Trauma Insiden Joget Tahun Lalu, DPD Pastikan Sidang Tahunan MPR 2026 Lebih Khidmat
JAKARTA Ketua DPD RI Sultan B. Najamuddin memastikan tidak akan ada lagi lagu yang dapat memicu anggota DPR maupun DPD berjoget dalam Si
POLITIK
Oleh: KRISNA
DI atas kertas, ekonomi Indonesia terlihat stabil. Pemerintah berbicara tentang pertumbuhan ekonomi, hilirisasi, bonus demografi, dan mimpi menjadi negara maju 2045.
Namun di balik optimisme itu, ada satu kenyataan yang terus membesar dari tahun ke tahun:
utang negara terus naik, bunga utang membengkak, dan APBN makin tergantung pada pinjaman baru.
Per akhir 2025, total utang pemerintah Indonesia diperkirakan sudah mencapai sekitar Rp9.600 triliun dengan rasio sekitar 40 persen terhadap PDB. Pemerintah menyebut angka itu masih aman.
Tetapi rakyat mulai bertanya:
aman untuk siapa?
Karena di saat negara mengatakan fiskal sehat, masyarakat justru menghadapi:
pajak makin tinggi,
harga kebutuhan naik,
daya beli melemah,
lapangan kerja sulit,
dan biaya hidup makin menekan kelas menengah.
Negara Hidup dari Pajak, Tapi Separuhnya Habis untuk Utang
Mari lihat angka sebenarnya.
Pendapatan Negara 2025
Total pendapatan negara sekitar:
Rp2.756 triliun
Rinciannya:
Pajak: Rp1.917 triliun
Bea cukai: sekitar Rp300 triliun
PNBP: sekitar Rp534 triliun
Artinya tulang punggung negara tetap rakyat dan dunia usaha melalui pajak.
Tetapi sekarang lihat pengeluaran negara.
Belanja Negara 2025
Total belanja negara diperkirakan mencapai:
Rp3.451 triliun
Defisit APBN:
sekitar Rp695 triliun
Defisit itu ditutup dengan utang baru.
Artinya negara masih membelanjakan uang lebih besar daripada penghasilannya.
Kalau rumah tangga melakukan hal seperti ini terus-menerus, itu disebut:
hidup di atas kemampuan.
Yang Paling Mengerikan Bukan Utangnya — Tapi Bunganya
Banyak orang fokus pada angka Rp9.600 triliun.
Padahal yang lebih berbahaya adalah biaya tahunan untuk menjaga utang itu tetap hidup.
Beban Utang 2025
Bunga utang: sekitar Rp552 triliun
Pokok jatuh tempo: Rp700–800 triliun
Total kewajiban utang tahunan:
sekitar Rp1.300 triliun.
Bandingkan dengan:
anggaran kesehatan,
subsidi rakyat,
atau pembangunan daerah.
Artinya sebagian besar uang negara sekarang bukan dipakai menciptakan masa depan baru, tetapi untuk:
membayar keputusan fiskal masa lalu.
Lebih parah lagi, pemerintah tidak melunasi utang dengan uang tabungan negara, melainkan dengan:
menerbitkan utang baru.
Inilah yang membuat kritik "gali lubang tutup lubang" terus muncul.
Negara Makin Agresif Memungut Pajak
Untuk menjaga APBN tetap hidup, pemerintah membutuhkan penerimaan lebih besar.
Akibatnya:
PPN naik,
target pajak dinaikkan,
UMKM makin dipantau,
transaksi digital diawasi,
kelas menengah jadi sasaran utama.
Sementara itu masyarakat melihat:
korupsi tetap terjadi,
kebocoran anggaran belum hilang,
pejabat hidup mewah,
proyek mercusuar terus berjalan.
Rakyat akhirnya mempertanyakan:
pajak yang dibayar sebenarnya dipakai untuk rakyat atau untuk menutup beban fiskal yang terus membesar?
Infrastruktur Besar, Utang Besar, Risiko Besar
Pemerintah selalu memakai satu narasi:
utang dipakai untuk pembangunan.
Benar, Indonesia membangun banyak:
jalan tol,
bendungan,
pelabuhan,
MRT,
kereta cepat,
hingga Ibu Kota Nusantara (IKN).
Namun pertanyaannya bukan sekadar "ada pembangunan atau tidak."
Pertanyaan besarnya:
apakah semua proyek itu benar-benar prioritas ketika ruang fiskal makin sempit?
IKN menjadi contoh paling kontroversial.
Di saat:
utang naik,
bunga utang membengkak,
dan pajak rakyat diperbesar,
pemerintah tetap menjalankan proyek ratusan triliun rupiah yang manfaat ekonominya masih diperdebatkan.
Pendukung pemerintah menyebut:
investasi jangka panjang.
Namun pengkritik melihat:
simbol ambisi politik yang dibayar dengan risiko fiskal generasi mendatang.
Kalau Indonesia Berhenti Berutang Hari Ini
Mari gunakan simulasi kasar.
Jika total utang Rp9.600 triliun dan pemerintah mampu membayar Rp500 triliun pokok per tahun tanpa menambah utang baru:
Baca Juga:
*)Penulis adalah anak desa kab batubara.
JAKARTA Ketua DPD RI Sultan B. Najamuddin memastikan tidak akan ada lagi lagu yang dapat memicu anggota DPR maupun DPD berjoget dalam Si
POLITIK
JAKARTA Tim kuasa hukum Dokter Tifauzia Tyassuma atau Dokter Tifa menyiapkan sejumlah bukti, saksi, hingga ahli untuk menghadapi sidang
NASIONAL
JAKARTA Presiden Prabowo Subianto mendorong masyarakat beralih dari motor berbahan bakar bensin ke kendaraan listrik. Menurutnya, penggu
EKONOMI
JAKARTA Presiden Prabowo Subianto menyoroti kondisi kemiskinan yang masih dihadapi sebagian masyarakat Indonesia. Meski hidup dalam kete
NASIONAL
JAKARTA Badan Gizi Nasional (BGN) menutup secara permanen 504 dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) di berbagai daerah hingga 10 Agustus 2026
NASIONAL
TANJUNGBALAI Tiga pekerja Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tanjungbalai, Sumatera Utara, mengalami kecelakaan kerja saat menghias tugu
PERISTIWA
JAKARTA Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian meminta seluruh kepala daerah mendukung pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis
NASIONAL
JAKARTA Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah pada perdagangan Kamis (13/8/2026). IHSG turun 72,08 poin atau 1,13 ke level
EKONOMI
JAKARTA Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup stagnan pada perdagangan Kamis (13/8/2026). Berdasarkan data Bloo
EKONOMI
JAKARTA Kejaksaan Agung (Kejagung) mengusut dugaan tindak pidana korupsi terkait praktik transfer pricing yang melibatkan PT Toba Pulp L
HUKUM DAN KRIMINAL