BREAKING NEWS
Rabu, 03 Juni 2026

Polemik Akomodasi Peserta ASEAN U-19 Memanas, Pengamat Sepak Bola Sumut: Jangan Salahkan Pemko Medan

Abyadi Siregar - Rabu, 03 Juni 2026 15:03 WIB
Polemik Akomodasi Peserta ASEAN U-19 Memanas, Pengamat Sepak Bola Sumut: Jangan Salahkan Pemko Medan
Tokoh masyarakat dan pengamat sepak bola Sumatera Utara serta Mantan Ketua DPRD Medan periode 2009-2014, Amiruddin. (foto: Ist/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

MEDAN – Polemik pembiayaan akomodasi peserta ASEAN U-19 Boys' Championship 2026 mendapat perhatian dari tokoh masyarakat dan pengamat sepak bola Sumatera Utara, Amiruddin.

Ia menilai persoalan tersebut semestinya menjadi bahan evaluasi profesionalisme penyelenggaraan turnamen internasional, bukan berkembang menjadi saling tuding antarpihak.

Baca Juga:
Menurut Amiruddin, narasi yang menyebut Pemerintah Kota Medan dan Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas tidak berkomitmen mendukung penyelenggaraan turnamen perlu disikapi secara objektif dan berdasarkan fakta administrasi yang dapat dipertanggungjawabkan.

"Narasi itu bukan hanya keliru, tetapi juga berbahaya. Publik diarahkan untuk percaya bahwa biaya hotel peserta merupakan tanggung jawab Pemko Medan, padahal hingga saat ini tidak pernah ditunjukkan dasar resmi yang menyatakan hal tersebut," kata Amiruddin, Rabu, 3 Juni 2026.

Mantan Ketua DPRD Medan periode 2009-2014 itu mempertanyakan dasar hukum maupun administrasi yang menjadi landasan apabila pembiayaan hotel peserta memang dianggap sebagai kewajiban pemerintah daerah.


Menurut dia, tudingan mengenai ketidakpatuhan terhadap komitmen tidak dapat dibenarkan apabila komitmen tersebut tidak pernah dituangkan dalam kesepakatan resmi yang dapat diketahui publik.

"Sampai hari ini publik tidak pernah diperlihatkan dokumen yang menunjukkan adanya komitmen resmi Pemko Medan untuk membiayai hotel seluruh peserta. Tidak ada keputusan anggaran, tidak ada nota kesepahaman yang dipublikasikan, dan tidak ada surat pernyataan resmi yang menyebutkan hal itu," ujarnya.

Amiruddin juga menyoroti munculnya anggapan bahwa pihak penyelenggara harus mengambil alih pembiayaan karena pemerintah daerah tidak memberikan dukungan sebagaimana yang diharapkan.

Menurutnya, fokus utama yang perlu dievaluasi justru menyangkut aspek perencanaan dan penganggaran kegiatan sejak awal.

"Jika akomodasi peserta merupakan kebutuhan mendasar dalam sebuah turnamen internasional, mengapa persoalan itu baru menjadi polemik menjelang atau saat pelaksanaan? Bukankah aspek tersebut seharusnya menjadi salah satu komponen pertama yang dipastikan oleh penyelenggara?" katanya.

Ia menilai persoalan yang muncul menjelang atau saat turnamen berlangsung menunjukkan perlunya evaluasi terhadap proses perencanaan, mitigasi risiko, serta koordinasi antarpemangku kepentingan.

Amiruddin mengingatkan bahwa dukungan pemerintah daerah tidak dapat diartikan sebagai pengalihan seluruh tanggung jawab penyelenggaraan kepada pemerintah daerah.

"Dukungan bukan berarti pengalihan kewajiban. Membantu bukan berarti wajib membayar. Menjadi tuan rumah bukan berarti harus menanggung seluruh biaya kegiatan yang dimiliki dan dikelola organisasi lain," ujarnya.

Menurut Amiruddin, Pemerintah Kota Medan sejauh ini telah memberikan berbagai dukungan untuk penyelenggaraan ASEAN U-19 Boys' Championship 2026, termasuk pembenahan Stadion Teladan sebagai venue pertandingan, peningkatan fasilitas pendukung, serta koordinasi lintas instansi yang diperlukan selama turnamen berlangsung.

Karena itu, ia menilai polemik yang berkembang seharusnya tidak mengaburkan kontribusi pemerintah daerah dalam mendukung suksesnya pelaksanaan ajang sepak bola kelompok umur tersebut.

Baca Juga:

Amiruddin meminta seluruh pihak menjadikan persoalan tersebut sebagai momentum untuk memperbaiki tata kelola penyelenggaraan kompetisi olahraga di masa mendatang.

Ia juga mendorong adanya keterbukaan kepada publik terkait pembagian tanggung jawab, skema pembiayaan, serta mekanisme pengambilan keputusan dalam penyelenggaraan turnamen.

"Jika ada kekurangan dalam perencanaan akomodasi, akui dan perbaiki. Jika terjadi miskomunikasi, jelaskan secara terbuka. Jika ada perbedaan persepsi mengenai pembiayaan, buka seluruh dokumen dan kesepakatan kepada publik. Transparansi jauh lebih terhormat daripada membangun opini," katanya.

Menurut Amiruddin, kemajuan sepak bola tidak hanya ditentukan oleh prestasi di lapangan, tetapi juga oleh kualitas tata kelola organisasi dan profesionalisme penyelenggaraan kompetisi.

"Kemajuan sepak bola tidak pernah lahir dari budaya saling menyalahkan. Yang dibutuhkan adalah keberanian mengakui kekurangan dan kesungguhan untuk memperbaikinya," ujarnya.*


(ad)

Editor
: Adelia Syafitri
0 komentar
Tags
beritaTerkait
KSP Dudung: Prabowo Ingin Program MBG Bebas Korupsi dan Penyimpangan
Gus Ipul Tegaskan Sekolah Rakyat Tak Batasi Usia Siswa, Siap Tampung Anak yang Belum Pernah Sekolah
Peringati Hari Lansia Nasional, Rico Waas Luncurkan PKH Medan Makmur untuk 10.000 Lansia
Bobby Nasution Gandeng RS Mata Cicendo, Tingkatkan Kualitas Layanan Kesehatan Mata di Sumut
Keselamatan Penonton Jadi Prioritas, Stadion Teladan Dilengkapi Jalur Evakuasi
360 Jemaah Haji Kloter 1 Debarkasi Medan Tiba di Tanah Air dengan Selamat
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru