Mens Rea memposisikan dirinya sebagai komedi reflektif dengan meminjam istilah hukum pidana (mens rea) atau niat batin sebagai kerangka kritik.
Dalam poin ini, Pandji sebagai seorang comedian Indonesia yang dikenal vokal dan kritis tidak hanya sedang memberikan hiburan kepada penonton, melainkan dibalut dengan kritik-kritikan tajam yang membuat target kelabakan.
Mens Rea adalah bukan sebatas panggung hiburan yang mencipta tawa, tapi juga medium yang bertujuan mengajak penonton berpikir kritis, skeptis, dan konfrontatif.
Salah satu kontroversi yang coba disorot publik adalah materi tentang kritik terhadap Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Yang dipersoalkan beberapa pihak, bukan karena kritik publik yang dilepaskan Pandji, melainkan serangan ke ranah privasi.
Mereka tidak keberatan jika Pandji mengritik apa yang menjadi ranah kritik publik (kinerja, jabatan, performasi, capaian, program, kebijakan, dll.).
Namun, yang dipersoalkan adalah mengapa harus ranah privasi yang "ditelanjangi".
Bahkan dalam alam demokrasi yang memberikan ruang kebebasan yang longgar bagi siapapun untuk berbicara dan menyampaikan kritikan, ruang privasi tetap menjadi hal yang tidak bisa dimasuki atau dikorek seseorang.
Dalam perspektif etika publik, memang seorang pejabat negara tidak bisa lepas dari kritik sosial.
Justru perlu dipertanyakan ketika pejabat alergi terhadap kritikan. Namun, terkadang ada orang-orang yang memanfaatkan saluran kebebasan demi menyerang ruang privasi seseorang.
Dalam konteks ruang privasi inilah sebetulnya alasan utama mengapa ada sebagian pihak yang keberatan terhadap materi komedi Pandji itu.
Mereka berharap Pandji tetap menjaga etika publik saat berbicara di ruang publik. Karena, betapapun demokrasi memberikan ruang untuk ekspresi sosial, tetap ada batasan-batasan normatif, moral, dan etis yang harus dijaga.