.
Baca Juga:
Sampah Tak Hanya Jadi Persoalan Lingkungan
Persoalan sampah di Indonesia tidak hanya berkaitan dengan kebersihan lingkungan, tetapi juga menyangkut keterbatasan fasilitas pengolahan, biaya pengangkutan, kapasitas tempat pemrosesan akhir (TPA), dan pengelolaan residu.
Keterbatasan infrastruktur membuat sejumlah daerah menghadapi tantangan dalam menangani timbulan sampah yang terus membutuhkan penanganan. Kondisi tersebut membuka peluang pengembangan teknologi dan layanan pengolahan sampah yang dapat memberikan manfaat lingkungan sekaligus nilai ekonomi.
Dalam diskusi bersama Rully Chairul Azwar dan Kemal Pasya, peluang usaha dibahas tidak hanya melalui penjualan mesin, tetapi juga penyewaan peralatan, layanan pengolahan, pemeliharaan, pengangkutan, dan pemanfaatan produk hasil pengolahan.
Meski demikian, kelayakan setiap model bisnis tetap bergantung pada kebutuhan daerah, karakteristik sampah, ketersediaan bahan baku, struktur biaya, dan kepastian pasar.
Teknologi Termal hingga 1.500 Derajat Celsius
Salah satu teknologi yang diperkenalkan dalam pertemuan tersebut adalah pengolahan sampah berbasis termal dengan temperatur proses yang disebut dapat mencapai sekitar 1.500 derajat Celsius.
Materi presentasi produk mencantumkan sejumlah pilihan kapasitas pengolahan, mulai dari 1 ton, 10 ton, 20 ton, 50 ton, 120 ton, hingga 240 ton per hari. Namun, kapasitas tersebut masih perlu diverifikasi melalui dokumen teknis dan pengujian operasional masing-masing model.
Teknologi termal diperkenalkan sebagai salah satu pendekatan untuk mengurangi volume sampah. Dalam diskusi, penerapannya juga dikaitkan dengan potensi pemulihan energi dan pengembangan fasilitas pengolahan di daerah.
Materi yang dipresentasikan turut mencantumkan teknologi industri Rusia. Meski begitu, identitas produsen, asal komponen, metode pemrosesan, dan bukti penerapan teknologi tersebut masih perlu dikonfirmasi lebih lanjut.
Tags
beritaTerkait
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.