Secara global, ini adalah ujian pertama dan terpenting bagi Prabowo untuk membuktikan bahwa Indonesia di bawah kepemimpinannya bukan hanya menjadi penonton, melainkan pemain aktif yang mampu menavigasi panggung internasional yang berbahaya dengan prinsip yang jelas dan strategi yang cerdik.
Dunia tidak membutuhkan pidato lain yang penuh dengan klise. Dunia membutuhkan suara yang jelas, berani, dan visioner dari kekuatan demokrasi terbesar ketiga dunia bernama Indonesia. Apakah Prabowo akan menjadi suara itu? Jawabannya akan menentukan tidak hanya bagaimana dunia melihat Indonesia untuk lima tahun ke depan, tetapi juga bagaimana Indonesia menempatkan dirinya dalam sejarah yang sedang ia tulis. Kedatangan Prabowo di Sidang UmumPBB adalah momen penentu yang sukses secara simbolis.Pidato yang tegas dan agenda bilateral yang padat berhasil mengirimkan sinyal bahwa Indonesia hadir dengan percaya diri di panggung global. Namun, retorika di PBB harus diikuti dengan aksi dan konsistensi. Pidato yang vokal tentang Palestina harus diterjemahkan menjadi inisiatif diplomatik yang nyata. Seruan untuk reformasi PBB harus dibarengi dengan lobi yang gigih.
Prabowo memiliki modal awal yang kuat, legitimasi elektoral yang solid, pengalaman di bidang pertahanan, dan gaya kepemimpinan yang decisif. Jika ia mampu menerjemahkan retorika globalnya menjadi kebijakan luar negeri yang konsisten, koheren, dan didukung oleh kekuatan ekonomi dan strategis dalam negeri, maka Indonesia benar-benar siap untuk memainkan peran yang lebih besar dan lebih signifikan dalam percaturan geopolitik abad ke-21.Diplomasi tingkat tinggi (summit diplomacy) sering kali disalahtafsirkan sebagai sekadar seremonial mewah. Padahal, dalam konteks geopolitik modern yang digerakkan oleh media dan persepsi, ia adalah salah satu alat diplomasi yang paling kuat dan bernuansa. Kehadiran seorang pemimpin di forum global seperti Sidang UmumPBB bukanlah tujuan akhir; ia adalah sebuahproses kompleks symbolic politics di mana citra dibangun, legitimasi diperjuangkan, dan narasi bangsa dipahat di atas panggung dunia.
Tantangannya adalah menjembatani visi global yang ambisius dengan realitas kapasitas dan sumber daya domestik. Kesuksesan akhirnya akan diukur bukan dari sambutan atas pidatonya di New York, tetapi dari kemampuannya membawa kepulangan hasil nyata dari setiap pertemuan bilateral dan mewujudkannya untuk kepentingan rakyat Indonesia.Bagi Prabowo, memahami fungsi ganda PBB ini adalah kunci. Kehadirannya di New York bukan tentang "pamer" atau memenuhi undangan. Itu adalah strategi pertukaran mata uang legitimasi dan soft power. Indonesia datang dengan modal dukungan terhadap multilateralisme, rekam jejak sebagai anggota yang kontributif, dan posisi sebagai kekuatan demokrasi mayoritas Muslim terbesar.
Sebagai imbalannya, Indonesia berharap untuk "mencairkan" modal ini menjadi legitimasi bagi kepemimpinan Prabowo, dukungan untuk posisinya dalam isu-isu strategis, dan pengakuan atas peran barunya dalam tatanan global. Diplomasi multilateral melalui PBB, meskipun sering dicaci karena birokrasinya yang lamban dan keputusannya yang sering tidak memuaskan, tetap merupakan game terbaik yang kita miliki untuk mengelola kompleksitas dunia yang semakin terpolarisasi.