BREAKING NEWS
Senin, 26 Januari 2026

IKN Nusantara: Dari Ibu Kota Politik Menuju Polis

BITV Admin - Senin, 26 Januari 2026 07:54 WIB
IKN Nusantara: Dari Ibu Kota Politik Menuju Polis
Presiden Prabowo Tiba di Ibu Kota Nusantara (IKN), Penajam Paser Utara, 12 Januari 2026. (foto: tangkapan layar yt setpres)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

Namun, sejarah juga mengajarkan bahwa tidak semua ibu kota politik otomatis menjadi kota yang hidup. Brasília, misalnya, sering dikritik sejak dekade 1970-an sebagai kota yang gagal membangun kehidupan urban yang inklusif; ia megah secara simbolik, tetapi terfragmentasi secara sosial.

Canberra pun lama dicap sebagai kota birokrat sejak pertengahan abad ke-20 yang sunyi di luar jam kerja. Di titik inilah peringatan bagi IKN menjadi relevan: fungsi politik hanya embrio, bukan jaminan.

IKN saat ini berada pada fase embrional tersebut. Menetapkannya sebagai ibu kota politik seharusnya dibaca sebagai fase awal konsolidasi negara, bukan tujuan akhir.

Risiko kota hantu bukan terletak pada status politiknya, melainkan pada kegagalan menjadikan fungsi politik itu sebagai katalis bagi kehidupan sosial, ekonomi, dan kultural yang lebih luas.

Mendorong IKN Bertumbuh sebagai Polis

Agar IKN bergerak dari ibu kota politik menuju polis, setidaknya ada tiga prasyarat strategis. Pertama, diversifikasi fungsi ekonomi. IKN tidak boleh bergantung semata pada belanja negara dan kehadiran ASN.

Pengembangan ekonomi berbasis riset, pendidikan tinggi, industri hijau, dan ekonomi kreatif harus menjadi prioritas agar kota ini menarik bagi penduduk non-birokrat.

Teori urban economic base (North, 1955) menunjukkan bahwa kota yang hanya bergantung pada satu sektor, terutama sektor administrasi, rentan stagnasi.

Kota yang berkelanjutan justru tumbuh dari basis ekonomi yang beragam, memungkinkan munculnya lapangan kerja non-negara dan ekosistem usaha lokal yang adaptif.

Kedua, pembangunan ruang hidup yang inklusif. Hunian terjangkau, transportasi publik yang manusiawi, serta ruang publik yang mendorong interaksi sosial perlu dipercepat, bukan sekadar bangunan simbolik pemerintahan.

Kota hidup bukan diukur dari megahnya istana, melainkan dari ramainya trotoar, pasar, dan taman kota.

Pendekatan human-centered city (Gehl, 2010) menekankan bahwa kualitas kota ditentukan oleh pengalaman sehari-hari warganya. Tanpa akses hunian dan mobilitas yang adil, kota berisiko menjadi eksklusif dan terfragmentasi, menjauh dari esensi polis sebagai ruang hidup bersama.

Ketiga, membuka ruang partisipasi warga sejak dini. Polis tumbuh dari rasa memiliki. Jika IKN terus dibangun secara top-down, ia berisiko menjadi kota proyek, bukan kota warga.

Keterlibatan komunitas, universitas, dan inisiatif sipil perlu didorong agar IKN memiliki dinamika sosial yang otentik.

Editor
: Adelia Syafitri
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Robi Barus: Kader Militan PDIP yang Terancam Terbuang
Tragis! Dua Polisi Tewas Terhimpit Truk TNI Saat Menuju Lokasi Longsor Cisarua
KPDBU Rumah Sakit Internasional Dibahas, Asahan Target Jadi Pusat Kesehatan Pantai Timur Sumut
BCA Hadirkan KUR 2026 untuk UMKM: Plafon Rp100–500 Juta, Suku Bunga 6% Tanpa Biaya Administrasi!
Bupati Labusel Serahkan Bantuan UMKM bagi Penyandang Disabilitas, Tekankan Kemandirian Ekonomi dan Kesetaraan
Realisme Global, Dunia (Tak) di Ambang Perang
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru