Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung
MEDAN — Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres), Rocky Gerung, menegaskan bahwa kritik mahasiswa terhadap pemerintah harus disampaikan berdasarkan nalar akademis, bukan sekadar mengikuti pengaruh algoritma buzzer di media sosial.
Menurut dia, mahasiswa memiliki kemampuan berpikir mandiri untuk menilai kebijakan pemerintah dan menyampaikan kritik secara bertanggung jawab.
Pernyataan itu disampaikan Rocky dalam seminar nasional bertajuk Algoritma Kesejahteraan: Menulis Ulang Kode Negara agar Bekerja untuk Rakyat di Universitas Negeri Medan (Unimed), Jumat, 23 Oktober 2026.
Baca Juga:
Dalam sesi diskusi, Rocky menanggapi pertanyaan mengenai kemungkinan Medan terpapar algoritma buzzer.
Ia menilai kemarahan mahasiswa terhadap persoalan pemerintahan merupakan hal yang wajar.
Namun, sikap kritis tersebut harus lahir dari pemikiran sendiri, bukan terbentuk semata-mata akibat pengaruh informasi di media sosial.
"Tidak mungkin Medan terpapar algoritma buzzer. Tadi dibuktikan bahwa kemarahan mahasiswa itu masuk akal. Cuma masalahnya, jangan kemarahan itu dihasilkan oleh algoritma buzzer. Mahasiswa punya otak sendiri, kemampuan untuk mengkritik Presiden Prabowo, menterinya, kabinetnya, segala macam itu, termasuk anggota DPR, dan itu yang memungkinkan kita bersikap-cakap," ujar Rocky, Jumat (23/10/2026).
Rocky kemudian menekankan pentingnya membangun kritik melalui pemikiran mandiri dan argumentasi yang dapat dipertanggungjawabkan.
Ia memandang kampus sebagai ruang terbuka bagi mahasiswa untuk mengajukan pertanyaan, menguji gagasan, dan menyampaikan pendapat tanpa rasa takut.
Menurut Rocky, kritik terhadap pemerintah seharusnya tidak didasarkan pada kepentingan tertentu, tekanan pihak lain, ataupun pola pikir yang menempatkan kekuasaan di atas kebebasan berpikir.
"Jadi, sekali lagi algoritma bernegara artinya hasilkan kritik melalui nalar akademis, bukan nalar buzzer, bukan nalar amplop, bukan nalar feodalisme. Mahasiswa enggak perlu izin bertanya, enggak ada, tanya saja itu" katanya.
Pernyataan tersebut menegaskan pentingnya kebebasan akademik dalam kehidupan kampus.
Tags
beritaTerkait
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.