Airlangga Klaim Pengusaha Sambut Positif Pembentukan BUMN Ekspor DSI
JAKARTA Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut rencana pembentukan BUMN ekspor Danantara Sumber Daya Indone
EKONOMI
Oleh: Raman Krisna
SAYA bukan pejabat, bukan ahli politik, dan bukan orang berpendidikan tinggi. Saya hanya rakyat kecil yang melihat dunia dengan hati dan akal sehat. Tetapi justru dari sudut pandang orang biasa, saya melihat satu kenyataan pahit: PBB semakin kehilangan makna sebagai penjaga perdamaian dunia.
Baca Juga:
Organisasi yang seharusnya melindungi manusia dari kekejaman dan perang justru sering terlihat tidak berdaya—atau sengaja dibuat tidak berdaya—di hadapan negara-negara kuat.
1. Hak Veto: Senjata yang Membunuh Keputusan Dunia
PBB dibentuk dengan prinsip persamaan antar-negara. Tetapi ketika lima negara pemegang hak veto—AS, Inggris, Perancis, Rusia, dan Cina—mengangkat tangan, seluruh keputusan dunia bisa dibatalkan.
Satu negara bisa membatalkan suara dari 190 negara lainnya.
Inilah ironi terbesar PBB. Negara kuat memutuskan, negara lemah hanya bisa berharap.

Gedung PBB. (foto: Wikipedia)
2. Palestina: Simbol Kegagalan PBB yang Paling Jelas
Hampir seluruh dunia mengakui Palestina. Resolusi demi resolusi sudah disahkan. PBB berkali-kali menyerukan gencatan senjata.
Namun setiap hari anak-anak, perempuan, dan warga sipil Palestina tetap terbunuh. Serangan terus terjadi. Infrastruktur hancur. Rumah rubuh. Pengungsi meningkat.
Dan PBB?
Hanya bisa mengeluarkan kecaman, tanpa kekuatan menghentikan agresi.
Karena setiap upaya menghentikan Israel selalu bertemu dinding veto di Dewan Keamanan.
Inilah bukti paling nyata:
PBB tidak sanggup menegakkan keputusan yang dibuatnya sendiri.
3. Intervensi Negara Kuat: PBB Hanya Jadi Penonton
Amerika Serikat menyerang Irak dengan alasan "senjata pemusnah massal". Faktanya, sampai detik ini senjata itu tidak pernah ditemukan. Tetapi negara itu hancur total, jutaan orang kehilangan rumah, ekonomi runtuh, konflik berkepanjangan terjadi.
Siapa yang dihukum?
Tidak ada.
PBB?
Tidak bisa berbuat apa-apa.
Afghanistan, Vietnam, Libya, dan beberapa negara lain juga pernah merasakan hal serupa: intervensi militer negara kuat tanpa konsekuensi berarti.
Ketika negara besar menyerang, PBB hanya mengeluarkan pernyataan.
4. Ketika Pemerintah Membunuh Rakyatnya Sendiri
Kasus Bangladesh baru-baru ini—Vonis mati terhadap mantan PM Sheikh Hasina setelah ribuan demonstran tewas dalam penindasan brutal 2024—menunjukkan lagi betapa PBB memilih posisi yang membingungkan. Banyak laporan media, LSM internasional, dan lembaga HAM menyebut adanya ribuan korban.
Namun PBB hanya mengeluarkan kecaman terhadap keputusan pengadilan, bukan fokus pada ribuan korban yang tewas sebelumnya.
Ini membuat rakyat kecil bertanya:
Untuk siapa sebenarnya PBB bekerja? Untuk keadilan, atau untuk stabilitas politik negara tertentu?
5. PBB Sudah Tidak Sesuai Dengan Dunia Modern
Dunia sudah berubah. Tetapi PBB masih terikat pada struktur tahun 1945—struktur yang memberi kekuasaan absolut kepada lima negara saja. Selama sistem veto tidak dihapus, tidak akan ada:
keadilan global,
kesetaraan negara,
perlindungan nyata untuk rakyat sipil.
PBB hanya akan terus mengeluarkan pernyataan "kami prihatin", "kami mengecam", "kami menyerukan".
Tanpa tindakan nyata.
KESIMPULAN: PBB BUKAN TIDAK BERNIAT, TAPI TIDAK BERDAYA
PBB tidak sepenuhnya "omong doang". Ada badan-badan kemanusiaan seperti UNICEF, UNHCR, WHO yang sangat membantu jutaan orang.
Namun PBB sebagai institusi politik internasional—khususnya Dewan Keamanan—sering gagal menjalankan tujuan utamanya: menjaga perdamaian dan keamanan dunia.
Selama hak veto masih ada, selama negara kuat bisa menghentikan keputusan dunia, selama invasi dan agresi bisa dilakukan tanpa konsekuensi, maka PBB akan terus dianggap:
Organisasi besar dengan suara lantang, tetapi tangan terikat.
Rakyat kecil seperti saya hanya bisa melihat dan bertanya:
Untuk apa ada PBB jika tidak bisa melindungi mereka yang paling membutuhkan perlindungan?*
*) Penulis adalh warga pinggiran.
JAKARTA Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut rencana pembentukan BUMN ekspor Danantara Sumber Daya Indone
EKONOMI
JAKARTA Kejaksaan Tinggi (Kejati) DKI Jakarta menetapkan tiga orang tersangka dalam kasus dugaan korupsi proyek di lingkungan Kementeria
HUKUM DAN KRIMINAL
JAKARTA Presiden Prabowo Subianto kembali menegaskan komitmennya dalam pemberantasan korupsi dengan memperingatkan para pejabat agar tid
NASIONAL
JAKARTA Menteri Luar Negeri RI Sugiono menyampaikan rasa syukur atas pembebasan sembilan Warga Negara Indonesia (WNI) yang sebelumnya di
INTERNASIONAL
MEDAN Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri Medan menuntut seorang anggota geng motor bernama Ragil Jawara dengan hukuman 20 tahun
HUKUM DAN KRIMINAL
Oleh Dahlan IskanDOR!Mungkin tidak ada yang tewas oleh tembakan Presiden Prabowo di sidang pleno DPR kemarin. Tapi yang terluka pasti banya
OPINI
MEDAN Ratusan peserta dari kalangan mahasiswa, dosen, aktivis, hingga masyarakat umum menghadiri kegiatan nonton bareng (nobar) dan disk
SENI DAN BUDAYA
MEDAN Gubernur Sumatera Utara (Sumut) Muhammad Bobby Afif Nasution menjajaki kerja sama dengan RS AnNisa untuk menghadirkan layanan kes
PEMERINTAHAN
MEDAN Gubernur Sumatera Utara (Sumut) Muhammad Bobby Afif Nasution menghadiri rapat arahan Kepala Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rek
PEMERINTAHAN
MEDAN Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas memaparkan sejumlah capaian transformasi layanan kesehatan di Kota Medan saat menerima ku
PEMERINTAHAN