Perspektif Global: Berlayar di Tengah Badai Geopolitik
Prabowo tidak akan berbicara ke dalam ruang hampa. Dunia yang ia sambut pada tahun 2025 adalah dunia yang lebih terfragmentasi, sangat dinamis yang cenderung tidak aman, dan tidak pasti daripada era presiden-presiden sebelumnya. Dunia terbelah oleh Perang Rusia-Ukraina dan ketegangan AS-China yang makin menjadi. Pilihan bagi negara menengah seperti Indonesia semakin sulit.PidatoPrabowo akan menjadi kompas pertama arah politik luar negerinya. Akankah ia mengambil sikap lebih vokal terhadap salah satu pihak, atau justru memperkuat posisi "bebas-aktif" dengan menjadi juru bicara bagi negara-negara non-blok yang tidak ingin terperangkap dalam persaingan kekuatan adidaya. Dunia akan mencermati setiap kata-katanya untuk mencari petunjuk dan di analisis. Ketegangan di Laut China Selatan, khususnya, adalah isu where rhetoric will matter greatly.
Polarisasi Global tentunya akan menjadi tantangan tersendiri bagi Kepemimpinan Diplomasi PrabowoPBB sendiri sedang mengalami krisis legitimasi. Dewan Keamanan yang lumpuh menghadapi perang di Ukraina dan Gaza adalah buktinya. Prabowo harus menyuarakan dukungan untuk multilateralisme, tetapi juga harus berani menyerukan reformasi PBB. Ini adalah jalan yang sempit, bagaimana mengkritik tanpa merusak, dan bagaimana mendorong perubahan tanpa dilihat sebagai pihak yang merongrong kewenangan institusi global. Ini akan menjadi Ujian Komitmen pada Prinsip Multilateralisme Dukungan Indonesia untuk Palestina adalah litmus test bagi integritas politik luar negeri Indonesia. Di tengah tragedi kemanusiaan genosida, kebuntuan perundingan dan penderitaan yang makin dalam di Gaza, dunia mengharapkan lebih dari sekadar pernyataan support biasa.Mereka akan melihat apakah Prabowo dengan latar belakang militernya dan hubungan dekat dengan negara-negara Arab dapat menawarkan sesuatu yang baru, mungkin sebuah inisiatif diplomatik atau seruan yang lebih konkret untuk pengakuan kedaulatan Palestina. Kegagalan untuk bersikap kuat pada isu ini akan dilihat sebagai pengkhianatan terhadap sejarah panjang diplomasi Indonesia.
Prabowo akan berbicara setelah para pemimpin dunia lainnya. Ia harus memastikan pidatonya tidak tenggelam dalam retorika yang sudah usang. Fokus pada isu-isu "win-win" seperti transisi energi, ketahanan pangan, dan pembiayaan SDGs bisa menjadi strategi yang cerdas. Ini memungkinkan Indonesia memproyeksikan kepemimpinan tanpa harus terlibat langsung dalam konflik geopolitik yang berdarah-darah.Mempromosikan Hilirisasi Industri sebagai proyek sustainability global adalah contoh bagaimana kepentingan nasional dan kontribusi global dapat disatukan.
Kehadiran Presiden Prabowo di Sidang UmumPBB adalah kesempatan emas yang berlapis ranjau. Secara domestik, ini adalah momen untuk membangun legasi, menunjukkan kapasitas, dan mengkonsolidasikan kekuasaan. Sukses di New York akan bergema di Jakarta, memperkuat posisinya untuk memimpin sebuah bangsa yang kompleks.