Rico Waas Lepas Kontingen Pramuka Medan ke Jamnas XII, Titip Nama Baik Kota
MEDAN Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas melepas Kontingen Kwartir Cabang (Kwarcab) Gerakan Pramuka Kota Medan yang akan mengikuti J
PENDIDIKAN
Oleh:Mohsen Hasan A.
INDONESIA bukan bangsa kecil. Ia lahir dari semangat, darah, dan cita-cita luhur: memerdekakan manusia dari ketakutan, kebodohan, dan ketidakadilan. Namun, di tengah gemerlap kemajuan dan modernitas, kita menghadapi kenyataan getir bangsa ini mulai letih secara moral.
Korupsi, kekerasan verbal, intoleransi, hedonisme, dan manipulasi kebenaran telah menjadi cermin sehari-hari. Padahal bangsa yang besar bukan diukur dari luas wilayah atau kekuatan militernya, tetapi dari kematangan moral dan budi pekertinya.Baca Juga:
Krisis moral yang kita alami kini bukanlah kebetulan. Ia tumbuh dari tiga akar besar yang rapuh: kebangsaan, kebudayaan, dan peradaban.
Krisis kebangsaan: pudarnya rasa pengabdian
Bangsa ini dibangun atas nilai gotong royong, keikhlasan, dan semangat pengorbanan. Namun kini, nasionalisme lebih sering diucapkan daripada diwujudkan.
Kita menyaksikan elite politik memperlakukan negara sebagai ladang kekuasaan, bukan amanah Tuhan. Kejujuran kehilangan tempat, dan loyalitas lebih banyak diarahkan pada kelompok, bukan pada bangsa.
Generasi muda pun tumbuh dalam ambiguitas: mereka mencintai Indonesia, namun sering tidak percaya pada negaranya. Inilah yang disebut oleh sosiolog modern sebagai krisis legitimasi moral kebangsaan ketika simbol-simbol negara kehilangan makna etiknya.
Merawat kebangsaan berarti menghidupkan kembali etos pengabdian. Bahwa menjadi warga negara bukan sekadar hak, tetapi juga tanggung jawab moral. Negara harus menjadi cermin keadilan, bukan panggung kepalsuan.
Krisis kebudayaan: dari budaya budi ke budaya bunyi
Bangsa yang beradab, adalah bangsa yang menjadikan kebudayaan sebagai kendaraan moral. Namun kini, budaya kita kehilangan jiwa.
Nilai-nilai luhur seperti malu, hormat, dan sopan santun tergerus budaya instan dan konsumtif. Anak muda lebih mengenal tokoh viral daripada tokoh nasional. Bahasa santun tergantikan oleh ujaran kasar di ruang digital.
Krisis kebudayaan ini adalah krisis jati diri ketika kemajuan teknologi tidak diimbangi kedewasaan batin. Padahal, kebudayaan sejati adalah yang mendidik rasa, membentuk karakter, dan menghidupkan kesadaran.
Merawat kebudayaan berarti menanam kembali akar kearifan lokal. Nilai Sipakatau di Bugis, Gotong Royong di Jawa, Mapalus di Sulawesi, Basusurung di Batak semua adalah pilar kemanusiaan Nusantara yang harus dihidupkan dalam kehidupan modern.
Krisis peradaban: hilangnya jiwa dalam kemajuan
Indonesia berlari menuju modernitas namun tanpa arah moral. Kita membangun gedung tinggi, tapi kehilangan kedalaman jiwa. Pendidikan hanya mencetak manusia cerdas, bukan manusia arif. Ilmu dan teknologi tumbuh cepat, namun sering kehilangan nilai etik dan spiritualitas.
Inilah krisis peradaban, ketika manusia modern menjadi pintar tanpa arah. Kita lupa bahwa kemajuan sejati adalah yang menumbuhkan kemanusiaan, bukan yang menindasnya.
Sebagaimana ditegaskan oleh Ali Syariati, peradaban sejati adalah yang menyatukan akal, moral, dan iman. Ketika salah satunya hilang, peradaban hanya menjadi kemasan indah dari kehampaan.
Jalan pemulihan: menanam nilai, menumbuhkan martabat
Merawat Indonesia berarti menyembuhkan jiwanya, bukan sekadar memperbaiki sistemnya. Kita harus membangun kembali tiga pilar kemartabatan bangsa:
a. Pendidikan jiwa dan akhlak
Pendidikan harus menumbuhkan manusia yang berpikir dan berperasaan. Kurikulum perlu menghidupkan nilai moral, empati, dan spiritualitas bukan hanya pengetahuan dan kompetisi.
b. Teladan kepemimpinan
Bangsa akan mengikuti moral pemimpinnya. Kepemimpinan yang jujur, rendah hati, dan adil akan menjadi sumber energi moral bagi rakyat. Sebaliknya, pemimpin yang culas melahirkan rakyat yang apatis.
c. Kebudayaan sebagai ruang pencerahan
Media, seni, dan ruang publik harus kembali menjadi tempat persemaian nilai, bukan tempat penyebaran kebencian.
Kita perlu membangun budaya berpikir, berdialog, dan berperasaan agar bangsa ini tidak hanya pintar, tapi juga bijak.
Penutup: bangsa yang merawat hatinya, akan dijaga Tuhannya
Martabat bangsa bukan hadiah, tetapi hasil dari perawatan batin yang terus menerus. Bangsa yang menjaga integritas, keadilan, dan kasih sayang di antara warganya akan selalu dilindungi Tuhan.
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri." (QS. Ar-Ra'd: 11)
Indonesia tidak sedang kehilangan masa depan ia hanya perlu menemukan kembali jiwanya. Dan jiwa itu ada di dalam diri kita: dalam kejujuran, dalam kasih, dalam niat untuk memperbaiki, bukan menghancurkan.* (mediaindonesia.com)
*) Penulis adalahPemerhati Sosial, Politik, Budaya, dan Isu Global Dewan Pakar DPP Partai NasDem.
MEDAN Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas melepas Kontingen Kwartir Cabang (Kwarcab) Gerakan Pramuka Kota Medan yang akan mengikuti J
PENDIDIKAN
JAKARTA Partai Keadilan Sejahtera (PKS) memberikan respons terkait hasil survei nasional Indonesia Political Opinion (IPO) yang menempat
POLITIK
JAKARTA Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI Muhammad Qodari menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,29 persen pada triwu
EKONOMI
JAKARTA Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyita uang 12.000 Dollar Singapura (SGD) dalam amplop yang diduga diberikan Bupati Kuantan Si
HUKUM DAN KRIMINAL
BANDA ACEH Kapolda Aceh Irjen Pol Ruddi Setiawan menyatakan perang terhadap peredaran narkotika di wilayah Aceh. Pernyataan itu disampaika
HUKUM DAN KRIMINAL
ACEH TAMIANG Rasa syukur dan harapan untuk kembali menjalani kehidupan secara normal mulai tumbuh di tengah para penyintas bencana yang me
NASIONAL
NAGAN RAYA Akses masyarakat di Kecamatan Beutong Ateuh Banggalang, Kabupaten Nagan Raya, Aceh, yang sempat terputus akibat bencana hidrome
NASIONAL
Catatan redaksi Berita ini dibuat berdasarkan keterangan keluarga serta dokumen DPR RI dan kliping Pos Metro Medan yang diperlihatkan kepad
HUKUM DAN KRIMINAL
JAKARTA Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menahan empat tersangka kasus dugaan korupsi pengadaan iklan di Bank Pembangunan Daerah Jawa Ba
HUKUM DAN KRIMINAL
JAKARTA Tim penyidik Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Kejaksaan Agung (Kejagung) memeriksa 16 saksi dalam penyidik
HUKUM DAN KRIMINAL