BREAKING NEWS
Kamis, 15 Oktober 2026

Medan Alami Penurunan Muka Tanah 33 Milimeter per Tahun, Ini Hasil Penelitian Internasional

Nurul - Rabu, 14 Oktober 2026 21:57 WIB
Medan Alami Penurunan Muka Tanah 33 Milimeter per Tahun, Ini Hasil Penelitian Internasional
Kota Medan. (foto: Skymedan ID/fb)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

MEDAN – Kota Medan mengalami penurunan permukaan tanah sekitar 33 milimeter atau 3,3 sentimeter per tahun.

Angka tersebut terungkap dalam penelitian yang menganalisis pergerakan tanah di 465 kota di 107 negara selama periode 2014–2023.

Penurunan muka tanah merupakan kondisi ketika permukaan tanah turun secara perlahan.

Baca Juga:

Fenomena ini dapat merusak bangunan, melemahkan fondasi, mengganggu saluran air dan pembuangan limbah, serta meningkatkan risiko banjir.

Mengutip Phys pada Senin (12/10/2026), informasi mengenai penurunan muka tanah di berbagai kota masih terbatas.

Perbedaan metode pengukuran dan periode penelitian sebelumnya juga menyulitkan perbandingan tingkat penurunan tanah secara global.

Untuk memperoleh gambaran yang lebih luas, tim peneliti yang dipimpin Shengli Tao dan Xie Hu dari Peking University, Beijing, Cina, bersama rekan-rekannya menganalisis data satelit beresolusi tinggi.

Hasil penelitian tersebut diterbitkan dalam jurnal Nature Cities.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sejumlah kota di Asia mengalami penurunan muka tanah yang cukup besar.

Medan tercatat mengalami penurunan sekitar 33 milimeter per tahun, sedangkan Bandung sekitar 22 milimeter per tahun.

Temuan ini menunjukkan pentingnya pemantauan pergerakan tanah di kawasan perkotaan Indonesia.

Penurunan muka tanah dapat memengaruhi kondisi bangunan dan infrastruktur, terutama jika terjadi secara terus-menerus.

Dampaknya juga dapat memperbesar persoalan banjir ketika penurunan permukaan tanah membuat kawasan tertentu semakin rendah dibandingkan wilayah di sekitarnya.

Meski demikian, penelitian ini tidak berarti seluruh wilayah Medan mengalami penurunan dengan kecepatan yang sama.

Di luar Indonesia, Kota Isfahan di Iran tercatat mengalami penurunan tanah sekitar 11 milimeter per tahun.

Sementara itu, Torreón di Meksiko mengalami penurunan sekitar 17 milimeter per tahun.

Penurunan tercepat pada tingkat lokal ditemukan di sejumlah bagian Kota Meksiko, dengan laju mencapai sekitar 217 milimeter atau 21,7 sentimeter per tahun.

Namun, rata-rata penurunan di seluruh kota tersebut tercatat sekitar 8 milimeter per tahun.

Perbedaan angka itu memperlihatkan bahwa penurunan tanah dapat terjadi dengan tingkat keparahan yang berbeda dalam satu kota.

Karena itu, pengukuran pada tingkat wilayah lokal diperlukan untuk mengetahui kawasan yang paling berisiko.

Penelitian tersebut juga menemukan pergerakan tanah tahunan yang relatif stabil di sejumlah kota besar, seperti Boston, New York, London, Beijing, Tokyo, Seoul, Sydney, Montevideo, dan Naples.

Di kota-kota tersebut, tingkat penurunan maupun kenaikan tanah diperkirakan berkisar antara 0,1 hingga 1,9 milimeter per tahun.

Para peneliti mengingatkan bahwa angka yang relatif kecil ini perlu ditafsirkan secara hati-hati karena keterbatasan pengukuran.

Penelitian yang mencakup periode sembilan tahun tersebut berfokus pada penurunan tanah di kawasan perkotaan besar.

Dengan demikian, wilayah di luar batas administratif kota mungkin tidak tercakup dalam analisis.

Tingkat ketidakpastian pengukuran juga lebih tinggi di wilayah yang memiliki sedikit stasiun pemantau tanah.

Para peneliti menekankan pentingnya pemantauan berkelanjutan untuk mengetahui apakah tren penurunan muka tanah akan terus berlangsung.

Data yang diperbarui secara berkala dapat membantu pemerintah menentukan wilayah prioritas dan merancang langkah penanganan yang sesuai.

Bagi kota-kota yang mengalami penurunan tanah, termasuk Medan dan Bandung, informasi tersebut dapat menjadi dasar untuk memperkuat pemantauan kondisi tanah dan infrastruktur perkotaan.

Meski begitu, angka penurunan tahunan dalam penelitian ini perlu dipahami sebagai hasil pengukuran pada periode dan wilayah tertentu, bukan sebagai gambaran seragam untuk seluruh bagian kota.

Dengan pemantauan yang lebih baik, pemerintah dapat mengidentifikasi kawasan yang berisiko lebih awal dan menyusun kebijakan untuk mengurangi dampak penurunan muka tanah terhadap bangunan, infrastruktur, serta keselamatan masyarakat.* (km/ad)

Editor
: Dharma
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Pembangunan BRT Mebidang Bikin Medan Macet, Driver Ojol dan Taksi Online Keluhkan BBM Boros
Kecelakaan Beruntun di Sergai, Sopir Angkot Tewas dan 9 Orang Luka-Luka
Polda Sumut Gerebek Gang Jati Medan, 40 Orang Positif Narkoba Diamankan dan Sejumlah Barang Bukti Disita
Bawa Kayu Balok saat Beraksi, Terduga Pelaku yang Begal Dua Wanita di Belawan Ditangkap Polisi
Kualitas Udara Medan Tidak Sehat, Dinkes Imbau Warga Pakai Masker dan Kurangi Aktivitas di Luar
Polda Sumut Sita 437 Vape Diduga Mengandung Etomidate, Dua Orang Ditangkap di Medan
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru