BREAKING NEWS
Sabtu, 24 Oktober 2026

Rocky Gerung Ingatkan Mahasiswa: Kritik Pemerintah Harus Berbasis Nalar Akademis, Bukan Algoritma Buzzer

Adelia Syafitri - Sabtu, 24 Oktober 2026 09:05 WIB
Rocky Gerung Ingatkan Mahasiswa: Kritik Pemerintah Harus Berbasis Nalar Akademis, Bukan Algoritma Buzzer
Anggota Wantimpres, Rocky Gerung dalam seminar nasional bertajuk Algoritma Kesejahteraan: Menulis Ulang Kode Negara agar Bekerja untuk Rakyat di Universitas Negeri Medan (Unimed), Jumat, 23 Oktober 2026. (foto: Ist/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

MEDAN — Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres), Rocky Gerung, menegaskan bahwa kritik mahasiswa terhadap pemerintah harus disampaikan berdasarkan nalar akademis, bukan sekadar mengikuti pengaruh algoritma buzzer di media sosial.

Menurut dia, mahasiswa memiliki kemampuan berpikir mandiri untuk menilai kebijakan pemerintah dan menyampaikan kritik secara bertanggung jawab.

Pernyataan itu disampaikan Rocky dalam seminar nasional bertajuk Algoritma Kesejahteraan: Menulis Ulang Kode Negara agar Bekerja untuk Rakyat di Universitas Negeri Medan (Unimed), Jumat, 23 Oktober 2026.

Baca Juga:

Dalam sesi diskusi, Rocky menanggapi pertanyaan mengenai kemungkinan Medan terpapar algoritma buzzer.

Ia menilai kemarahan mahasiswa terhadap persoalan pemerintahan merupakan hal yang wajar.

Namun, sikap kritis tersebut harus lahir dari pemikiran sendiri, bukan terbentuk semata-mata akibat pengaruh informasi di media sosial.

"Tidak mungkin Medan terpapar algoritma buzzer. Tadi dibuktikan bahwa kemarahan mahasiswa itu masuk akal. Cuma masalahnya, jangan kemarahan itu dihasilkan oleh algoritma buzzer. Mahasiswa punya otak sendiri, kemampuan untuk mengkritik Presiden Prabowo, menterinya, kabinetnya, segala macam itu, termasuk anggota DPR, dan itu yang memungkinkan kita bersikap-cakap," ujar Rocky, Jumat (23/10/2026).

Rocky kemudian menekankan pentingnya membangun kritik melalui pemikiran mandiri dan argumentasi yang dapat dipertanggungjawabkan.

Ia memandang kampus sebagai ruang terbuka bagi mahasiswa untuk mengajukan pertanyaan, menguji gagasan, dan menyampaikan pendapat tanpa rasa takut.

Menurut Rocky, kritik terhadap pemerintah seharusnya tidak didasarkan pada kepentingan tertentu, tekanan pihak lain, ataupun pola pikir yang menempatkan kekuasaan di atas kebebasan berpikir.

"Jadi, sekali lagi algoritma bernegara artinya hasilkan kritik melalui nalar akademis, bukan nalar buzzer, bukan nalar amplop, bukan nalar feodalisme. Mahasiswa enggak perlu izin bertanya, enggak ada, tanya saja itu" katanya.

Pernyataan tersebut menegaskan pentingnya kebebasan akademik dalam kehidupan kampus.

Editor
: Dharma
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Kisah Tukang Botot di Medan, Berjuang Kuliahkan Anak hingga Terbantu Program Pemko
Samuel F. Silaen: Jangan Salahkan Aturan saat Menghadapi Masalah, Evaluasi Akar Persoalannya
PHSS Gelar Mini Soccer Bersama Pemprov Kaltim dan Pemkab Kukar, Perkuat Kemitraan Daerah
Goyang Syarat Pendidikan Gibran! Bonatua Silalahi Bawa Bukti Baru UTS Insearch Lapor ke Bawaslu
Dua Tahun Pemerintahan, Prabowo: Jangan Minder Lagi, Kita di Jalur yang Benar
Sentil Pihak yang Usik Ijazah Gibran, Jimly Asshiddiqie: Tak Mungkin Prabowo Pecat Wapresnya
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru