BREAKING NEWS
Kamis, 22 Januari 2026

Alam Berteriak di Bagian Barat Indonesia dan Kita Perlu Mendengar

BITV Admin - Rabu, 03 Desember 2025 07:34 WIB
Alam Berteriak di Bagian Barat Indonesia dan Kita Perlu Mendengar
Warga mengamati kayu-kayu gelondongan yang terdampar pascabanjir bandang di Desa Aek Garoga, Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, Sabtu (29/11). (foto: Antara)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

Oleh:Junaidi Ibnurrahman.

BANJIR dan longsor yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat akhir November ini bukan sekadar peristiwa alam, melainkan titik kulminasi dari kerusakan lingkungan yang telah berlangsung lama.

Bencana ini adalah cermin besar yang menampilkan wajah relasi kita dengan bumi—relasi yang retak, pincang, dan kehilangan keseimbangan.

Baca Juga:

Curah hujan ekstrem mungkin menjadi sebab langsung, namun akar persoalannya jauh lebih dalam. Manusia telah menutup telinga dari pesan ekologis yang diberikan oleh alam itu sendiri.

Menurut data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), banjir dan longsor yang terjadi di tiga wilayah bagian barat Indonesia tersebut, telah menelan ratusan korban jiwa, puluhan orang hilang dan ribu orang terpaksa mengungsi.

Dalam pandangan seorang filsuf muslim sekaligus sufi terkemuka abad ke 12, Ibnu 'Arabi, alam adalah manifestasi dari tajalli Ilahi.

Setiap batu, sungai, tanah, pepohonan, dan gunung merupakan bentuk pernyataan Tuhan tentang keberadaan-Nya. Maka merusak alam berarti merusak "teks" yang sedang Tuhan bacakan kepada manusia.

Ketika hutan Aceh gundul, ketika aliran sungai di Sumatera Barat disempitkan demi pembangunan, atau ketika tanah Sumatera Utara kehilangan daya dukungnya akibat eksploitasi, yang rusak bukan hanya ekosistem melainkan keselarasan kosmik.

Bencana kemudian menjadi semacam "reaksi balik" dari ketidakseimbangan wujud itu sendiri.

Bagi Ibnu 'Arabi, bencana bukan hukuman, melainkan isyarat ontologis: alam sedang berbicara, mengingatkan manusia bahwa mereka telah salah memahami posisi sebagai khalifah atau penjaga.

Nampaknya tidak berlebihan jika selama ini "kita lebih sibuk menjadi penguasa daripada penjaga."

Berbicara bencana ekologis, seorang filsuf Muslim kontemporer asal Iran, Seyyed Hossein Nasr, telah lama mengingatkan kita. Nasr melihat akar krisis ekologis pada hilangnya kesadaran sakral dalam memandang dunia.

Editor
: Adelia Syafitri
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Prakiraan Cuaca Sumut Hari Ini, Rabu 3 Desember 2025: Sejumlah Wilayah Diguyur Hujan Ringan
Prakiraan Cuaca Aceh Hari Ini, Rabu 3 Desember 2025: Sejumlah Wilayah Diguyur Hujan
BNPB: Korban Banjir dan Longsor di Aceh, Sumut, dan Sumbar Capai 708 Orang Meninggal dan 499 Hilang
LBH Medan Desak Presiden Prabowo Tetapkan Banjir dan Longsor di Aceh, Sumut, dan Sumbar Sebagai Bencana Nasional
Polda Aceh dan Bapanas Sidak Pangan Pascabanjir, Pantau Harga dan Antisipasi Penimbunan
Korban Bencana Tapanuli Tengah Minta Alat Berat, Gubernur Bobby Pastikan Upaya Cepat
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru