Medan Raih Sertifikat IDSD 2025 dari BRIN, Bukti Daya Saing Daerah Meningkat
JAKARTA Pemerintah Kota Medan menerima Sertifikat Kategori Indeks Daya Saing Daerah (IDSD) Tahun 2025 dari Badan Riset dan Inovasi Nasio
PEMERINTAHAN
Oleh: Laksamana Muflih Iskandar Hasibuan, Lc, MAg, M.A.
PENDIDIKAN nasional kita hari ini berada pada persimpangan penting. Di satu sisi, berbagai kebijakan terus didorong untuk meningkatkan mutu akademik, literasi, dan daya saing global.
Di sisi lain, kita dihadapkan pada kenyataan yang tidak kalah serius: menguatnya individualisme, menurunnya kepekaan sosial, serta rapuhnya etika pergaulan di kalangan pelajar.Baca Juga:
Fenomena perundungan, kekerasan di sekolah, dan polarisasi sikap keagamaan menjadi tanda bahwa pendidikan belum sepenuhnya berhasil membentuk manusia yang utuh.
Dalam konteks inilah, nilai ukhuwah Islamiyah perlu dihadirkan kembali sebagai fondasi pendidikan, bukan sekadar wacana normatif, tetapi sebagai orientasi praksis. Al-Qur'an menegaskan secara lugas, "Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara" (QS Al-Hujurat: 10).
Pernyataan ini tidak bersifat simbolik, melainkan menegaskan bahwa persaudaraan adalah konsekuensi langsung dari iman dan harus tercermin dalam seluruh aspek kehidupan, termasuk dunia pendidikan.
Sayangnya, dalam praktik pendidikan, termasuk di sekolah-sekolah Islam, ukhuwah sering berhenti sebagai materi pelajaran atau slogan kegiatan seremonial.
Ia belum sepenuhnya menjelma menjadi budaya sekolah. Akibatnya, kita menyaksikan ironi: sekolah yang religius secara formal, tetapi miskin empati sosial; peserta didik yang terampil menghafal, tetapi gagap membangun relasi yang sehat dengan sesama.
Pendidikan dasar dan menengah sesungguhnya merupakan fase paling menentukan dalam pembentukan karakter. Nilai persaudaraan, empati, dan kepedulian sosial tidak dapat ditanamkan secara instan ketika seseorang telah dewasa.
Ia harus dibiasakan sejak dini, melalui lingkungan belajar yang aman, inklusif, dan manusiawi. Jika sekolah gagal menjadi ruang aman bagi tumbuhnya ukhuwah, maka peserta didik akan belajar kompetisi yang kering nilai, bahkan konflik, sebagai bagian dari keseharian.
Dalam konteks pendidikan nasional, tantangan ini semakin kompleks dengan kehadiran media digital. Anak-anak dan remaja hari ini tumbuh dalam arus informasi yang deras, sering kali tanpa pendampingan nilai yang memadai.
Polarisasi pandangan, ujaran kebencian, dan sikap eksklusif dengan mudah masuk ke ruang kelas. Sekolah tidak boleh hanya menjadi tempat transmisi pengetahuan, tetapi harus menjadi ruang penjernihan nilai.
Bagi Muhammadiyah, persoalan ini memiliki dimensi ideologis yang kuat. Sejak awal berdirinya, Muhammadiyah menempatkan pendidikan sebagai sarana pencerahan dan pembebasan.
Melalui Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen), Muhammadiyah mengelola ribuan sekolah yang sejatinya bukan hanya institusi akademik, tetapi juga ruang pembentukan karakter kebangsaan dan keislaman.
Ukhuwah Islamiyah, dalam hal ini, bukanlah nilai tambahan, melainkan ruh dari pendidikan itu sendiri.
Rasulullah SAW memberikan gambaran yang sangat relevan ketika menyamakan kaum mukminin dengan satu tubuh. Jika satu bagian merasakan sakit, bagian lain turut merasakannya.
Metafora ini mengajarkan bahwa ketidakpedulian terhadap penderitaan orang lain, termasuk di lingkungan sekolah, adalah tanda rusaknya kesadaran moral.
Pendidikan yang membiarkan perundungan, diskriminasi, atau kekerasan simbolik berarti gagal menjalankan mandat kemanusiaannya.
Karena itu, penguatan ukhuwah harus diterjemahkan secara konkret dalam kebijakan dan praktik pendidikan. Kurikulum perlu memberi ruang lebih besar bagi pendidikan karakter yang hidup, bukan sekadar normatif.
Guru harus diposisikan bukan hanya sebagai pengajar, tetapi sebagai teladan etika sosial. Sekolah perlu membangun iklim belajar yang menumbuhkan kerja sama, saling menghargai, dan kepedulian terhadap yang lemah.
Al-Qur'an telah mengingatkan bahwa konflik internal hanya akan melahirkan kelemahan dan hilangnya kekuatan (QS Al-Anfal: 46). Peringatan ini relevan tidak hanya dalam konteks umat, tetapi juga dalam dunia pendidikan.
Sekolah yang kehilangan semangat persaudaraan akan kehilangan daya hidupnya, betapapun lengkap fasilitas dan kurikulumnya.
Pada akhirnya, masa depan pendidikan nasional, termasuk pendidikan Muhammadiyah, tidak hanya ditentukan oleh capaian akademik, tetapi oleh keberhasilannya membentuk manusia yang berkarakter, berempati, dan mampu hidup bersama dalam perbedaan.
Ukhuwah Islamiyah, jika dipahami dan dihidupkan secara sungguh-sungguh, dapat menjadi fondasi kuat bagi lahirnya generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga matang secara moral dan sosial.*
*) Penulis adalahMahasiswa Program Doktor UIN Syarif Hidayatullah - Jakarta.
JAKARTA Pemerintah Kota Medan menerima Sertifikat Kategori Indeks Daya Saing Daerah (IDSD) Tahun 2025 dari Badan Riset dan Inovasi Nasio
PEMERINTAHAN
MEDAN Medan Urban Runway yang digelar di Atrium Sun Plaza, Selasa (24/2/2026), mendapat apresiasi langsung dari Ketua Dekranasda Kota Me
EKONOMI
BATAM Menteri Ketenagakerjaan Yassierli menargetkan Program Pemagangan Nasional (MagangHub) 2026 menjangkau seluruh provinsi di Indonesi
EKONOMI
NIAS SELATAN Suara tangis balita yang hendak diimunisasi terdengar seperti biasa di sejumlah Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) di Kecamat
KESEHATAN
DENPASAR Polda Bali melalui Satgas Saber Pangan melakukan pengecekan dan monitoring harga bahan pokok di sejumlah titik distribusi dan p
EKONOMI
BADUNG Kepala Kepolisian Daerah Bali, Irjen Pol. Daniel Adityajaya, menghadiri peresmian Kantor U.S. Consular Agency Bali yang berlokasi
NASIONAL
GIANYAR Wakapolres Gianyar, Kompol Willa Jully Nendissa, melakukan pengecekan langsung ke ruang pelayanan Sentra Pelayanan Kepolisian Te
NASIONAL
GIANYAR Polres Gianyar menggelar Apel Siaga Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Sitkamtibmas) menjelang Ramadan 2026, Rabu (25/2/2026),
NASIONAL
TAPUT BupatiTapanuli Utara, Dr. Jonius Taripar Parsaoran Hutabarat, S.Si., M.Si, meninjau hari terakhir Pemusatan Pelatihan Persiapan Se
PEMERINTAHAN
DELI SEDRANG Bupati Deli Serdang, Asri Ludin Tambunan, menekankan bahwa bulan Ramadan bukan hanya momentum meningkatkan ibadah spiritual
PEMERINTAHAN