Kemarau Panjang Hantam Tanjab Timur, Warga Perdalam Sumur demi Bertahan Dapatkan Air Bersih
TANJAB TIMUR Musim kemarau yang melanda Kabupaten Tanjung Jabung Timur mulai berdampak pada ketersediaan air bersih. Sejumlah warga di K
PERISTIWA
Masalahnya, praktik unilateralisme tidak berlangsung dalam ruang hampa. Seperti diingatkan Hedley Bull, tatanan internasional bertumpu pada kesepakatan bersama mengenai aturan, norma, dan institusi yang membatasi penggunaan kekuatan demi menjaga ketertiban global (The Anarchical Society: A Study of Order in World Politics, 1977).
Ramifikasi serangan unilateral Amerika Serikat terhadap Venezuela-apa pun justifikasi politik-keamanannya-tidak berhenti pada konflik di kawasan Amerika Latin semata.
Ia menciptakan resonansi geopolitik yang jauh melampaui kawasan: lahirnya preseden berbahaya bahwa kekuatan militer dapat digunakan secara sepihak tanpa mandat kolektif internasional, PBB.
Dalam dunia yang semakin terfragmentasi oleh rivalitas kekuatan besar, preseden semacam ini mudah direplikasi oleh negara lain.
Membayang di depan mata, kemungkinan Rusia menggunakan invasi AS untuk melegitimasi pendudukannya atas Ukraina dan kawasan Eropa Timur; Arab Saudi untuk membenarkan intervensinya yang berkepanjangan di Yaman dan di kawasan Timur Tengah; atau China memperkuat klaim koersif-nya atas Taiwan dan negara-negara yang bersengketa dengannya di Laut China Selatan.
Apa dampak unilateralisme regional seperti ini (andai memang terjadi) pada tatanan internasional?
Preseden unilateralisme yang dipertontonkan AS menyingkap krisis mendasar dalam rules-based international order yang selama ini diklaim sebagai fondasi stabilitas global pasca-Perang Dunia II.
Ketika negara kuat memilih bertindak di luar mekanisme multilateral-melangkahi Dewan Keamanan PBB, dan menafsirkan hukum internasional secara sepihak-aturan global kehilangan marwahnya sebagai norma bersama. Ia berubah menjadi instrumen politik kekuasaan.
Runtuhnya tatanan berbasis aturan bukan karena ketiadaan norma. Tapi lebih karena inkonsistensi penerapannya: tegas terhadap negara lemah, lentur terhadap negara kuat.
Inilah paradoks yang kian menggerus legitimasi hukum internasional di mata dunia.
Tatkala hukum internasional dilecehkan, maka dunia akan menyaksikan meluasnya praktik unilateralisme: dari unilateral regional menjadi unilateralisme global.
Lantas muncul pertanyaan: apa yang bisa dilakukan negara berkembang, termasuk Indonesia, untuk mencegah berkembangnya unilateralisme regional menjadi unilateralisme global?
TANJAB TIMUR Musim kemarau yang melanda Kabupaten Tanjung Jabung Timur mulai berdampak pada ketersediaan air bersih. Sejumlah warga di K
PERISTIWA
ACEH BESAR Kekeringan yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Aceh Besar semakin mengkhawatirkan. Selain mengancam sektor pertanian,
PERISTIWA
SURAKARTA Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli menegaskan komitmen pemerintah untuk terus memperkuat perlindungan, kesejahteraan,
NASIONAL
PAPUA Prajurit TNI kembali menunjukkan komitmennya dalam menjalankan misi kemanusiaan di wilayah terpencil. Di tengah medan pegunungan y
NASIONAL
JAKARTA Koalisi Masyarakat Sipil Penyelamatan Ombudsman meminta proses pengisian kekosongan Anggota Ombudsman Republik Indonesia tidak sek
NASIONAL
JAKARTA Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa optimistis kinerja penerimaan pajak pada 2026 akan jauh lebih baik dibandingkan tah
EKONOMI
JAKARTA Badan Gizi Nasional (BGN) masih menginvestigasi penyebab dugaan keracunan yang menimpa 707 siswa dan guru SMKN 6 Semarang, Jawa Te
KESEHATAN
JAKARTA Harga logam mulia berupa emas diperkirakan masih akan bergerak fluktuatif pada perdagangan pekan depan. Pergerakan ini didorong ol
EKONOMI
JAKARTA Tiga tim telah resmi tersingkir dari ASEAN Championship 2026 atau Piala AFF 2026, terdiri dari dua tim di Grup A dan satu tim di G
OLAHRAGA
JAKARTA Badan Gizi Nasional (BGN) memberhentikan sementara (suspend) Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Karangturi usai kasus dugaan k
PERISTIWA