Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung
"Dalam berpikir, apalagi di tataran akademik, mahasiswa tidak boleh dibatasi. Namun, kritik yang disampaikan harus berdasarkan data dan fakta yang akurat, bukan informasi yang tidak valid. Kami berharap mahasiswa tidak hanya mampu mengidentifikasi persoalan, tetapi juga berpikir kritis dan konstruktif untuk mencari solusi atas permasalahan tersebut," ujar Baharuddin.
Ia juga menekankan peran perguruan tinggi dalam membentuk mahasiswa yang mampu mengenali persoalan, melakukan penelitian, dan merancang solusi yang dapat diterapkan di tengah masyarakat.
Menurut Baharuddin, pembelajaran di kampus tidak cukup hanya berorientasi pada teori.
Mahasiswa juga perlu didorong untuk menghasilkan gagasan dan proyek yang dapat memberikan manfaat nyata bagi penyelesaian berbagai persoalan sosial.
Seminar nasional tersebut mengangkat tema algoritma kesejahteraan dan penyelenggaraan negara yang berorientasi pada kepentingan rakyat.
Forum ini menjadi ruang bagi mahasiswa untuk membahas kebebasan berpikir, kritik terhadap kebijakan publik, serta peran akademisi dalam mengawasi jalannya pemerintahan.
Pandangan Rocky Gerung dan Rektor Unimed Baharuddin sama-sama menempatkan nalar akademis sebagai unsur penting dalam diskusi publik.
Kritik terhadap pemerintah dinilai perlu disampaikan secara terbuka, tetapi tetap didukung data, fakta, dan argumentasi yang dapat diuji.
Di tengah derasnya arus informasi di media sosial, kemampuan berpikir kritis menjadi penting agar mahasiswa tidak mudah terbawa opini yang belum terverifikasi.
Dengan demikian, kritik tidak hanya menjadi ungkapan ketidakpuasan, tetapi juga dapat membantu masyarakat memahami persoalan dan mendorong perbaikan kebijakan publik.
* (d/ad)
Tags
beritaTerkait
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.