BREAKING NEWS
Senin, 13 April 2026

Ikhtiar Prabowo dan Harapan di Tengah Jeda Perang AS-Israel Vs Iran

BITV Admin - Sabtu, 11 April 2026 08:59 WIB
Ikhtiar Prabowo dan Harapan di Tengah Jeda Perang AS-Israel Vs Iran
Presiden RI Prabowo Subianto. (foto: BPMI Setpres)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

Oleh:Bambang Soesatyo.

DI tengah dinamika dunia yang masih diliputi ketidakpastian saat ini, di mana logistik global belum kembali normal, lead time, biaya asuransi, dan biaya pelayaran masih tinggi dan mata rantai pasok belum pulih serta ketidakpastian energi masih besar, selalu saja ada benih-benih pengharapan akan hari esok yang lebih baik.

Untuk itu, dibutuhkan inisiatif yang bijak dan berani untuk mengakhiri periode suram sekarang.

Baca Juga:

Kendati berselimutkan sejumlah masalah, Indonesia tetap memiliki potensi dan benih untuk mewujudkan hari esok yang baik berkat komitmen Investasi yang diraih Presiden Prabowo Subianto dari rangkaian kunjungan kerjanya ke sejumlah negara.

Hari-hari ini, banyak komunitas di sejumlah negara harus menjalani masa-masa sulit karena berbagai alasan, utamanya akibat perang. Tak terkecuali segenap masyarakat Indonesia. Sejak Maret 2026, sudah 85 negara harus menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM).

Sudah barang tentu alasan utama kenaikan harga BBM itu adalah gangguan pasok akibat ditutupnya jalur utama distribusi minyak dunia, Selat Hormuz.

Dua minggu gencatan senjata dalam perang Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran memang sudah diberlakukan. Tetapi gencatan senjata itu belum akan segera mengubah keadaan, karena belum ada kesepakatan terkait akses lalu lintas di Selat Hormuz.

Artinya, kesepakatan itu tidak mengubah derajat ketidakpastian sekarang ini karena pihak yang berperang masih saja saling meneriakkan ancaman.

Apalagi kita mendengar dari balik layar monitor publik dunia, informasi adanya upaya aksi sabotase bawah laut, di mana Intelijen taktis mencatat adanya penggunaan Unmanned Underwater Vehicles (UUV) yang tidak teridentifikasi yang telah merusak kabel serat optik bawah laut dan jalur pipa di sekitar pelabuhan Fujairah.

Ini bukan sekadar blokade kapal, ini adalah upaya pemutusan saraf komunikasi logistik. Barangkali inilah yang menjelaskan mengapa Perusahaan asuransi maritim seperti Lloyd's dan lain-lain menaikkan premi risiko perang ke level yang sangat tinggi.

Indonesia memang tidak atau belum menaikkan harga BBM. Tetapi situasi di kawasan Teluk itu tetap saja berpotensi mengeskalasi masalah yang tak bisa dihindari. Sebelum perang dimulai, Indonesia sudah dihadapkan pada sejumlah persoalan.

Setelah defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) lebih dari Rp 240 triliun pada kuartal pertama 2026, kini APBN semakin tertekan karena harus menanggung lonjakan biaya subsidi sebagai konsekuensi logis dari lonjakan harga minyak dunia.

Editor
: Adelia Syafitri
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Cara Ajukan KUR BCA 2026 Rp100 Juta, Ini Syarat hingga Tabel Angsurannya!
Bupati Asahan Ajak Pemuda IPK Perkuat Soliditas dan Dukung Pembangunan Daerah
Bahlil Lahadalia Heran BBM Tak Naik Diprotes, Singgung Respons Publik: “Bingung Saya”
Bobby Nasution Kebut Pemulihan Tapteng, Infrastruktur dan Huntap Jadi Prioritas
Satgas PKH Selamatkan Rp31,3 Triliun, Seskab Sebut Bukti Nyata Pemerintah Prabowo Subianto Berantas Korupsi
Dimarahi Presiden Prabowo, Menteri PU Tetap Ngebut Bangun Dam Saat Tanggap Darurat
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru