Namun, sejarah juga mengajarkan bahwa tidak semua ibu kota politik otomatis menjadi kota yang hidup. BrasÃlia, misalnya, sering dikritik sejak dekade 1970-an sebagai kota yang gagal membangun kehidupan urban yang inklusif; ia megah secara simbolik, tetapi terfragmentasi secara sosial.
Canberra pun lama dicap sebagai kota birokrat sejak pertengahan abad ke-20 yang sunyi di luar jam kerja. Di titik inilah peringatan bagi IKN menjadi relevan: fungsi politik hanya embrio, bukan jaminan.
IKN saat ini berada pada fase embrional tersebut. Menetapkannya sebagai ibu kota politik seharusnya dibaca sebagai fase awal konsolidasi negara, bukan tujuan akhir.
Risiko kota hantu bukan terletak pada status politiknya, melainkan pada kegagalan menjadikan fungsi politik itu sebagai katalis bagi kehidupan sosial, ekonomi, dan kultural yang lebih luas. Mendorong IKN Bertumbuh sebagai Polis Agar IKN bergerak dari ibu kota politik menuju polis, setidaknya ada tiga prasyarat strategis. Pertama, diversifikasi fungsi ekonomi. IKN tidak boleh bergantung semata pada belanja negara dan kehadiran ASN.
Pengembangan ekonomi berbasis riset, pendidikan tinggi, industri hijau, dan ekonomi kreatif harus menjadi prioritas agar kota ini menarik bagi penduduk non-birokrat.
Teori urban economic base (North, 1955) menunjukkan bahwa kota yang hanya bergantung pada satu sektor, terutama sektor administrasi, rentan stagnasi.
Kota yang berkelanjutan justru tumbuh dari basis ekonomi yang beragam, memungkinkan munculnya lapangan kerja non-negara dan ekosistem usaha lokal yang adaptif.
Kedua, pembangunan ruang hidup yang inklusif. Hunian terjangkau, transportasi publik yang manusiawi, serta ruang publik yang mendorong interaksi sosial perlu dipercepat, bukan sekadar bangunan simbolik pemerintahan.
Kota hidup bukan diukur dari megahnya istana, melainkan dari ramainya trotoar, pasar, dan taman kota.
Pendekatan human-centered city (Gehl, 2010) menekankan bahwa kualitas kota ditentukan oleh pengalaman sehari-hari warganya. Tanpa akses hunian dan mobilitas yang adil, kota berisiko menjadi eksklusif dan terfragmentasi, menjauh dari esensi polis sebagai ruang hidup bersama.
Ketiga, membuka ruang partisipasi warga sejak dini. Polis tumbuh dari rasa memiliki. Jika IKN terus dibangun secara top-down, ia berisiko menjadi kota proyek, bukan kota warga.
Keterlibatan komunitas, universitas, dan inisiatif sipil perlu didorong agar IKN memiliki dinamika sosial yang otentik.