John Herdman Optimistis, Lini Serang Timnas Indonesia Siap Lebih Menghibur
JAKARTA Pelatih anyar Timnas Indonesia, John Herdman, menyatakan optimisme soal kemampuan lini serang Garuda menjelang laga FIFA Series
OLAHRAGA
Oleh:Didiek Hadjar Goenadi
BERBAGAI komentar negatif terus dinarasikan dalam beberapa bulan terakhir ini terkait dengan komoditas nonmigas andalan utama ekonomi nasional, yakni kelapa sawit. Komentar di berbagai fora cetak dan elektronik yang 'mengadili' perkebunan kelapa sawit makin gencar.
Apalagi setelah ada bencana banjir di berbagai provinsi akhir-akhir ini, seiring dengan meningkatnya intensitas perubahan iklim yang memicu curah hujan berlebih di berbagai wilayah Indonesia. Respons yang lebih ilmiah dari beberapa ilmuwan dalam menjelaskan fenomena alami tersebut seolah tenggelam, tergulung oleh narasi diskriminasi terhadap komoditas ini.Baca Juga:
CITRA BURUK TANAMAN KELAPA SAWIT
Tanaman kelapa sawit secara spesies tergolong tanaman asal hutan meskipun di Indonesia oleh undang-undang tidak digolongkan sebagai tanaman hutan--padahal tanaman palma sejenis seperti aren dimasukkan sebagai tanaman hutan.
Dengan kemajuan yang sangat pesat, baik dari aspek luasan maupun produktivitas minyak nabati, tentu dapat dipahami bahwa kondisi itu memicu kepanikan negara-negara penghasil minyak nabati asal kedelai, rapeseed, canola, dan jagung.
Dengan tingkat produktivitas minyak yang tinggi (5-7 ton minyak/hektare/tahun), kelapa sawit dapat menunjukkan sebagai tanaman penghasil minyak nabati paling efisien di dunia jika dibandingkan dengan komoditas lainnya (1,0-1,5 ton/ hektare /tahun).
Artinya, untuk menghasilkan satu ton minyak kelapa sawit hanya perlu luasan lahan seperlima daripada yang dibutuhkan untuk tanaman minyak nabati lainnya. Sebelum beberapa tahun terakhir, harga minyak kelapa sawit selalu di bawah harga minyak nabati lain.
Namun, dengan kelangkaan pasokan, harga minyak kelapa sawit menjadi yang paling mahal di antara pesaingnya akibat anjloknya produksi.
Beragam keunggulan itu memicu sentimen negatif terhadap komoditas ini, yang tentunya sudah bisa diduga siapa pemicunya.
Berbagai tuduhan dilontarkan terkait dengan dampak negatif terhadap lingkungan, seperti pemicu deforestasi, konsumsi air yang boros, menggusur habitat satwa langka, serta memicu emisi gas rumah kaca (GRK), juga konflik penguasaan lahan.
Tuduhan tersebut tentu hanya dapat ditangkal dengan data untuk menyanggahnya sekaligus menggugurkan narasi diskriminatif yang dilontarkan.
JAKARTA Pelatih anyar Timnas Indonesia, John Herdman, menyatakan optimisme soal kemampuan lini serang Garuda menjelang laga FIFA Series
OLAHRAGA
JAKARTA Penyerahan jabatan Kepala Badan Intelijen Strategis (Kabais) TNI, Letnan Jenderal Yudi Abrimantyo, buntut kasus penyiraman air ke
POLITIK
MEDAN Proyek revitalisasi Lapangan Merdeka Medan hingga kini belum rampung sepenuhnya, meski sebelumnya Pemerintah Kota Medan menargetka
PEMERINTAHAN
BINJAI Sebuah video yang memperlihatkan seorang pria mengisap narkoba jenis sabusabu di halaman rumah warga Kota Binjai, Sumatera Utara
HUKUM DAN KRIMINAL
JAKARTA Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) melakukan kunjungan ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta Pusat, untu
HUKUM DAN KRIMINAL
JAKARTA Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 138,03 poin atau 1,89 persen ke level 7.164 pada perdagangan Kamis (26/3/2026)
EKONOMI
MEDAN Tekanan terhadap personel Polda Sumatera Utara berinisial Iptu VTG meningkat. Kuasa hukum terpidana Rahmadi, Ronald M. Siahaan, me
HUKUM DAN KRIMINAL
JAKARTA Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim dijadwalkan mengunjungi Indonesia pada 27 Maret 2026 untuk bertemu dengan Presiden Prabowo
INTERNASIONAL
JAKARTA Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan, gejolak harga minyak dunia akibat konflik antara Amerika Serikat dan Israel me
EKONOMI
JAKARTA Iran mulai membuka akses Selat Hormuz bagi kapalkapal dari negara tertentu yang dianggap sahabat. Dalam pernyataan resmi Konsul
INTERNASIONAL