BREAKING NEWS
Rabu, 27 Mei 2026

Bansos dan Rekayasa Sosial

Redaksi - Jumat, 18 Juli 2025 07:59 WIB
Bansos dan Rekayasa Sosial
Ilustrasi. (foto: fahum.umsu)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

Dalam konteks negara berkembang seperti Indonesia, pelajaran dari program semacam ini menegaskan pentingnya melihat bansos bukan sekadar sebagai alat redistribusi, melainkan sebagai bagian integral dari strategi pembangunan manusia dan transformasi sosial jangka panjang.

Intervensi Ekonomi Politik dan Perspektif Global

Dalam konteks Indonesia, program bansos seperti Program Keluarga Harapan (PKH), Bantuan Pangan Non-Tunai (BPNT), hingga bantuan langsung tunai (BLT) selama pandemi menunjukkan dampak nyata dalam menjaga daya beli masyarakat dan mencegah kemiskinan ekstrem. Namun, problem utamanya terletak pada instrumentalisasi politik. Ketika bansos dibungkus narasi populis dan dibagikan tanpa transparansi, fungsi rekayasa sosialnya justru melemah.

Chatib Basri (2024) menyatakan bahwa bansos idealnya menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk human capital development, bukan semata quick fixes fiscal. Artinya, bansos harus dibarengi dengan investasi pada pendidikan, kesehatan, dan keterampilan kerja agar menghasilkan intergenerational mobility.

Sementara itu di luar negeri, banyak contoh bansos yang sukses sebagai alat rekayasa sosial. Di Brasil, program Bolsa Família tidak hanya mengurangi kemiskinan, tapi juga memperluas akses pendidikan dan menurunkan tingkat kelahiran remaja. Evaluasi World Bank menunjukkan bahwa ketika syarat bansos dirancang dengan cermat, masyarakat tidak hanya menjadi penerima manfaat pasif, tetapi juga peserta aktif dalam pembangunan sosial.

Sen (1999) pun menekankan bahwa kebijakan sosial bukan soal distribusi uang semata, tetapi pembentukan capabilities kemampuan untuk menjalani hidup yang mereka nilai penting. Dalam kerangka ini, bansos menjadi instrumen pembebasan, bukan sekadar subsidi.

Rekayasa Sosial dan Pilar Etika

Agar bansos efektif sebagai alat rekayasa sosial, diperlukan tiga prasyarat mulai dari penargetan berbasis data melalui penggunaan big data dan digital ID seperti NIK untuk memastikan bantuan tepat sasaran. Kemudian mengadakan desain insentif dengan Bantuan seharusnya bersyarat pada perilaku produktif (pendidikan, vaksinasi, pelatihan kerja). Selain itu diperlukan evaluasi jangka Panjang seperti identifikasi dampak sosial yang mana bansos harus diukur secara multidimensional, bukan hanya pada konsumsi rumah tangga.

Sementara itu penerapan social registry dan dynamic updating system seperti yang dilakukan di Kenya dan Estonia dapat menjadi model. Integrasi data lintas kementerian memungkinkan negara melakukan adaptive social protection yang responsif terhadap perubahan kondisi warga.

Dalam tatanan negara demokrasi, bansos tidak bisa hanya menjadi alat kekuasaan. Ia harus menjadi wujud kontrak sosial antara negara dan rakyat. Negara menyediakan jaring pengaman, namun juga menuntut partisipasi warga untuk berkontribusi dalam pembangunan. Sehingga rekayasa sosial melalui bansos bukanlah manipulasi, melainkan desain institusional untuk memperluas peluang hidup bermartabat.

Di masa depan, pertanyaan utama bukan lagi perlu atau tidak bansos, melainkan bansos seperti apa yang mampu mentransformasi bangsa.* (news.detik.com)

Editor
: Adelia Syafitri
0 komentar
Tags
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru