DULU, pertanyaan yang sering terucap adalah, masih adakah sisi kehidupan manusia yang tak tersentuh teknologi digital?
Sejak bangun tidur, sampai tidur lagi kita, langsung bersentuhan dengan perangkat digital. Kini, pertanyaan berkembang lebih spesifik, bisakah pada tahun 2026 ini kita hidup tanpa Artificial Intelligence (AI)?
Pertanyaan menjadi relevan, karena AI kini telah menjadi teknologi paling revolusioner dari ekosistem digital, yang bersentuhan langsung dengan manusia tanpa banyak kita sadari.
Lalu apa yang terjadi jika berhenti berinteraksi dengan AI? Konsekuensi paling nyata yang bisa diprediksi adalah hilangnya efisiensi dan efektivitas waktu, biaya, dan optimalisasi kinerja manusia.
Kita mulai dari perguruan tinggi. Stop interaksi dengan AI akan membuat mahasiswa dan dosen kehilangan search engine seperti Google. Proses pencarian referensi ilmiah secara daring pun tak mudah lagi.
Berbagai aplikasi administrasi dan keungan kampus, dan chatbot AI Generatif yang biasa membantu riset dan proses pembelajaran pun akan terhenti jika kita konsisten menolak berinteraksi dengan AI.
Dalam kehidupan sehari-hari, tanpa AI, taksi online akan lumpuh total. Karena algoritma AI yang biasanya menentukan lokasi penjemputan terdekat, menghitung tarif dinamis, dan mencari rute tercepat akan tak berfungsi.
Pelanggan harus kembali ke metode konvensional. Melakukan pemesanan lewat telepon manual dengan operator dan saluran telekomunikasi terbatas dan penuh nada sibuk.
Harga pun menjadi tidak menentu, dan waktu perjalanan tak terprediksi, karena tanpa rekomendasi rute.
Layanan pesan-antar makanan online juga terhambat, karena AI yang mencocokkan lokasi restoran dengan driver terdekat, mengoptimalkan rute pengiriman, dan memprediksi waktu pengiriman.
Dalam hal medis, AI juga berperan begitu banyak, termasuk layanan medis. Membuat efisensi waktu dan akurasi diagnosis serta tindakan medis signifikan.