Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Indonesia Prabowo Subianto dalam Worl Economic Foum (WEF) 2026, Davos, Swiss, (22/1/2026). (foto: presidenrepublikindonesia/ig)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
DUNIA hari ini bergerak dalam ketidakpastian yang nyaris sistemik. Bukan semata karena konflik bersenjata, tetapi karena cara kekuasaan global dijalankan tanpa peta yang jelas.
Di pusat pusaran itu, Donald Trump kembali menjadi figur kunci, bukan sekadar sebagai Presiden Amerika Serikat, melainkan sebagai simbol perubahan watak kepemimpinan global: konfrontatif, transaksional, dan sulit ditebak.
Di bawah semboyan America First, Trump mengubah wajah diplomasi Amerika Serikat dari kepemimpinan normatif menjadi politik tekanan terbuka. Perang dagang menjadi pintu masuknya.
Tarif impor dijadikan senjata utama untuk memaksa mitra dagang tunduk pada kepentingan ekonomi AS. Hampir semua negara merasakannya, sekutu dekat maupun mitra strategis.
Indonesia adalah salah satu contoh nyata. Ancaman tarif hingga 32 persen memaksa pemerintah melakukan negosiasi intensif demi menurunkannya menjadi 19 persen.
Pola serupa dialami Kanada, Meksiko, Uni Eropa, dan Jepang. Pesannya jelas: hubungan dagang tidak lagi soal kemitraan jangka panjang, melainkan negosiasi berbasis tekanan.
Namun, Trump tidak berhenti di perdagangan. Politik luar negerinya bergerak zig-zag dan kerap tampak absurd. Venezuela, Iran, Terusan Panama, hingga Greenland tiba-tiba masuk dalam daftar kepentingan strategis AS.
Kasus Venezuela menjadi preseden berbahaya ketika Presiden Nicolas Maduro "diambil paksa" untuk diadili atas tuduhan narcoterrorism, sebuah langkah yang mengabaikan prinsip kedaulatan dan etika hukum internasional.
Greenland pun tak luput. Di balik retorika keamanan, tersimpan kepentingan penguasaan rare earth minerals, bahan strategis bagi teknologi masa depan dan industri persenjataan.
Trump mengirim sinyal bahwa Amerika Serikat siap mengusik bahkan sekutu lamanya sendiri demi kepentingan strategis jangka panjang. Dunia yang Makin Sulit Dibaca
Kesulitan terbesar dunia hari ini adalah membaca arah Trump. Ia bisa menjadi ancaman dalam satu isu, tetapi tampil sebagai negosiator damai di isu lain.